Eddie Howe Hadapi Tantangan di Newcastle
Manajer Newcastle, Eddie Howe, kini memiliki tujuh pertandingan untuk meyakinkan manajemen klub bahwa ia adalah sosok yang tepat untuk memimpin tim ke musim depan. Saat ini, Newcastle berada di posisi ke-12 klasemen Premier League, dan CEO David Hopkinson menyatakan ketidakpuasannya setelah kekalahan 2-1 di kandang dari Sunderland.
Reaksi Manajemen Klub
“Kekalahan derby ini sangat menyakitkan. Kami memperhatikannya dengan serius,” ujar Hopkinson dalam konferensi pers terkait hasil keuangan kluba yang menunjukkan perkembangan positif. Ia menegaskan bahwa hasil buruk tersebut tidak dapat dipandang sebelah mata.
Dalam pertemuan makan siang yang intens, Howe dan Hopkinson membahas banyak hal, termasuk kekalahan dari Sunderland, di mana manajer Sunderland, Régis Le Bris, berhasil meraih kemenangan dalam dua pertemuan derby musim ini.
“Kami berbicara selama beberapa jam, termasuk tentang Sunderland,” kata Hopkinson. Meskipun Newcastle baru saja mengalami kekalahan agregat 8-3 dari Barcelona di babak 16 besar Liga Champions, ia tetap berharap Howe bisa membawa timnya kembali ke jalur perburuan kualifikasi Eropa.
“Eddie adalah manajer kami. Saya berharap kami bisa menjalani sisa musim dengan baik dan kami akan membahas masa depan ketika saatnya tiba. Saat ini, fokus kami adalah menyelesaikan musim ini,” tambahnya.
Perubahan Suasana di Klub
Hopkinson sebelumnya mengungkapkan kekagumannya terhadap Howe, bahkan membandingkan mantan pelatih Bournemouth itu dengan musisi Bruce Springsteen. Namun, suasana hati saat ini tampak berbeda. Ketika ditanya apakah posisi Howe akan dievaluasi di musim panas, ia menjawab, “Kami tidak sedang mempertimbangkan untuk melakukan perubahan saat ini. Kami fokus pada tujuh pertandingan tersisa.”
Howe, yang menandatangani kontrak multi-tahun pada 2023, juga mengungkapkan bahwa penjualan Alexander Isak ke Liverpool seharga £125 juta pada akhir bursa transfer musim lalu menghambat kemajuan tim. Namun, Hopkinson menekankan pentingnya Newcastle menjadi klub yang “trading” dan mendukung keputusan untuk melepas Isak pada saat itu.
Strategi Klub ke Depan
“Strategi kami ke depan adalah membeli pemain dengan baik dan menjual dengan baik. Membeli dengan baik tidak selalu berarti mengeluarkan uang terbanyak, tetapi mendapatkan nilai terbaik untuk klub dari pemain yang kami beli,” tambahnya.
Dalam hal penjualan pemain, Hopkinson menunjukkan ketidakpastian saat ditanya mengenai kemungkinan menjual Sandro Tonali atau pemain berbakat lainnya seperti Bruno Guimarães. “Kami belum siap untuk menjawab itu,” ujarnya, menekankan perlunya pendekatan cerdas dalam transaksi pemain.
Perkembangan Keuangan Klub
Akun keuangan klub menunjukkan bahwa hak sewa St James’ Park telah dijual ke PZ Holdings Ltd senilai £172,1 juta, yang merupakan perusahaan yang dikendalikan oleh PIF dan pemilik minoritas Newcastle, Reuben Brothers. Transaksi ini menghasilkan keuntungan sebesar £129 juta setelah dinyatakan sebagai penilaian yang adil oleh Premier League.
Walaupun penjualan tersebut berkontribusi signifikan terhadap keuntungan pajak setelah £34,7 juta, CFO Newcastle, Simon Capper, menganggapnya lebih sebagai langkah administratif untuk pengembangan ke depan.
Hopkinson merasa klub berada di jalur yang benar setelah laporan keuangan menunjukkan peningkatan pendapatan komersial sebesar 44%. Meskipun Newcastle tidak berpartisipasi dalam kompetisi Eropa selama periode akuntansi, klub memenangkan Carabao Cup dan berhasil lolos ke Liga Champions.
Kesimpulan
Newcastle kini harus memaksimalkan potensi mereka dan mengejar ketertinggalan dari klub-klub besar seperti Liverpool dan Arsenal. Dengan fokus pada sisa pertandingan, klub berharap dapat meraih kesuksesan dan membangun masa depan yang lebih cerah.
(PL/GN)
sumber : www.theguardian.com
Leave a comment