2026 FIFA World Cup Terancam Berlangsung di Tengah Pelanggaran Hak Asasi Manusia
Human Rights Watch (HRW) memperingatkan bahwa Piala Dunia FIFA 2026 berpotensi berlangsung dalam suasana ketakutan terkait penegakan imigrasi yang kasar, ancaman terhadap kebebasan pers, dan diskriminasi. Dalam pandangan ini, HRW merilis panduan reporter sepanjang 79 halaman yang menjabarkan kondisi hak asasi manusia di ketiga negara tuan rumah menjelang pembukaan turnamen pada 11 Juni mendatang.
Kegagalan Memenuhi Komitmen Hak Asasi Manusia
Panduan berjudul “Panduan Reporter untuk Piala Dunia FIFA 2026 di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat” menyoroti kegagalan FIFA untuk memenuhi komitmen hak asasi manusia yang dijanjikan selama proses penawaran awal. Minky Worden, Direktur Inisiatif Global HRW, menyatakan bahwa turnamen ini berisiko lebih didefinisikan oleh eksklusi dan ketakutan daripada versi inklusif yang dijanjikan FIFA.
Permohonan kepada FIFA
HRW meminta FIFA untuk mendesak pemerintah AS untuk menetapkan “Gencatan Senjata ICE”, yaitu jaminan publik dari pihak berwenang untuk tidak melakukan tindakan penegakan imigrasi di pertandingan dan lokasi selama turnamen. HRW mencatat bahwa berdasarkan data dari permohonan informasi publik, setidaknya 167.000 orang ditangkap oleh Kantor Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai AS di sekitar sebelas kota tuan rumah AS antara 20 Januari dan 10 Maret 2025. Mereka yang dianggap imigran berdasarkan warna kulit, bahasa, atau tempat kerja menghadapi risiko yang lebih tinggi.
Ancaman Kebebasan Pers
Panduan juga menyoroti ancaman terhadap kebebasan pers di AS. HRW merujuk pada kasus Mario Guevara, seorang jurnalis pemenang Emmy yang ditangkap di Atlanta (salah satu kota tuan rumah Piala Dunia) pada Juni 2025 saat meliput protes politik; ia kemudian dipindahkan ke tahanan ICE dan dideportasi ke El Salvador. Selain itu, jurnalis Estefany Rodriguez yang meliput penyerbuan imigrasi oleh ICE dilaporkan ditangkap tanpa surat perintah. HRW telah mendokumentasikan insiden di mana aparat AS menggunakan gas air mata, peluru merica, dan granat kilat terhadap pengunjuk rasa dan jurnalis.
Kritikan terhadap FIFA
HRW juga mengkritik FIFA karena memberikan penghargaan FIFA Peace Prize kepada Presiden Trump pada Desember 2025, yang dinilai sebagai upaya untuk mengalihkan perhatian publik. Menurut HRW, hampir semua panitia kota tuan rumah Piala Dunia belum menyusun rencana tindakan hak asasi manusia yang dijanjikan oleh FIFA atau rencana yang dibuat mengabaikan risiko utama, termasuk penegakan imigrasi dan ancaman terhadap kebebasan pers.
Kondisi Berbahaya di Meksiko
Meksiko, yang menjadi tuan rumah pertandingan di Guadalajara, Kota Meksiko, dan Monterrey, tetap menjadi salah satu negara paling berbahaya bagi jurnalis. Organisasi kebebasan pers Article 19 melaporkan tujuh jurnalis terbunuh di negara tersebut pada tahun 2025, dengan impunitas menjadi hal yang umum. HRW mencatat bahwa FIFA belum mengatasi risiko langsung bagi jurnalis yang bekerja di kota-kota tuan rumah Meksiko, termasuk mereka yang meliput hubungan antara sepak bola dan kejahatan terorganisir.
Tanggapan FIFA terhadap Permintaan Perlindungan Hak Asasi Manusia
HRW telah mengirim surat kepada Presiden FIFA, Gianni Infantino, pada 6 April dengan pertanyaan detail mengenai perlindungan kebebasan pers, termasuk apakah FIFA telah menetapkan protokol untuk menanggapi jika jurnalis ditangkap, dideportasi, atau ditolak masuk. FIFA menjawab bahwa mereka memiliki mekanisme untuk menangani insiden terkait hak asasi manusia, tetapi tidak memberikan rincian spesifik.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai bagaimana FIFA dan negara tuan rumah akan menjaga keamanan dan kebebasan bagi jurnalis, penggemar, dan komunitas imigran saat Piala Dunia mendekat.
(WC/GN)
sumber : www.jurist.org
Leave a comment