Membangun Masa Depan Sepak Bola yang Berkelanjutan di Major League Soccer
Di benua yang sering dianggap sebagai frontier komersial sepak bola, Major League Soccer (MLS) dengan tenang berupaya melakukan sesuatu yang lebih ambisius: membangun masa depan hijau dari awal.
Transformasi Infrastruktur Sepak Bola
Sementara klub-klub Eropa berjuang dengan batasan lingkungan dari stadion kuno yang berusia lebih dari seratus tahun, beberapa klub MLS memiliki keuntungan memulai dari awal. Dengan stadion baru dan pengembangan urban yang muncul di seluruh liga, keberlanjutan semakin dirancang ke dalam infrastruktur sepak bola, bukan sekadar ditambahkan kemudian.
Mercedes-Benz Stadium: Contoh Perubahan
Sedikit arena yang lebih jelas menggambarkan pergeseran ini dibandingkan dengan Mercedes-Benz Stadium, markas Atlanta United FC. Stadion yang dibuka pada 2017 ini, dengan kapasitas 70.000 penonton, dibangun dengan ambisi untuk mendefinisikan kembali bagaimana sebuah arena olahraga modern dapat terlihat dari segi lingkungan. Stadion ini menjadi stadion olahraga profesional pertama di Amerika Utara yang menerima sertifikasi LEED Platinum, standar tertinggi untuk desain bangunan berkelanjutan.
Status tersebut bukan hasil dari langkah-langkah simbolis. Lebih dari 4.000 panel surya yang terpasang di seluruh situs menghasilkan sekitar 1,6 juta kilowatt jam listrik setiap tahun, cukup untuk memberi tenaga pada beberapa acara olahraga besar secara tahunan. Bangunan ini juga mengandalkan pencahayaan LED dan sistem mekanis yang efisien energi, yang secara signifikan mengurangi konsumsi daya dibandingkan infrastruktur stadion konvensional.
Manajemen Air yang Terencana
Manajemen air juga menjadi prioritas dalam desain. Di bawah stadion terdapat tangki air hujan berkapasitas 680.000 galon yang menangkap dan menyimpan air hujan untuk irigasi dan sistem pendingin. Dengan penggunaan perangkat sanitasi beraliran rendah dan urinal tanpa air, stadion ini menggunakan air jauh lebih sedikit dibandingkan arena tradisional seukuran yang sebanding.
Praktik Keberlanjutan di Atlanta
Keberlanjutan di Atlanta melampaui arsitektur itu sendiri. Operasi hari pertandingan menekankan pengalihan sampah melalui program daur ulang dan pengomposan, sementara taman kota di area stadion menyediakan hasil pertanian untuk vendor makanan. Rencana transportasi juga dipertimbangkan, dengan koneksi transportasi umum yang luas dan fasilitas bersepeda untuk mengurangi jumlah pendukung yang datang dengan mobil.
Maturitas di Stadion BMO
Jika Atlanta menjadi contoh awal keberlanjutan MLS, maka Los Angeles FC menawarkan gambaran bagaimana ide-ide tersebut telah berkembang di generasi berikutnya venue liga. Stadion mereka, BMO Stadium, dibuka pada 2018 di pusat Exposition Park dan kemudian mendapatkan sertifikasi LEED Gold dari Dewan Bangunan Hijau AS. Meskipun proyek ini tidak sebesar stadion atap yang dapat dibuka di Atlanta, kredensial lingkungan yang diusungnya tidak kalah tertata.
Selama konstruksi, lebih dari 97 persen puing-puing dari lokasi – hampir 29.000 ton material – dialihkan dari tempat pembuangan sampah. Bahan daur ulang digunakan langsung dalam struktur, sementara komponen bangunan yang bersumber lokal mengurangi jejak karbon yang terkait dengan transportasi material konstruksi dari jarak jauh.
Efisiensi Operasional
Efisiensi operasional juga menjadi inti desain stadion ini. Sistem ventilasi canggih dan infrastruktur mekanik berkinerja tinggi telah mengurangi konsumsi energi sekitar 30 persen dibandingkan desain stadion konvensional. Penggunaan air juga berkurang sekitar 40 persen berkat sistem perpipaan yang efisien dan teknologi irigasi.
