Kenangan Aymeric Laporte Bersama Manchester City
Aymeric Laporte mengenang masa-masa indahnya di Manchester City dengan penuh rasa nostalgia. “Sangat banyak,” ujarnya saat ditanya tentang pengalamannya selama lima tahun di klub. “Ketika saya melihat rekan-rekan pergi ke tim lain dan tidak mengalami kesuksesan yang sama, saya merasa sedih. Saya berpikir, ‘Ah… kita seharusnya bersama sampai akhir, bukan?’ Kami layak mendapatkan itu.”
Kembali ke Klub Masa Kecil
Saat ini, Laporte berada di restoran dekat Museum Guggenheim di Bilbao, tempat ia kembali bermain untuk klub masa kecilnya, Athletic. Kini berusia 32 tahun, ia meninggalkan City tiga tahun lalu dan akan mewakili Spanyol di Piala Dunia musim panas ini.
Keberangkatannya ke Al Nassr pada musim panas 2023 tidak disambut dengan pesta perpisahan dari suporter, berbeda dengan banyak pemain City lainnya. “Saya bahkan tidak sempat mengucapkan selamat tinggal,” keluhnya. Namun saat ditanya bagaimana perasaannya tentang hal itu, ia menjawab, “Hidup memang begini. Apa yang bisa dilakukan? Tidak ada.”
Pindah ke Al Nassr
Kenapa memilih Saudi Arabia? Singkatnya, City meminta harga yang sulit dipenuhi klub-klub lain. Al Nassr menawarkan €27,5 juta, dan tawaran itu diterima.
Hubungan dengan City
Meski demikian, Laporte berbicara dengan penuh kehangatan tentang City. Ia mengenang rekan-rekan setim, ketua klub, dan staf yang berkontribusi pada kesuksesan luar biasa club. Ia juga mengomentari keputusan wasit yang menurutnya menghalangi City meraih lebih banyak gelar Liga Champions, serta kekalahan mendalam melawan Tottenham Hotspur dan Real Madrid.
Awal Karir di City
Kisahnya di City dimulai dengan penolakan setelah melalui pembicaraan yang panjang, hanya menjelang mereka mengaktifkan klausul pelepasannya dari Athletic, sepuluh tahun yang lalu, menjelang musim perdana Pep Guardiola di Premier League. “Saya sedang mempertimbangkan klub di Spanyol dan Inggris, dan saya memilih City karena tahu Pep menginginkan saya,” jelasnya.
Laporte menunda kepindahannya karena cedera pergelangan kaki yang didapat saat memperkuat timnas Prancis. “Saya tidak ingin bergabung dengan tim baru dalam kondisi ragu. Saya perlu waktu untuk pulih dan bermain, dan bermain di sini berbeda dari di City.”
Perjalanan Sukses di City
Setelah 18 bulan, City kembali mengejarnya, dan ia pun segera menandatangani kontrak. “Saat itu gila,” akunya. “Saya selalu berusaha melakukan yang terbaik. Saya tidak ingin cedera saat tiba di sana. Ketika saya tiba, saya ingin tetap siap.”
Laporte menjalani debutnya dengan baik, membantu City meraih sukses di Premier League. Musim itu berlanjut dengan pencapaian luar biasa, City mencetak 106 gol dan meraih 100 poin, sekaligus mencetak rekor kemenangan terbanyak dalam satu musim.
Memorable Moments dan Kekecewaan
Selama bertahun-tahun, City meraih berbagai trofi, termasuk treble domestik. Namun, ada juga kekalahan menyakitkan, termasuk kekalahan dari Tottenham dan Real Madrid akibat keputusan VAR yang kontroversial. “Emosinya sangat buruk,” kata Laporte. “Setiap tahun kami menghadapi situasi yang sama, kesalahan kecil yang bisa merusak segalanya.”
Puncak sejarah City terjadi ketika mereka akhirnya meraih gelar Liga Champions untuk pertama kalinya pada 2023, meski peran Laporte dalam skuad saat itu tidak sebesar yang diharapkan, hanya bermain di 11 pertandingan liga.
Kembali ke Athletic dan Menatap Piala Dunia
Setelah dua tahun di Saudi Arabia, Laporte kembali ke Athletic Barcelona, dan kini ia bersiap untuk tampil bersama timnas Spanyol di Piala Dunia. “Saya excited, mari kita lihat apa yang bisa kita raih,” tutupnya. Dengan banyak kenangan manis di City, Laporte masih memiliki kesempatan untuk menambah prestasi di tingkat internasional.
(LC/GN)
sumber : www.nytimes.com
Leave a comment