Seruan Boikot Piala Dunia di Amerika Serikat Menguat, Politik Membayangi Pesta Sepak Bola Global
Seruan untuk memboikot gelaran Piala Dunia FIFA mendatang di Amerika Serikat semakin menguat. Isu ini muncul di tengah memburuknya hubungan antara Presiden Donald Trump dan sejumlah negara Eropa. Hanya beberapa bulan menjelang kick-off turnamen, perdebatan kini bergeser dari ranah olahraga ke lingkup politik, dipicu oleh kritik terhadap kebijakan domestik dan luar negeri presiden AS tersebut.
Konteks Politik yang Memanas
Dinamika politik menjadi sorotan utama. Hubungan yang semakin renggang antara pemerintahan Trump dan negara-negara Eropa telah menciptakan iklim ketidakpastian. Kritikan terhadap kebijakan-kebijakan Trump, baik di dalam negeri maupun di panggung global, kini merambah ke dunia sepak bola, mengancam untuk membayangi salah satu ajang olahraga terbesar di dunia.
Salah satu isu yang paling kontroversial adalah ketertarikannya yang terang-terangan untuk mengambil alih kendali Greenland dari Denmark. Langkah ini telah memicu ketegangan di antara anggota NATO dan menjadi contoh bagaimana kebijakan luar negeri Trump dapat menimbulkan gejolak diplomatik.

Presiden AS Donald Trump
Tokoh Sepak Bola Angkat Bicara
Salah satu intervensi paling mencolok datang dari Sepp Blatter, mantan Presiden FIFA yang kontroversial. Melalui unggahan di media sosial, Blatter menyarankan para penggemar sepak bola untuk “menjauh dari Amerika Serikat dan Piala Dunia.” Meskipun Blatter tidak lagi memegang posisi resmi, pernyataannya berhasil menyulut kembali perdebatan panjang tentang peran politik dalam acara olahraga besar.
Di Jerman, Oke Göttlich, Presiden St. Pauli sekaligus Wakil Presiden Asosiasi Sepak Bola Jerman, bahkan lebih blak-blakan. Dalam wawancaranya dengan Hamburger Morgenpost, ia menyatakan bahwa sudah waktunya untuk “secara serius mempertimbangkan dan mendiskusikan boikot turnamen.” Göttlich membandingkan situasi saat ini dengan boikot Olimpiade Moskow 1980 menyusul invasi Soviet ke Afghanistan, berargumen bahwa ancaman politik saat ini, menurut pandangannya, “bahkan lebih besar.”
Reaksi dari FIFA dan Negara Lain
Piala Dunia yang akan diselenggarakan bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko selama kurang lebih lima minggu mulai bulan Juni ini, memang sudah menuai kritik sebelumnya karena harga tiket yang tinggi. Namun, kebijakan-kebijakan Trump kini semakin mengintensifkan reaksi negatif tersebut.
FIFA sendiri memilih untuk tetap bungkam. Seorang juru bicara organisasi menolak untuk mengomentari pernyataan dan seruan boikot yang terus berkembang. FIFA tetap pada sikap hati-hati di tengah situasi yang mengancam untuk membayangi salah satu tontonan olahraga terbesar di dunia ini.
Penolakan terhadap Piala Dunia di Amerika Serikat tidak hanya terbatas di Jerman. Para politisi Inggris dan tokoh seperti Mark Pieth, yang pernah memimpin komite pengawas proses reformasi FIFA, juga telah menyuarakan ketidaksetujuan mereka. Pieth bahkan berpendapat bahwa para penggemar harus memboikot turnamen sebagai respons terhadap apa yang ia gambarkan sebagai peningkatan otoritarianisme di negara tuan rumah. Ini menunjukkan bahwa sepak bola, jauh dari terpisah dari politik, sekali lagi menjadi pusat perdebatan global.
(WC/GN)
sumber : www.mundodeportivo.com
Leave a comment