Strategi Lokasi yang Berkelanjutan
Lokasi juga memainkan peran penting dalam strategi keberlanjutan stadion. Terletak dalam jarak berjalan kaki dari jalur kereta ringan Metro E Line, BMO Stadium mendorong pendukung untuk datang menggunakan transportasi umum daripada menghadapi kemacetan lalu lintas Los Angeles dengan mobil. Dalam kota yang dibangun di sekitar mobil, ini bisa menjadi salah satu intervensi lingkungan yang paling berarti yang dapat ditawarkan stadion.
Langkah ke Depan dengan NYCFC
Sementara Atlanta mencerminkan masa kini dan LAFC mewakili pertengahan yang matang di liga, New York City FC mungkin mewakili frontier keberlanjutan berikutnya di MLS. Selama sebagian besar eksistensinya, NYCFC menjadi anomali di liga, memainkan pertandingan kandangnya di Yankee Stadium. Situasi ini akhirnya akan berubah dengan pembangunan stadion yang dirancang khusus di Willets Point di Queens.
Stadion baru dengan kapasitas 25.000 penonton – yang dijadwalkan dibuka untuk musim MLS 2027 – diharapkan akan menjadi stadion elektrik sepenuhnya pertama di liga, menghilangkan penggunaan bahan bakar fosil di lokasi. Panel surya yang terintegrasi ke dalam atap stadion akan menghasilkan energi terbarukan, sementara sistem bangunan pintar bertujuan meminimalkan pemborosan energi selama operasional sehari-hari.
Pengembangan Wilayah yang Terintegrasi
Mungkin aspek paling signifikan dari proyek ini terletak di luar tembok stadion. Pengembangan Willets Point mencakup 2.500 unit perumahan terjangkau, sebuah sekolah umum, ruang ritel, dan area hijau publik, mengubah kawasan industri yang sebelumnya kurang dimanfaatkan menjadi lingkungan urban campuran. Dengan kata lain, keberlanjutan di sini bukan hanya tentang mengurangi jejak lingkungan stadion, tetapi juga tentang membayangkan bagaimana venue sepak bola dapat menjadi pusat ekosistem urban yang lebih luas.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, proyek-proyek ini menunjukkan mengapa MLS memiliki posisi unik dalam percakapan tentang iklim sepak bola. Di Eropa, klub sering mencoba menerapkan keberlanjutan pada stadion bersejarah yang tidak pernah dirancang dengan efisiensi lingkungan. Di Amerika Serikat, banyak klub membangun venue baru sama sekali – dan itu memberikan kesempatan untuk mengintegrasikan keberlanjutan dari awal.
Meski demikian, tantangan lingkungan dalam olahraga ini jauh dari terpecahkan. Geografi di Amerika Utara membuat tim MLS rutin melakukan perjalanan ribuan mil dengan pesawat setiap musim, menciptakan jejak karbon yang tidak dapat sepenuhnya diimbangi oleh desain stadion. Namun, infrastruktur tetap penting. Stadion memengaruhi konsumsi energi, penggunaan air, manajemen sampah, dan cara pendukung bepergian ke pertandingan. Stadion juga berfungsi sebagai demonstrasi teknologi lingkungan yang terlihat. Ketika puluhan ribu penggemar menemui panel surya, sistem daur ulang, atau pengumpulan air hujan pada hari pertandingan, keberlanjutan menjadi bagian dari rutinitas olahraga, bukan hanya konsep abstrak.
MLS mungkin masih tertinggal dalam hal prestise global dibandingkan liga-liga terbesar di Eropa, tetapi dalam aspek ini bisa jadi berpengaruh. Dengan mengintegrasikan keberlanjutan ke dalam DNA stadion baru dan pengembangan urban, klub-klub seperti Atlanta United, LAFC, dan NYCFC diam-diam menguji seperti apa infrastruktur sepak bola di masa depan yang sadar lingkungan.
(PL/GN)
sumber : www.football365.com
Leave a comment