Michael Jordan Rayakan Keberhasilan PSG di Liga Champions
Michael Jordan kembali merayakan kemenangan di Liga Champions, meski ia tidak pernah menginjakkan kaki di lapangan sepak bola Budapest. Paris Saint-Germain (PSG) telah mencapai status juara Eropa setelah 700 hari mendominasi sepak bola Eropa, sering kali mengenakan jersey Jordan Brand. Bagi Jordan, ini bukan sekadar kemenangan simbolis, tetapi merupakan mesin finansial yang terus menghasilkan jutaan dolar, bahkan setelah lebih dari tiga dekade.
Semua ini berawal dari ibunya, Deloris Jordan. Saat itu, Nike sedang berjuang untuk bersaing dengan Adidas, yang menjadi pilihan utama para atlet muda elite. Jordan yang saat itu berusia 21 tahun dan bersiap memasuki NBA, lebih menyukai merek asal Jerman dan tidak terlalu tertarik untuk bertemu dengan eksekutif Nike di Oregon. Namun, sang ibu memaksanya untuk hadir.
“Ia berkata, ‘Kau harus mendengarkan mereka. Meskipun kau tidak suka, kau tetap harus mendengarkan,’” kenang Jordan dalam dokumenter “The Last Dance.”
Revolusi Air Jordan dan Kesepakatan Royalti yang Tak Tertandingi
Nike menawarkan Jordan sekitar $500.000 per tahun, angka yang luar biasa untuk seorang rookie pada saat itu. Namun, Deloris Jordan memperjuangkan sesuatu yang lebih signifikan: royalti sebesar 5% dari semua penjualan produk. Klausul ini menjadi salah satu endorssement atlet paling menguntungkan dalam sejarah.
Pada awalnya, Nike memperkirakan akan mendapatkan pendapatan sekitar $3 juta dalam beberapa tahun. Namun, lini Air Jordan I meledak di pasaran. Dengan harga sekitar $65 per pasang, sepatu ini menghasilkan sekitar $126 juta, dengan Jordan meraih sekitar $6,3 juta hanya dalam tahun pertamanya.
Untuk membandingkan, kontrak pertama Jordan di NBA dengan Chicago Bulls memberikan total yang sama selama tujuh tahun. Pada tahun 1996, setelah kembali dari pensiun pertamanya, Jordan menandatangani kontrak satu tahun senilai $30,14 juta dengan Bulls, dan ini adalah kali pertama ia menghasilkan lebih banyak dari Nike dibandingkan dari bermain basket dalam satu tahun.
Saat ini, diperkirakan Jordan menghasilkan sekitar $300 juta setiap tahun dari kemitraan ini.
Dari Lapangan Basket ke Budaya Olahraga Global
Keberhasilan Nike dengan Jordan Brand tidak berhenti di sepatu. Perusahaan ini mengembangkan lini pakaian, membangun identitas budaya global di sekitar logo Jumpman yang melampaui batas basket.
Jordan Brand menjadi bagian dari streetwear, budaya musik, dan olahraga elite di seluruh dunia, dan memperluas sayapnya ke dalam sepak bola, golf, dan olahraga lainnya.
Titik balik besar terjadi ketika Nike pertama kali menciptakan sepatu Jordan untuk Neymar saat bermain di Barcelona, menandai langkah merek ini ke dalam jagat sepak bola global.
PSG dan Kemitraan yang Berkembang dengan Jordan Brand
Pada tahun 2018, Jordan Brand secara resmi bermitra dengan Paris Saint-Germain, melanjutkan hubungan Nike yang sudah ada dengan klub Prancis ini sejak 1989. Kolaborasi ini telah menjadi salah satu pertemuan paling sukses dalam pemasaran olahraga modern.
Jersey PSG yang menampilkan logo Jumpman telah menjadi best seller global, terutama dalam beberapa musim terakhir, saat klub menikmati periode terkuat dalam sejarahnya. Musim lalu, Jordan Brand muncul di jersey ketiga dan keempat PSG, termasuk desain navy dengan logo sayap ikonik. Musim ini, logo tersebut lagi-lagi muncul di jersey keempat dan kelima, termasuk yang dikenakan saat PSG lolos ke final Liga Champions di Munich.
Kemitraan ini telah meluas menjadi lini gaya hidup yang terdiri dari tracksuit, topi, jaket, kaos, dan aksesori. Beberapa item yang dikenakan dalam pertandingan besar, termasuk peralatan perayaan PSG yang terbaru, sudah terjual habis secara online, dengan harga berkisar antara $140 hingga $190.
Meski bertahun-tahun sejak pertemuan awal di Portland, kesepakatan yang dibentuk oleh dorongan seorang ibu terus memberikan hasil. Kini, dengan PSG berada di puncak sepak bola Eropa, Kerajaan Jordan Brand terus tumbuh seiring dengan kesuksesan klub.
(LC/GN)
sumber : en.as.com
Leave a comment