Pelayaran Terakhir Lenny Wilkens: Penghormatan untuk Legenda Basket
Kehidupan Lenny Wilkens ditandai oleh pengabdian, kepemimpinan, dan keunggulan—nilai-nilai yang terwujud pada 6 Desember saat Garda Nasional Angkatan Darat Washington memberikan penghormatan terakhir kepada salah satu tokoh basket yang paling berpengaruh dan mantan perwira Angkatan Darat.
Pemakaman yang Khidmat
Wilkens, yang meninggal pada 9 November 2025 di usia 88 tahun, dikebumikan dalam pemakaman keluarga yang sederhana di Sunset Hills Memorial Park, Bellevue, Washington. Atas permintaan keluarga, sebuah Honor Guard dari Garda Nasional Angkatan Darat Washington turut serta dalam upacara tersebut, bertindak sebagai pembawa peti mati, menyerahkan bendera AS kepada keluarga, dan membantu dengan penghormatan lainnya. Gerakan tentara yang tenang mencerminkan penghormatan kepada seorang pria yang hidupnya menggabungkan pengabdian militer dan kejayaan olahraga.
Warisan yang Terpadu antara Militer dan Basket
Menurut Jim Ocon, teman keluarga Wilkens, “Tidak banyak orang yang tahu bahwa Coach Wilkens pernah berada di Angkatan Darat. Banyak yang datang kepada saya setelahnya dan tidak menyangka bahwa pelatih legendaris ini pernah menjalani tugas di militer.”
Karir Wilkens dimulai dengan memasuki NBA pada 1960 bersama St. Louis Hawks, di mana ia diangkat sebagai letnan kedua Angkatan Darat AS dan menjalani tugas dari 1961 hingga 1962 di Fort Lee, Virginia. Selama masa itu, ia menyeimbangkan tanggung jawab kepemimpinan militer dengan atletik profesional, bermain untuk Hawks di akhir pekan.
Pada masa dinasnya, Wilkens awalnya menjabat sebagai petugas eksekutif kompi dan kemudian sebagai komandan kompi, mengembangkan disiplin dan keterampilan kepemimpinan yang kelak mendukung kesuksesan karirnya. Sebelum dan selama dinasnya, Wilkens sudah menunjukkan bakat basket yang luar biasa. Ia menjadi dua kali All-American di Providence College dan bergabung dengan NBA pada 1960, di mana ia menghabiskan delapan musim dengan St. Louis Hawks. Pada 1968, ia menempati posisi kedua dalam pemilihan pemain paling berharga, menegaskan reputasinya sebagai salah satu point guard terbaik di liga.
Karir Pelatih yang Gemilang
Antara 1968 dan 1972, Wilkens melanjutkan karirnya di Seattle sebagai pemain di tim baru, Supersonics, dan meraih penghargaan All-Star selama tiga musim. Di tahun kedua bersamanya, ia mengambil peran ganda sebagai pemain dan pelatih. Ia kemudian melanjutkan karir bermain dengan Cleveland Cavaliers dan Portland Trail Blazers, di mana ia lagi-lagi berperan sebagai pemain-pelatih sebelum sepenuhnya beralih ke dunia kepelatihan.
Setelah satu tahun tidak melatih, ia kembali ke Supersonics pada 1977. Wilkens menjadi legenda olahraga Seattle, memimpin tim meraih satu-satunya gelar NBA pada 1979. Ia kemudian melatih Cleveland Cavaliers, Atlanta Hawks, Toronto Raptors, dan New York Knicks. Pada 1994, ia dianugerahi sebagai NBA Coach of the Year, dan pada 1995 menjadi pelatih dengan kemenangan terbanyak dalam sejarah NBA dengan 939 kemenangan selama 22 musim.
Pengaruh yang Luas di Dalam dan Luar Lapangan
Selama karirnya, pengaruh Wilkens melampaui NBA. Ia menjabat sebagai asisten pelatih untuk tim “Dream Team” AS di Olimpiade 1992 dan menjadi pelatih tim basket pria AS pada 1996, dimana ia memimpin kedua tim meraih medali emas. Pada 2010, ia diundang oleh Korea Selatan untuk membantu persiapan tim basket mereka menghadapi Asian Games.
Pada 2016, Wilkens diinduksi ke dalam kelas perdana Hall of Fame Korps Pelatih Cadangan Angkatan Darat AS, yang menghormati lulusan yang berprestasi di berbagai bidang, baik militer maupun sipil. Selama wawancara dengan Basketball Hall of Fame pada 1999, Wilkens mengungkapkan bahwa Angkatan Darat, terutama para perwira senior, sangat mempengaruhi filosofi kepemimpinannya. Ia sering membahas disiplin, kerja tim, dan keterampilan organisasi yang ditanamkan oleh militer, yang kemudian mendefinisikan pendekatannya di lapangan maupun di sisi lapangan.
Penghormatan Terakhir yang Penuh Makna
Ketika para tentara Garda Nasional Angkatan Darat Washington melipat bendera dan menyerahkannya kepada keluarga Wilkens, momen tersebut melambangkan kehidupan yang dipenuhi kerja sama, disiplin, dan pengabdian.
Stephen Mester, koordinator Penghormatan Pemakaman Negara Bagian Washington, menuturkan, “Sebagai seseorang yang telah tinggal di Pacific Northwest sebagian besar hidupnya dan mengingat saat Seattle Supersonics memenangkan gelar NBA pada 1979, merupakan suatu kehormatan untuk menghadiri dan menjadi bagian dari Penghormatan Pemakaman Militer Lenny Wilkens.”
Lenny Wilkens, yang telah memimpin tentara, pemain, dan pelatih, adalah sosok yang mencerminkan profesionalisme tenang yang dimiliki oleh militer dan olahraga yang dicintainya. Penghormatan terakhirnya tidak hanya untuk seorang legenda basket, tetapi juga untuk seorang prajurit yang kepemimpinannya meninggalkan jejak mendalam bagi generasi.
(BA/GN)
sumber : www.dvidshub.net
Leave a comment