Florian Wirtz: Peluang Memperbaiki Karier di Piala Dunia
Bagi para pendukung Liverpool yang meragukan kemampuan Florian Wirtz untuk bersinar di Anfield, upayanya untuk bangkit di Piala Dunia ini mungkin bisa memberikan jawaban. Di usia 19 tahun, Wirtz sudah menarik perhatian klub-klub besar Eropa, namun harus melewatkan edisi turnamen sebelumnya empat tahun lalu akibat cedera lutut serius. Pelatih Jerman saat itu, Hansi Flick, memilih untuk tidak terburu-buru memainkannya dan menyarankan Wirtz fokus pada masa depan.
Walau sangat mengecewakan, Wirtz menerima kenyataan bahwa dirinya belum sepenuhnya siap untuk Piala Dunia yang digelar di tengah musim tersebut. Ia mengubah kekecewaan itu menjadi motivasi untuk kembali lebih kuat. Selama bertahun-tahun berikutnya, dribbler berbakat ini berhasil meraih gelar Bundesliga bersama Bayer Leverkusen dan pindah ke Inggris dengan biaya transfer yang lebih besar daripada pemindahan pemain Jerman sebelumnya. Kini, di usia 23 tahun, ia menjadi bagian penting dari rencana serangan timnas Jerman, dengan Piala Dunia ini sebagai kesempatan untuk memimpin negara menuju kesuksesan dan menebus waktu yang hilang.
Peluang Memperbaiki Kepercayaan Diri
Pertunjukan yang kuat selama musim panas juga diharapkan membantu Wirtz membangun kembali kepercayaan diri setelah mengalami musim debut yang mengecewakan di Anfield. Sebagai pembelian dengan harga £100 juta, ia tidak cukup tampak mampu memberikan kontribusi yang diharapkan dalam bentuk gol atau assist yang memadai. Situasi ini membuatnya terdaftar dalam artikel yang merangkum beberapa pembelian terburuk di Premier League musim 2025-26.
Masalahnya, dua pemain Liverpool lainnya—Alexander Isak dan Harvey Elliott—juga kerap muncul dalam daftar tersebut karena alasan yang beragam. Isak, yang dipindahkan dari Newcastle United sebagai salah satu penyerang terpanas di dunia, mengalami masalah cedera dan kehilangan performa. Sementara itu, Elliott mengalami kesulitan di Aston Villa akibat klausul yang mengharuskan klub tersebut membeli dirinya secara permanen setelah memainkan 10 pertandingan, sesuatu yang ditolak oleh manajer Unai Emery.
Biaya transfer yang tinggi bagi Wirtz menjadi beban tersendiri, dan sering menjadi referensi ketika performanya diperhatikan. Dia harus menunggu hingga setelah Natal untuk mencetak gol pertamanya bagi Liverpool dalam 23 pertandingan. Meski menghadapi tantangan, ia akhirnya menyelesaikan musim dengan tujuh gol dan delapan assist dari 48 penampilan, angka yang lebih baik tetapi tidak sesuai harapan banyak orang.
Statistik dan Tantangan Musim Depan
Kuartal akhir musim menunjukkan bahwa Wirtz tidak berhasil mencetak gol dalam pertandingan melawan tim-tim di paruh atas Premier League dan hanya berhasil mencetak satu gol di Liga Champions, yaitu saat melawan Qarabag dari Azerbaijan. Menurut Transfermarkt, ia mengalami penurunan nilai pasar terbesar ketiga musim lalu, dari £140 juta menjadi £100 juta.
Wirtz kini menghadapi tantangan baru dengan pelatih baru, Andoni Iraola, yang diharapkan dapat menggali potensi lebih dalam dirinya. Meski ada kepercayaan dari Liverpool terhadap Wirtz, ia perlu menunjukkan kualitasnya yang lebih konsisten di musim keduanya di Anfield.
Piala Dunia sebagai Peluang
Sementara itu, Wirtz menemukan momen-momen magis saat membela Jerman di Piala Dunia, berperan di sisi kiri lini serang di bawah arahan pelatih Julian Nagelsmann. Jerman berharap bisa melangkah jauh di turnamen ini, meskipun mereka tergolong dalam grup yang tidak terlalu sulit dengan Ivory Coast, Ecuador, dan Curacao.
Jika Wirtz dapat membantu tim nasionalnya mencapai babak knockout dan berlanjut lebih jauh, ini berpotensi menjadi titik balik untuk performanya di tingkat klub. Beban harapan kembali ada di pundaknya, namun setelah melalui musim yang sulit di Liverpool, ia sudah siap menghadapi tantangan tersebut.
(LC/GN)
sumber : www.nytimes.com
Leave a comment