Penuturan McDonald Mariga tentang Kehidupan Sebagai Pemain Profesional
Legenda Harambee Stars, McDonald Mariga, berbagi pengalaman bagaimana gerakannya sering kali dibatasi setelah timnya mengalami kekalahan saat membela Inter Milan, klub besar Italia.
Kehidupan Sehari-hari Pemain Sepak Bola
Pemain sepak bola sering kali berada di bawah sorotan, di mana penampilan mereka bisa sangat mempengaruhi pandangan publik. Kritik dan sorakan bisa dengan cepat berganti, tergantung pada performa di lapangan.
Di era media sosial saat ini, penyampaian opini sama sekali tidak terlambat. Pemain sering kali menghadapi komentar pedas dan bahkan sindiran dari penggemar yang merasa berhak untuk meluapkan kekesalan mereka. Terkadang, pengalaman ini bahkan bisa menjadi lebih intens ketika penggemar bertemu langsung dengan pemain di tempat umum.
Pengalaman Mariga di Italia
Mariga menyebutkan, selama masa bermainnya di Serie A, dia merasakan dampak sosial dari kekalahan. Dia berbagi cerita dalam sebuah podcast, In Conversation with Chaxy, tentang bagaimana dia terpaksa menghindari keluar rumah pasca kekalahan.
“Ada saat di mana setelah kalah, kau tidak bisa keluar. Kau harus mengirim orang lain untuk berbelanja. Waktu itu saya di Inter, sulit untuk sekadar melangkah di Milan,” ungkap Mariga.
Dia menambahkan, kehidupan sosial pemain sangat dipengaruhi oleh hasil pertandingan, sehingga pemain harus memilih waktu dan tempat untuk beraktivitas di luar lapangan.
“Kau hanya bisa keluar saat tim mulai menang. Jadi, pergi ke klub malam adalah hal yang mustahil,” jelasnya.
Reaksi Penggemar
Mariga merasakan betul bagaimana penggemar cepat lupa akan pencapaian sebelumnya setelah tim mengalami kekalahan.
“Saat menang, penggemar akan menyanyikan namamu, tapi saat kalah, mereka melupakan sepuluh pertandingan yang telah dimenangkan,” tambahnya.
Saat ini, Mariga menjabat sebagai wakil presiden Federasi Sepak Bola Kenya (FKF) dan memiliki banyak kenangan manis dalam karirnya, termasuk berbagai trofi yang diraihnya bersama Inter Milan seperti Serie A, UEFA Champions League, FIFA Club World Cup, dan Coppa Italia. Selain itu, Mariga juga pernah berseragam Parma Calcio dan Latina Calcio di Italia, serta Real Sociedad dan Real Oviedo di Spanyol.
Dari pengalamannya, kita dapat memahami betapa kerasnya tekanan yang dihadapi pemain sepak bola, terutama di level tertinggi. Hasil yang didapat di lapangan tidak hanya mempengaruhi karir mereka, tetapi juga kehidupan sosialnya di luar lapangan.
(SA/GN)
sumber : www.mozzartsport.co.ke
Leave a comment