Kekuatan Menghadapi Tekanan dalam Olahraga
Pada bulan Juni tahun lalu, saya sadar akan sebuah hal. Saat itu, saya memutuskan untuk menguji kemampuan anak saya yang saat itu baru berusia 11 tahun dalam menghadapi tekanan. Meskipun keterampilan teknis, visi, dan bakat sangat penting dalam olahraga, semua itu tak berarti jika tak mampu menanggung tekanan di momen-momen krusial. Jika Anda tidak mampu bertindak saat dibutuhkan, maka Anda mungkin belum siap.
Ujian di Pertandingan Penentu
Timnya memiliki kesempatan untuk menang dalam sebuah turnamen sepak bola, dan pertandingan terakhir akan menentukan hasilnya. Pertandingan dimulai dengan buruk; dengan waktu tersisa lima menit, mereka tertinggal 0-2. Dia adalah pencetak gol terbanyak, pemimpin, dan pemain terbaik dalam tim. Apa pun yang dia lakukan, teman-temannya akan mengikuti. Saat itu, saya memutuskan untuk menerapkan pelatihan mental yang telah saya lakukan dengan dia untuk menguji kemampuannya menghadapi momen ini. “Inilah saatnya!” teriakku kepadanya. “Masih ada waktu. Ayo, ini saatnya!”
Dia memahami maksud saya. Kami sudah membicarakan bagaimana menjadi lebih besar di momen penting dan bahwa dia memiliki kemampuan untuk itu. Dia langsung merespons. Dalam tekanan tiga bek lawan, dia berhasil menembus kotak penalti dan mencetak gol dalam waktu kurang dari satu menit. Luar biasa, ujian telah berhasil, saya sangat gembira. Namun, dia belum selesai. Dia segera menciptakan peluang lain untuk rekannya, tetapi sayangnya tidak berhasil.
Keberanian Menghadapi Tantangan
Dia adalah anak yang selalu mencari tantangan dan tidak akan melewatkan kesempatan ini. Dalam serangan berikutnya, dia berhasil membawa bola ke kotak penalti, meski dalam posisi terjatuh, dia berhasil menyundul bola ke garis gawang. Skor imbang dengan 30 detik tersisa, posisi pertama akan ditentukan oleh selisih gol. Sorakan para orang tua menggema, bahkan wasit mendekat untuk memberinya kecupan di punggung sebagai pengakuan. Hari itu saya tahu bahwa dia mampu menghadapi segala tekanan yang dihadapi dalam olahraga kompetitifnya; saya yakin dia memang memiliki potensi untuk menjadi pemain istimewa. Enam bulan kemudian, dia menjadi gelandang ofensif utama di sebuah akademi talenta elit.
Refleksi dan Pelajaran dari Kinerja
Saya teringat momen itu ketika Kyrie Irving bercerita dalam pertandingan terakhir Dallas Mavericks musim ini tentang kemampuan Cooper Flagg dalam menghadapi tekanan. Sebuah penghormatan yang menyentuh dalam kampanye tim untuk mendukung Flagg meraih penghargaan Rookie of the Year, ini sekaligus mengingatkan kita tentang apa yang diperlukan untuk mencapai kehebatan.
“Kehebatan tidak dibentuk di bawah sorotan. Ia dipahat dalam kesunyian. Di setiap langkah untuk hadir setiap hari. Mereka meragukanmu terlalu cepat. Mereka bahkan mempertanyakan apakah kamu diciptakan untuk ini. Tapi meski dengan beban harapan, kamu tidak tergoyahkan.”
Menghadapi Tekanan
Tekanan adalah tempat di mana keraguan bersemayam dan kebanyakan orang akan menyerah. Namun, menemukan ketenangan di tengah tekanan adalah keahlian terakhir yang dibutuhkan seorang atlet untuk mencapai puncaknya. Para pencari bakat di segala cabang olahraga bertanya: Bagaimana kamu menghadapi tekanan? Bagaimana reaksi kamu pada kegagalan? Bagaimana menghadapi kesulitan?
Kebanyakan atlet menunjukkan kemampuan di latihan, mereka tahu cara bekerja keras, saat situasi aman. Namun, sebaliknya saat di pertandingan. Saat seorang pencari bakat hadir? Ketika harapan meningkat karena keinginan untuk sukses begitu besar? Lampu sorot tidak mudah untuk semua orang, bahkan bagi atlet profesional.
Tekanan bisa menjadi hambatan. Ia bisa membekukan pikiran, memicu naluri bertahan, dan menghindarkan kita dari keadaan yang tidak nyaman. Namun, jika kita dapat mengubah sudut pandang dan melihat tekanan sebagai kesempatan alih-alih jebakan, kita akan menguasai sesuatu yang mengubah hidup: pola pikir kita.
Meraih Peluang di Bawah Tekanan
Seperti yang pernah diungkapkan oleh Kobe Bryant, jika kita memandang negatif, seperti tekanan dan tantangan, sebagai peluang untuk bersinar, kita akan mendekati tekanan alih-alih menghindarinya: “Segala hal negatif – tekanan, tantangan – adalah kesempatan bagi saya untuk bangkit.”
Beranjak dari pengalaman positif dalam menghadapi tekanan, kita mulai percaya bahwa itu adalah hal yang normal bagi diri kita. Kita akan memberi tahu diri sendiri bahwa kita maju di bawah tekanan. Dan itulah yang terjadi; kita mulai benar-benar maju di bawah tekanan.
Ini berlaku baik untuk tekanan dalam hidup sehari-hari maupun bagi atlet berprestasi. Saat anak saya diingatkan bahwa saat ini adalah kesempatan untuk mengatasi tantangan, dia sangat bersemangat sampai menguasainya dengan kegembiraan seorang anak yang mencintai olahraganya. Tidak ada rasa takut di tempat itu, hanya kedamaian dan sukacita.
Cooper Flagg juga demikian saat bermain basket, dia mengandalkan tekanan untuk menunjukkan kemampuannya. Dia adalah pemain termuda dalam sejarah NBA yang mencetak lebih dari 50 poin dalam satu pertandingan, serta memimpin Dallas Mavericks dalam empat kategori: poin, assist, rebound, dan steal sebagai rookie pertama sejak Michael Jordan.
Kesimpulan
Tekanan adalah tempat di mana keraguan bersemayam dan kebanyakan orang menyerah. Namun, Cooper Flagg telah menemukan kedamaian di sana. Bagi para atlet terbaik, tekanan tidak menjadi halangan.
(BA/GN)
sumber : www.mavsmoneyball.com
Leave a comment