Tantangan di Balik Kebangkitan Los Angeles Lakers
Chris Broussard mengangkat pertanyaan penting di tengah kebangkitan Los Angeles Lakers saat ini. Dalam program First Things First, Broussard menyoroti keseimbangan antara LeBron James dan Luka Doncic. Ia mempertanyakan apakah LeBron yakin setiap distribusi tembakan saat ini merupakan solusi jangka panjang bagi Lakers, meski hasil menunjukkan sebaliknya.
Pandangan Broussard
“Kita semua tahu betapa tingginya IQ basket LeBron, dan tidak mungkin dia menonton Luka mengambil 30 tembakan dan gagal dua pertiganya, lalu menganggap itu tindakan yang bijak. Saya tidak mengatakan dia memiliki masalah dengan Luka, tetapi dia menyaksikannya. Tidak mungkin dia berpikir itu adalah cara terbaik bermain basket.”
“Saya rasa dia menyadari ini adalah satu-satunya cara mereka dapat menang, meskipun itu membuatnya mengorbankan diri sedikit seperti yang dilakukan Dwyane Wade untuk LeBron. Ini adalah cara terbaik kami untuk menang, tetapi dia tahu itu bukan permainan basket yang cerdas. Sebagaimana hebatnya Luka, sangat sedikit orang yang pernah lebih baik secara ofensif.”
Statistik dan Performansi Terakhir
Sejak 27 Februari, Lakers mencatatkan 12 kemenangan dan hanya 2 kekalahan, dan kini berada di peringkat ketiga Wilayah Barat. Rentetan sembilan kemenangan mereka terhenti oleh Detroit Pistons dalam pertandingan ketat yang berakhir 113-110.
Selama periode ini, angka-angka menunjukkan pergeseran dalam ofensif. Doncic mengambil kendali dengan rata-rata 35,7 poin, 8,2 rebound, dan 7,4 assist sambil mencetak 48,4% dari lapangan dan 38,5% dari tiga titik.
- 25,1 tembakan per pertandingan, termasuk 12,8 tembakan tiga poin.
Sebaliknya, peran LeBron mengalami penurunan. Dalam periode yang sama, ia mencetak rata-rata 19,0 poin, 6,6 rebound, dan 6,5 assist dengan efisiensi 58,3% dari lapangan dan 41,9% dari tiga poin, dengan jumlah tembakan turun menjadi 12,6 per pertandingan, dan hanya 2,8 tembakan tiga poin.
Keseimbangan yang Diperlukan
Kontras ini memperkuat argumentasi Broussard. Dia percaya LeBron memahami konsekuensi dari situasi ini. Sistem saat ini mengurangi beban fisik dan pencetakannya, mirip dengan bagaimana Dwyane Wade beradaptasi saat bersama LeBron di Miami.
Menurut Broussard, LeBron melihat ini sebagai peluang terbaik Lakers untuk menang saat ini, meskipun itu bukan strategi terbaik.
Kekalahan melawan Pistons menyoroti masalah dalam pengaturan ini. LeBron mencatat 12 poin, 10 assist, dan 9 rebound dengan akurasi 4-10 dari lapangan serta 1-2 dari tiga poin, tak mencetak poin di babak pertama, pertama kalinya sejak 2010.
Sementara itu, Doncic menyelesaikan pertandingan dengan 32 poin, 7 rebound, dan 6 assist, tetapi dengan 11-29 dari lapangan dan 3-13 dari tiga poin. Dia terus memaksakan tembakan meskipun tidak berhasil, terutama di kuarter keempat dengan tanpa skor.
Reaksi Pemain dan Data Lanjutan
Setelah pertandingan, LeBron mengaitkan peran barunya dengan awal lambatnya, menunjukkan bahwa pendekatannya mencerminkan apa yang dibutuhkan tim untuk menang.
Meski kalah, statistik lanjutan menunjukkan hasil yang sangat positif. Lakers menduduki peringkat keempat dalam rating ofensif, kesembilan dalam rating defensif, dan keenam dalam net rating selama periode ini, termasuk tujuh kemenangan melawan tim dengan rekor di atas .500.
Kesimpulan: Tantangan Jangka Panjang
Sekarang, inti permasalahan adalah keseimbangan. Gaya bermain Doncic yang banyak memegang bola membawa kemenangan, tetapi juga mengubah identitas tim. Mengurangi beban mencetak LeBron dapat menghemat energinya dan memperpanjang dampaknya selama pertandingan. Namun, pertandingan melawan Pistons menyoroti risiko ketika terlalu condong ke satu arah. Pandangan Broussard tidak menantang hasil yang ada, tetapi mempertanyakan batasan jangka panjang dari strategi ini.
(BA/GN)
sumber : fadeawayworld.net
Leave a comment