AS Roma menjamu AC Milan di Stadio Olimpico dalam lanjutan pekan ke-22 Serie A, dengan laga yang berakhir imbang 1-1. Hasil ini tak menguntungkan kedua tim.
Faktanya, hasil imbang tersebut justru lebih cocok untuk ambisi para pesaing mereka di klasemen, terutama tim-tim yang bisa mengambil keuntungan dari skor seri ini.
Setelah hasil ini, Roma kini menempati posisi ketiga dengan 43 poin, terpaut empat angka dari Milan yang berada di posisi kedua.
Perebutan gelar juara dan empat besar semakin ketat menjelang akhir musim. Sejauh ini, Roma menjalani kampanye yang luar biasa, mendekati satu tempat di Liga Champions UEFA, sesuatu yang gagal mereka raih dalam beberapa musim terakhir. Di sisi lain, Milan juga sempat mengalami krisis musim lalu. Oleh karena itu, membangun kembali tim dan mempertahankan posisi kedua hingga Januari menunjukkan keberhasilan Milan di Serie A sejauh musim ini.
Dalam analisis taktik ini, kami akan mengupas dampak sistem man-marking Roma terhadap Milan, serta variasi serangan Rossoneri untuk membongkar rencana pertahanan disruptif Giallorossi.
Formasi dan Susunan Pemain Roma Kontra Milan
Gian Piero Gasperini memulai laga dengan formasi favoritnya 3-4-2-1. Mile Svilar berdiri di bawah mistar gawang, dengan lini pertahanan yang dihuni tiga bek tengah: Gianluca Mancini di sisi kanan, Evan Ndicka di tengah, dan Daniele Ghilardi di kiri. Lini tengah diisi oleh Zeki Çelik dan Wesley França sebagai wing-back kanan dan kiri, didampingi Bryan Cristante serta Manu Koné sebagai gelandang sentral. Di lini serang, Gasperini memasang Matías Soulé dan Paulo Dybala sebagai playmaker menyerang, yang kerap beroperasi sebagai winger, dengan rekrutan baru Donyell Malen sebagai striker utama.
Sementara itu, Massimiliano Allegri memilih formasi 3-5-2 yang biasa digunakannya. Mike Maignan mengisi posisi penjaga gawang, dengan Fikayo Tomori, Koni De Winter, dan Matteo Gabbia sebagai bek tengah. Alexis Saelemaekers dan Davide Bartesaghi beroperasi sebagai wing-back, sementara Adrien Rabiot dan Samuele Ricci menjadi gelandang sentral. Selain kedua gelandang sentral tersebut, Luka Modrić berperan sebagai gelandang bertahan, dan lini serang dipercayakan kepada Christopher Nkunku serta Rafael Leão.
![AS Roma Vs AC Milan [1–1] – Serie A 2025/2026: Gian Piero Gasperini Man-Marking & Max Allegri Counterattacks – Tactical Analysis 2 Roma Vs AC Milan Vs [6–2] – Serie A 2025/2026: Gasperini Man-Marking System & Milan Attacking Solutions – Tactical Analysis](https://totalfootballanalysis.com/wp-content/uploads/2026/01/Roma-Vs-AC-Milan-Vs-6%E2%80%932-%E2%80%93-Serie-A-20252026-Gasperini-Man-Marking-System-Milan-Attacking-Solutions-%E2%80%93-Tactical-Analysis-1.png)
Sistem Man-Marking Roma dan Permasalahan Penyelesaian Akhir
Pertandingan dimulai dengan intensitas tinggi, di mana kedua tim tampil sangat dinamis dan berupaya mengejutkan lawan sejak awal. Roma menempatkan diri dalam formasi 4-4-2 pada fase menyerang, dengan Dybala dan Malen sebagai striker, sementara Soulé lebih condong ke sisi sayap kiri.
(SA/GN)
sumber : totalfootballanalysis.com
Leave a comment