Logo Lega Serie A yang terpasang sebelum pertandingan Serie A antara Juventus dan Atalanta di Allianz Stadium, Turin, pada 10 Maret 2024. (Foto oleh MARCO BERTORELLO / AFP)
Krisis dalam Sepak Bola Italia: Reformasi Diperlukan
Presiden Lega Serie A, Ezio Maria Simonelli, menekankan bahwa klub-klub teratas harus mengambil peran utama dalam reformasi menyusul kegagalan Italia di Piala Dunia dan pengunduran diri Gabriele Gravina.
Kegagalan timnas Italia mengalahkan Bosnia dan Herzegovina di babak playoff yang membuat mereka tidak lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya berturut-turut berdampak besar pada struktur otoritas sepak bola Italia.
Gravina mengundurkan diri hari ini, diikuti oleh kepala delegasi Italia, Gigi Buffon, dan pelatih Gennaro Gattuso diperkirakan akan menyusul langkah tersebut.
Pemilihan untuk posisi Presiden FIGC yang baru dijadwalkan pada 22 Juni, di mana 274 delegasi akan memberikan suara, dengan Lega Serie A memiliki 18 persen bobot suara dalam keputusan ini.
Lega Serie A Ingin Ambil Tanggung Jawab
Dalam pernyataannya, Simonelli mengatakan, “Sebagai Lega Serie A, kami harus memiliki peran utama dan menjadi panduan bagi semua tim.”
“Sebagaimana halnya para penggemar, kami merasa kecewa. Namun, kami perlu fokus pada reformasi, pengembangan pemain muda, serta memperkuat tata kelola dan aset klub, agar dapat kembali ke kejayaan masa lalu.”
Lega Serie A sebelumnya menolak reformasi utama yang diusulkan oleh Gravina, yaitu pengurangan jumlah klub dari 20 menjadi 18. Beberapa nama telah disebut-sebut sebagai kandidat untuk posisi Presiden FIGC baru, namun nama Giovanni Malagò, mantan ketua KONI, tampaknya menjadi favorit.
“Kami tidak membahas nama-nama dalam pertemuan,” tegas Simonelli.
(SA/GN)
sumber : football-italia.net
Leave a comment