Lenny Wilkens: Legenda yang Meninggalkan Jejak Abadi di Dunia Basket
Lenny Wilkens menunjukkan permainan yang halus dari posisi point guard, yang membawanya ke Hall of Fame.
Empat bulan lalu, Lenny Wilkens menerima penghormatan berupa patung di Seattle, tepatnya di luar Climate Pledge Arena. Acara tersebut menarik ratusan penggemar, menjadi tanda penghormatan tertinggi bagi kejayaan basket. Patung perunggu tersebut menggambarkan Wilkens dengan bola basket di tangan kanan—padahal ia adalah seorang kidal yang selalu menggiring bola ke arah kiri. Ini adalah monumen bola basket pertama di kota yang pernah menjadi rumah bagi SuperSonics.
Pemain dan Pelatih Hebat
Shaquille O’Neal pernah bertanya dengan bingung, “Pelatih, Anda main basket?” Itulah intisari dari sosok Wilkens. Ia adalah sosok yang unik, karena berhasil berperan sebagai pemain hebat yang masuk dalam daftar tim perayaan NBA, serta pelatih sukses yang meraih gelar juara dan mencatatkan 1.332 kemenangan—rekor terbanyak dalam sejarah NBA.
Jejak Sejarah dan Warisan
Wilkens, yang meninggal pada usia 88 tahun di Seattle, adalah salah satu pelopor pemain kulit hitam di NBA, yang menghadapi perubahan dalam dunia basket di tahun 1960-an. Dalam suatu wawancara, ia pernah mengatakan, “Saya selalu ingin meninggalkan tempat dalam keadaan lebih baik dari sebelumnya.”
Awal Kehidupan di Brooklyn
Sebagai anak dari kondisi yang sulit di Brooklyn, Wilkens harus menjadi sosok yang tangguh sejak dini setelah kehilangan ayahnya saat berumur lima tahun. Ia dibesarkan oleh ibu yang bekerja paruh waktu dan sering memainkan basket di lapangan. Kemudian, ia memperkenalkan diri sebagai salah satu legenda lapangan outdoor di Brooklyn, meskipun baru bermain di level sekolah menengah saat tahun terakhirnya.
Karier Basket yang Cemerlang
Setelah masuk ke Providence dan menjadi dua kali All-American, Wilkens terpilih sebagai pilihan keenam dalam NBA Draft 1960 oleh St. Louis Hawks. Saat itu, liga hanya memiliki delapan tim, dan Wilkens segera menghadapi tantangan besar mengenai rasisme yang mengejutkan dan mengecewakan hati.
Selama kariernya, Wilkens menjadi sembilan kali All-Star, peraih gelar assist terbanyak pada tahun 1970, dan nomor punggungnya (19) dipensiunkan oleh Sonics. Ia juga menjabat sebagai pemain-pelatih di Seattle dan menjadi pelatih kulit hitam kedua di liga setelah Bill Russell.
Keberhasilan di Berbagai Tim
Tak hanya menjuarai NBA bersama Sonics, Wilkens berhasil memimpin berbagai tim lain seperti Cavaliers, Hawks, Raptors, dan Knicks. Walaupun hanya mengoleksi satu gelar, ia dikenal sebagai pelatih yang mampu membawa timnya ke playoff dan menempati posisi yang baik meskipun tanpa bintang besar dalam timnya.
Pencapaian dan Penghargaan
Wilkens termasuk salah satu dari tiga kali program Hall of Fame Naismith Memorial, sebagai pemain, pelatih, dan asisten dalam tim “Dream Team” di Olimpiade Barcelona 1992. Ia dikenal sebagai figur yang berkomitmen dalam dunia basket dan berkontribusi besar bagi komunitasnya di Seattle.
Meninggalkan Warisan yang Abadi
Wilkens menikah selama 63 tahun dengan Marilyn dan mereka tinggal di Seattle yang terus mengenang perannya dalam olahraga, baik sebagai pemain yang dihormati maupun sebagai pelatih yang membawa timnya meraih gelar juara. Gubernur Washington, Bob Ferguson, berkomentar, “Dia telah mengangkat komunitas ini dalam banyak cara.”
Dengan kepergiannya, Wilkens meninggalkan jejak yang mendalam di dunia basket dan dalam hati para penggemar.
(BA/GN)
sumber : www.nba.com
Leave a comment