Dua Wajah Set-Piece Liverpool: Mengapa Perkasa di Eropa tapi Melempem di Liga Domestik?
Liverpool tampil sangat dominan dalam situasi bola mati di ajang Liga Champions musim ini, sebuah rekor yang patut diacungi jempol di kancah Eropa. Namun, performa ciamik ini berbanding terbalik dengan catatan mereka di Premier League, menyisakan pertanyaan besar di benak para penggemar dan pengamat sepak bola. Momen cerdas Dominik Szoboszlai saat mencetak gol ke gawang Marseille baru-baru ini menjadi pengingat akan potensi mematikan mereka dari bola mati, sekaligus menyoroti teka-teki inkonsistensi ini.
Keajaiban di Liga Champions
Musim ini, Liverpool membukukan rekor set-piece terbaik di kompetisi elit Eropa. Mereka telah mencetak enam gol dari situasi bola mati tanpa kebobolan satu pun. Lima dari enam gol tersebut bahkan tercipta saat Aaron Briggs masih menjabat sebagai pelatih set-piece klub. Hanya Chelsea dan Arsenal yang mampu menyamai catatan pertahanan impresif ini di Liga Champions.
Torehan gol dari set-piece di Eropa juga melibatkan beberapa pemain berbeda yang tampil gemilang saat dibutuhkan. Melawan Atletico Madrid pada laga pembuka fase grup September lalu, Andy Robertson dan Virgil van Dijk sama-sama mencetak gol dari set-piece dalam kemenangan 3-2. Van Dijk dan Ibrahima Konate melakukan hal serupa dalam pesta gol 5-1 atas Eintracht Frankfurt di bulan berikutnya. Tak ketinggalan, Alexis Mac Allister juga sukses menyundul bola dari umpan Szoboszlai untuk mengamankan kemenangan 1-0 atas Real Madrid pada November.
Namun, di balik semua keberhasilan ini, Aaron Briggs telah meninggalkan Liverpool bulan lalu. Sebagian alasan di balik kepergiannya adalah performa departemennya yang dianggap kurang memuaskan di kompetisi selain Liga Champions.
Dilema di Premier League
Kontras dengan kegemilangan di Eropa, Liverpool justru mengalami kesulitan serius dalam situasi bola mati di Premier League. Ada perasaan umum bahwa mereka sangat buruk dalam bertahan dari sepak pojok, tendangan bebas, dan lemparan ke dalam di liga domestik. Selain itu, mereka juga kesulitan menciptakan banyak peluang dari skema bola mati di sisi lain lapangan.
Statistik mendukung pandangan ini: Liverpool memiliki selisih set-piece minus 11 di Premier League, dengan 13 gol kebobolan dan hanya dua gol yang berhasil dicetak. Kondisi ini telah membuat topik set-piece menjadi sumber frustrasi besar bagi para pendukung.
Momen Cerdas Szoboszlai di Marseille
Pada laga tandang yang penting di Stade Velodrome, Dominik Szoboszlai menunjukkan kecerdikannya dalam kemenangan 3-0 atas Marseille. Golnya, yang dicetak tepat sebelum babak pertama berakhir, terbukti krusial. Saat itu, kedua tim bermain imbang, dengan Marseille menunjukkan soliditas pertahanan dan kreativitas menyerang, sementara Liverpool kesulitan menemukan sentuhan akhir.
Szoboszlai dengan berani memutuskan untuk menendang bola di bawah pagar betis lawan. Gol itu tidak hanya cerdik dan inovatif, tetapi juga direncanakan dengan matang.
Berbicara setelah pertandingan kepada media penyiaran Inggris, Szoboszlai mengungkapkan, “Saya melakukan pekerjaan rumah saya. Saya diberitahu bahwa jika tidak ada yang berbaring (di belakang pagar betis), mungkin saya punya kesempatan untuk menendangnya di bawah tembok, dan karena tidak ada yang berbaring, saya mencobanya dan ya, itu berhasil.”
Momen ini terasa seperti penebusan bagi pemain Hungaria itu setelah sebelumnya gagal mengeksekusi penalti melawan Burnley di pertandingan sebelumnya. Gol ini memecah kebuntuan, memaksa Marseille untuk lebih terbuka, dan memberikan kebebasan bagi Liverpool untuk menciptakan lebih banyak peluang, yang pada akhirnya mengamankan kemenangan meyakinkan.
Momentum dan Harapan ke Depan
Kemenangan tandang yang meyakinkan melawan lawan yang memiliki rekor kandang impresif ini memberi keyakinan baru bagi Liverpool. Ini adalah pertama kalinya dalam 13 pertandingan tak terkalahkan mereka di tiga kompetisi bahwa tim merasa berada di jalur yang benar setelah musim gugur yang suram dengan sembilan kekalahan dari 12 pertandingan. Jumlah peluang yang tercipta menjadi indikasi positif, meskipun pertandingan sebelumnya melawan Burnley berakhir imbang 1-1 di Anfield. Kemampuan Liverpool untuk menekan Marseille sambil tetap kokoh di lini belakang patut dipuji.
Musim ini, banyak hal telah terjadi dalam perjalanan tim, mulai dari kehilangan Diogo Jota di musim panas, perubahan besar dalam skuad selama beberapa bulan berikutnya, hingga menyerahkan gelar Premier League. Hal ini membuat sulit untuk menikmati masa-masa baik secara terpisah karena masih banyak yang perlu diperbaiki.
Namun, malam di Prancis selatan ini menjadi pengingat tentang esensi Liverpool. Keunggulan dalam situasi bola mati sangat besar pada kesempatan ini. Kini, tantangan terbesar bagi Liverpool adalah membawa momentum positif dari set-piece di Liga Champions ini ke panggung Premier League untuk mengubah nasib mereka di liga domestik.
(LC/GN)
sumber : www.nytimes.com
Leave a comment