Home Sepakbola Spanyol LaLiga Alonso Kalah dari Pemain Madrid: Kekuatan Ego Berkuasa di Bernabeu!
LaLiga

Alonso Kalah dari Pemain Madrid: Kekuatan Ego Berkuasa di Bernabeu!

Share
Alonso Kalah dari Pemain Madrid: Kekuatan Ego Berkuasa di Bernabeu!
Share

Ketika Filosofi Xabi Alonso Gagal Menaklukkan Para Bintang Real Madrid

Gambaran terakhir Xabi Alonso sebagai manajer Real Madrid—yang sekaligus menceritakan masa kepemimpinannya di Santiago Bernabeu—adalah saat ia seolah diatur oleh orang lain. Setelah kekalahan di Supercopa de Espana hari Minggu lalu dari Barcelona, Alonso memberi isyarat kepada para pemainnya untuk memberikan guard of honour kepada lawan yang menang saat mereka hendak menerima trofi. Namun, Kylian Mbappe tidak setuju dan bersikeras agar rekan-rekan setimnya mengikuti arahannya. Para pemain pun mengikuti Mbappe, dan Alonso pun demikian.

Filosofi yang Tak Cocok

Momen tersebut adalah cerminan kecil dari Real Madrid secara keseluruhan. Alonso, sebagai seorang pelatih, selalu menjunjung tinggi semangat tim, kebersamaan, dan melakukan hal yang benar sebagai sebuah unit olahraga. Ia adalah pria berprinsip, dan momen tersebut menunjukkan salah satu prinsip dasarnya: menghormati lawan. Namun, ketika memimpin sekelompok Galacticos—individu-individu yang masing-masing merasa lebih besar dari lambang klub mereka sendiri, apalagi lambang lawan—prinsip-prinsip tersebut seringkali harus dikesampingkan.

Dominasi Bintang Individu

Di era modern, para pemain top memang memiliki daya tarik yang sangat besar. Mbappe, sama seperti Vinicius Jr dan Jude Bellingham, kini terasa lebih besar dari klub mana pun, jersey mana pun, dan tentu saja manajer mana pun. Para pemain ini adalah brand sukses yang, dalam upaya yang berani namun gagal, Alonso coba perlakukan layaknya pesepak bola biasa.

Potensi dan Tantangan Xabi Alonso

Alonso adalah pelatih yang luar biasa, terbukti dari masa suksesnya di Bayer Leverkusen yang menunjukkan bahwa ia adalah salah satu ahli taktik paling efektif dalam permainan. Berikan dia skuad yang tepat, yang terdiri dari pemain yang lebih bersemangat dan, sejujurnya, lebih mudah dilatih, maka ia bisa menciptakan keajaiban. Ia kemungkinan besar akan mendarat di tempat di mana ia mendapatkan kesempatan untuk membuktikan bahwa kesuksesannya di Jerman bukanlah kebetulan.

Baca juga:  Siap Nonton! Barca vs Athletic: Prediksi, Rekor Pertemuan, Bintang Lapangan.

Namun, bagi Madrid yang sekarang, ia adalah manajer yang salah sejak awal. Madrid, untuk mencari istilah yang lebih baik, sulit untuk dilatih (uncoachable). Mereka tidak bisa dibentuk menjadi pesepak bola modern ala Pep Guardiola yang menerapkan high-pressing dan mengedepankan interpretasi permainan berbasis tim. Sebaliknya, mereka adalah kumpulan individu yang membutuhkan arahan yang tepat dan sosok otoriter untuk menjaga mereka tetap disiplin.

Alonso bukanlah sosok yang demikian, dan pada akhirnya ia terkalahkan oleh Galacticismo yang begitu mendominasi Santiago Bernabeu.

(SA/GN)
sumber : www.goal.com

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Rüdiger siap perpanjang kontrak satu tahun dengan Real Madrid!

Rüdiger menunjukkan keseriusannya untuk tetap bersama Real Madrid dengan rencana perpanjangan kontrak...

Alarm LaLiga: Spanyol terancam kehilangan slot Champions kelima!

Alarm LaLiga berbunyi, Spanyol berisiko kehilangan slot kelima di Liga Champions akibat...

LaLiga Terancam Kehilangan Slot Champions Kelima!

LaLiga berpotensi kehilangan slot Champions kelima akibat penurunan performa tim-tim Spanyol di...

Real Madrid cari pengganti Arbeloa setelah tersingkir dari UCL.

Real Madrid sedang mencari pengganti Alvaro Arbeloa setelah tersingkir dari Liga Champions,...