Evaluasi Fase Grup Liga Champions: Antara Dominasi dan Tantangan
Pada musim ini, bisa dibilang tidak banyak pertandingan yang mengesankan di fase grup Liga Champions. Jika ada pun, hasilnya sering kali tidak memiliki dampak signifikan. Isu ini mencerminkan kondisi permainan modern: sebuah pemanasan yang panjang sebelum kompetisi sesungguhnya dimulai.
Kondisi Terkini Tim
Uefa mengklaim bahwa hanya enam tim yang tidak memiliki kepentingan di laga terakhir pada hari Rabu. Namun, apakah perjalanan 126 pertandingan untuk sampai pada poin ini, di mana Napoli atau Club Brugge mungkin tersingkir, layak diperjuangkan? Atau perdebatan mengenai Tottenham atau Atalanta yang harus menghadapi playoff, juga patut dipertanyakan.
Keberhasilan menyelesaikan fase grup di delapan besar dengan imbalan menghindari dua laga tambahan, pertama-tama menunjukkan bahwa ada terlalu banyak kompetisi. Keberadaan dua pertandingan ekstra kini dianggap lebih sebagai beban daripada peluang pendapatan.
Kelelahan Sebagai Faktor Utama
Seiring berkembangnya turnamen, kelelahan menjadi kekuatan yang menentukan. Hal ini mungkin menjelaskan mengapa hanya Arsenal dan Paris Saint-Germain dari kalangan elit sepak bola yang nampak lebih baik dibandingkan lima tahun lalu. Premier League memiliki dominasi di fase grup Liga Champions, namun jarang meraih trofi.
Salah satu momen menonjol dari fase grup adalah aksi Micky van de Ven yang mencetak gol ketiga untuk Tottenham dalam kemenangan 4-0 melawan Copenhagen. Momen ini terlihat seperti penyerangan besar-besaran dari tim Premier League terhadap lawan-lawan yang secara fisik lebih kecil, seperti yang juga dilakukan Newcastle, Arsenal, dan Liverpool dalam pertandingan mereka.
Pemahaman Tren Sepak Bola
Dominasi Premier League terlihat jelas, namun mengapa klub-klub Inggris hanya berhasil meraih tiga gelar Liga Champions dalam sepuluh tahun terakhir? Pengalaman klub-klub Italia di tahun 90-an mungkin memberikan gambaran. Ketika Serie A dominan, meski ada tim di final setiap musim, hanya sedikit yang berhasil menjadi juara.
Sementara itu, menjadi pemenang pada tahap knockout membawa denotasi keberuntungan, kelelahan dari kompetisi liga bisa menjadi faktor yang berpengaruh. Pada fase knockout, Premier League yang melelahkan dapat membuat tim rentan saat berhadapan dengan tim-tim berpengalaman dari Eropa.
Sebuah contoh nyata terlihat ketika Tottenham menemukan kemudahan di Liga Champions saat melawan Dortmund, berbanding terbalik dengan pertandingan Premier League melawan West Ham dan Burnley yang mereka jalani.
Menghadapi Realitas Kompetisi
Pada akhirnya, untuk klub-klub Premier League, tantangan situasi ini tidak bisa diabaikan. Meskipun mereka mendominasi fase grup, pada fase knock-out tingkat kesulitan akan meningkat dan kelelahan bisa menjadi masalah.
Musim ini menunjukkan bahwa meski klub-klub Inggris banyak mendominasi di fase grup, persaingan sesungguhnya dan ujian berat terjadi pada babak selanjutnya. Dengan begitu, perjalanan di fase grup Liga Champions terasa kurang berarti, karena kunci sejatinya ada di fase knockout yang menentukan nasib tim di Eropa.
(PL/GN)
sumber : www.theguardian.com
Leave a comment