Kenangan Pertama Piala Dunia Zidane Iqbal dan Perjalanan Tim Iraq
Zidane Iqbal, pemain Manchester United, mengingat kenangan pertamanya menyaksikan Piala Dunia saat pulang dari sekolah dasar. Ia bersama ayahnya, Aamar, menemukan pertandingan Brazil melawan Korea Utara terhenti di televisi keluarga. “Dia menjeda permainan, menjemputku dari sekolah, dan saat kami kembali, Maicon sudah mencetak gol,” ujarnya.
Gol dari sudut hampir 90 derajat itu, yang menggetarkan gawang, pasti diingat oleh banyak orang dari generasi Iqbal. Meskipun Ia melihatnya sedikit lebih lambat dibandingkan yang lain, momen tersebut tetap terpatri dalam ingatannya.
How did he score from THAT angle at the #WorldCup!?
Maicon layak mendapatkan ucapan selamat yang sama baik hari itu maupun hari ini.
Parabéns untuk sang spesialis gol ajaib yang merayakan ulang tahun ke-38! pic.twitter.com/1ApD7wOo6B
— FIFA World Cup (@FIFAWorldCup) July 26, 2019
Menjadi Inspirasi bagi Generasi Muda
Iqbal mengungkapkan perasaan bahwa perbedaan antara dirinya dan 1.247 pemain lain di Piala Dunia adalah kesempatan untuk menjadi inspirasi bagi banyak orang. “Banyak anak kecil akan menyaksikan Piala Dunia, terutama dari Iraq, dan mereka akan terinspirasi,” tuturnya.
Iqbal siap mewakili tim Iraq di Piala Dunia, yang merupakan keikutsertaan mereka pertama kali dalam empat dekade. Jalur menuju Piala Dunia bagi Iraq sangatlah melelahkan, melalui 21 laga untuk mencapai kualifikasi.
Setelah kemenangan 3-2 agregat atas Uni Emirat Arab melalui tendangan penalti di menit ke-107, Iqbal berpikir tugas sudah selesai. “Kemudian orang-orang berkata: ‘Ya, di mana pertandingan berikutnya?’,” ungkapnya.
Pencapaian Bersama Tim Irak
Kemenangan atas Uni Emirat Arab mengamankan posisi Iraq di playoff antar benua, di mana mereka mengalahkan Bolivia 2-1, menjadi tim terakhir yang lolos ke turnamen. Salah satu kontribusi Iqbal adalah gol penentu saat melawan Indonesia.
Ibu Iqbal, Ayat, yang lahir di Samawah, Iraq, meninggalkan negara itu saat berusia satu tahun akibat perang. Ayahnya, Aamar, berasal dari Pakistan, tetapi saat ini adalah warga negara Iraq yang diadopsi.
“Dia datang mengenakan jersey Iraq dengan namaku di punggungnya dan saat kami mencetak gol, dia berteriak sekencang mungkin,” jelas Iqbal.
Pemain Pertama Berasal dari Lat belakang Pakistan
Iqbal juga merupakan pemain pertama di Piala Dunia yang memiliki latar belakang Pakistan. “Saya duduk di bandara dan teman saya mengirimkan postingan tentang hal ini,” ceritanya. “Nama saya kini tercatat dalam sejarah — yang pertama — dan tak seorang pun dapat mengambilnya dari Anda,” tambahnya.
Perjalanan Iqbal mencerminkan keberagaman pemain di Piala Dunia modern, serta bagaimana asosiasi sepak bola mengenali pemain berkewarganegaraan ganda.
Sambutan Hangat dan Persiapan Tim
Persiapan jelang laga playoff terakhir di Guadalupe, Meksiko, sedikit terganggu karena penutupan wilayah udara Irak akibat konflik. Pemain yang berada di Irak harus melakukan perjalanan 10 jam ke Amman, Yordania.
Meskipun perjalanan Iqbal dari Belanda ke Meksiko lebih lancar, kenyataan bahwa perang masih mempengaruhi sepak bola Iraq cukup jelas. Kemenangan 2-1 atas Bolivia diwarnai dengan kisah pahit Aymen Hussein, pencetak gol kemenangan, yang kehilangan anggota keluarganya akibat kekerasan.
“Generasi Iraq telah melalui masa-masa sulit,” kata Iqbal. “Saya harap Piala Dunia ini bisa menunjukkan sisi lain dari Iraq.”
Dengan kesuksesan kualifikasi, Iqbal melihat ajang tersebut sebagai kesempatan untuk mengubah pandangan dunia mengenai Iraq, mengingat banyak orang hanya melihat negara ini dari sisi negatif.
Menjaga Fokus di Piala Dunia
Iqbal dan tim Iraq akan menjalani laga pembuka grup melawan Norwegia yang diperkuat Erling Haaland. Setelah itu, mereka akan berhadapan dengan juara bertahan Perancis dan Senegal.
Iqbal optimis dapat melampaui pencapaian Iraq di Piala Dunia 1986 yang hanya meraih tiga kekalahan. “Perancis adalah tim favorit, mereka memiliki segalanya untuk kehilangan. Kami pergi tanpa tekanan dan mungkin bisa mengejutkan banyak orang,” harapnya.
Dengan perjalanan yang penuh liku-liku di Manchester United dan saat ini bermain di FC Utrecht, Iqbal berharap untuk menunjukkan kemampuannya di pentas dunia dan menambah langkah-langkah untuk mencapai cita-citanya bermain di Premier League.
“Untuk saya, fokus utama kini adalah Piala Dunia. Saya ingin menunjukkan bahwa saya bisa bersaing dengan pemain besar,” tutupnya.
(LC/GN)
sumber : www.nytimes.com
Leave a comment