Inter Milan Rayakan Scudetto ke-21 dengan Cristian Chivu
Perayaan gelar Scudetto ke-21 Inter Milan berlangsung penuh gaya, terinspirasi oleh Jose Mourinho. Momen tersebut seakan ditujukan untuk para pemain dan bukan untuk pelatih, namun terasa begitu tulus.
Momen yang Tak Terlupakan
Cristian Chivu terlihat menghindari keramaian, sementara asap kembang api membuatnya tergoda untuk merokok. Federico Dimarco mendorong Chivu ke depan, hampir membuatnya tersandung oleh confetti biru, hitam, dan emas yang jatuh dari langit. Di hadapan Curva Nord, Chivu menerima tepuk tangan dari ultras dan menunjuk ke arah timnya, menandakan keberhasilan Scudetto ini adalah hasil kerja keras mereka. Setelah itu, ia melangkah ke ruang ganti dan menikmati sebatang rokok.
Chivu Membuat Sejarah
Sebelum perayaan ini, hanya Armando Castellazzi yang pernah meraih gelar liga dengan Inter baik sebagai pemain maupun pelatih, dan itu terjadi lebih dari 80 tahun yang lalu. Chivu sendiri adalah bagian dari tim treble legendaris Inter di bawah Mourinho pada 2009-2010. “Saya sudah menjadi bagian dari sejarah sebelum malam ini,” ujar Chivu dengan nada humoris kepada Federica Zille dari DAZN. “Saya juga pernah memenangkan beberapa gelar sebagai pemain.”
Dia berbicara tanpa kesombongan, mengingat pengalamannya saat hampir kehilangan nyawanya akibat cedera serius pada Januari 2010. Insiden tersebut membuatnya berfokus pada hal-hal yang benar-benar berarti dalam sepakbola dan kehidupan: “Saya berusaha menjadi lebih empatik.”
Kualitas Emosional yang Dibutuhkan Tim
Dengan banyaknya kesulitan yang dihadapi tim setelah kehilangan liga di hari terakhir musim 2024-25 dan mengalami kekalahan 5-0 oleh Paris Saint-Germain di Liga Champions, hanya seseorang dengan kecerdasan emosional yang tinggi dapat menyatukan kembali para pemain. Inter Milan tampak hancur dan dianggap banyak orang berada pada akhir siklus.
Seusai kekalahan di babak 16 besar Piala Dunia Antarklub, Lautaro Martinez, kapten tim, mengecam salah satu pemain senior, Calhanoglu, akibat kurangnya komitmen. Calhanoglu pulang ke Turki untuk memulihkan cedera minor setelah pertandingan lawan PSG dan absen di turnamen tersebut. Namun, meski ada rumor tentang kepindahannya ke Galatasaray, perpecahan dalam tim tidak terjadi. “Tim ini tidak pernah kehilangan kebersamaan,” ungkap Nicolo Barella.
Tantangan dan Kekuatan Pengalaman
Perayaan gelar Scudetto ini terasa istimewa. Meskipun Inter meraih kemenangan dengan margin 12 poin atas pesaing terdekat, masih banyak tantangan yang dihadapi di sepanjang musim. Partisipasi di Piala Dunia Antarklub mungkin datang terlalu cepat bagi Chivu, yang baru diangkat sebagai pelatih tetap pada 6 Juni. Inter pun tidak berbeda mengalami dampak dari keterlibatan mereka di turnamen tersebut.
Lautaro dijadwalkan menjadi Capocannoniere lagi dengan 20 gol di semua kompetisi meski absen dalam delapan pertandingan liga. Calhanoglu juga berkontribusi meski sering absen, sementara Denzel Dumfries mengalami cedera pergelangan kaki selama tiga bulan.
Kesempatan di Piala Italia
Meski perayaan ini berlangsung ceria, Chivu tidak membiarkan dirinya terbawa suasana. Ia sudah memikirkan pertandingan final Coppa Italia mendatang melawan Lazio. “Saya tidak ingin terkesan hipokrit, tetapi saya sudah memikirkan final Coppa Italia,” jelasnya.
Sementara para penggemar merayakan di San Siro dan di Piazza del Duomo, presiden klub Beppe Marotta menekankan bahwa keberhasilan ini adalah hasil kerja keras pelatih dan para pemain. Ini menjadi momentum penting untuk Chivu dan tim Inter di musim depan dan seterusnya. Club ini kini tidak hanya mencatatkan keuntungan besar dari TV dan hadiah Liga Champions, tetapi juga harus berkomitmen untuk mengembangkan talenta muda di masa depan.
Dengan kekompakan tim dan kepemimpinan Chivu, Inter menunjukkan bahwa mereka berhasil menjalani tantangan musim ini meskipun harus kembali mengejar kesuksesan di level Eropa.
(SA/GN)
sumber : www.nytimes.com
Leave a comment