Kemunduran Italia dalam Kualifikasi Piala Dunia 2026
Duka kegagalan kembali menyelimuti Italia, negara sepak bola yang pernah dibanggakan. Bos Brasil saat ini, Carlo Ancelotti, merasa perlu untuk memberikan pandangannya. Setelah kekalahan menyakitkan dalam kualifikasi Piala Dunia, suara salah satu sosok paling dihormati di dunia sepak bola ini menarik perhatian.
Kecewa mendalam dirasakan oleh Azzurri, yang dikenal dengan pertahanan kokoh. Kejadian ini memicu introspeksi mendalam. Italia kini dihadapkan pada jalan panjang untuk menemukan kembali identitasnya di pentas internasional, sementara liga domestik juga berusaha mencari solusi di tengah kompetisi global yang semakin ketat.
Kegagalan Italia untuk lolos ke Piala Dunia 2026 menjadi absensi ketiga berturut-turut, sebuah penurunan yang belum pernah terjadi bagi juara dunia empat kali ini. Kekalahan di final playoff melawan Bosnia-Herzegovina memicu perubahan besar, termasuk pengunduran diri di tingkat federasi dan perombakan dalam struktur tim nasional.
Perubahan Drastis di Federasi Sepak Bola Italia
Konsekuensinya langsung terasa. Presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) Gabriele Gravina mengundurkan diri, diikuti dengan mundurnya Gianluigi Buffon dan pelatih Gennaro Gattuso. Kejadian ini meninggalkan tim nasional dalam pencarian identitas dan arah yang jelas menjelang kompetisi Liga Bangsa-Bangsa.
Gennaro Gattuso, mantan pelatih Italia, bersama pemain setelah pertandingan.
Ancelotti Menyoroti Kehilangan Identitas Pertahanan
Setelah beberapa minggu berlalu, Ancelotti memberikan penilaian tajam terkait kesalahan yang terjadi. Ia menyatakan bahwa permainan nasional telah menyimpang dari prinsip yang dulunya membuatnya ditakuti di seluruh dunia.
“[Serie A] telah kehilangan kekokohan defensif,” ujarnya saat diwawancarai oleh Il Giornale. “Kami kekurangan talenta di area lain, tetapi kontrol yang berlebihan pada aspek taktis telah mendistorsi karakteristik yang selama ini menjadi fondasi sejarah kami.” Bagi Ancelotti, permasalahan ini bukan sekadar kesalahan individu, tetapi perubahan filosofis yang lebih luas dalam cara permainan dilakukan.
Menurut Ancelotti, pengaruh tren sepak bola modern berperan signifikan dalam penurunan ini. Tim-tim Italia semakin mengadopsi sistem tekanan tinggi dan marking man-to-man, yang memiliki risiko jika tidak dilakukan dengan sempurna. “Saya melihat banyak pertandingan dengan banyak gol… tetapi terlalu banyak gol juga berarti terlalu banyak kesalahan, dari kiper dan bek,” jelasnya. “Tekanan tinggi yang disebut juga melibatkan risiko konstan.”
Gianluigi Donnarumma menunjukkan kekecewaannya setelah pertandingan melawan Bosnia & Herzegovina.
Kekurangan Bintang di Serie A
Ancelotti juga menyoroti dinamika pasar transfer yang berubah, di mana Italia tidak lagi menarik perhatian bintang-bintang sepak bola dunia. Liga yang dulunya menjadi tujuan bagi legenda kini kehilangan pengaruh globalnya. “Pemain hebat asing tidak lagi datang ke Italia.”
David Beckham dan Ronaldinho dari Milan merayakan kemenangan.
Ia mengenang nama-nama legendaris seperti Diego Maradona, Ronaldo Nazario, Michel Platini, dan Ronaldinho, bertanya: “Dari siapa pemain-pemain muda Italia belajar?” Bagi pelatih berusia 66 tahun ini, ketidakhadiran sosok-sosok besar tersebut mengurangi kemampuan liga dalam mengembangkan talenta elit.
Dengan kondisi ini, langkah pemulihan tim nasional Italia menjadi tantangan besar. Para pemangku kepentingan di negeri pizza harus berupaya keras agar Azzurri bisa kembali bersinar di pentas dunia.
(WC/GN)
sumber : worldsoccertalk.com
Leave a comment