Kesulitan Streaming Ilegal dalam Dunia Sepak Bola
Masalah streaming ilegal dalam sepak bola merupakan isu kompleks yang mengancam keberlangsungan olahraga ini. Lantas, bagaimana masa depan penyiaran dan pembayaran untuk pertandingan Liga Primer Inggris?
Podcast Khusus: Dunia Bawah Streaming Ilegal
Dalam episode khusus The Athletic FC Podcast berjudul Dunia Bawah Streaming Ilegal, dibahas mengenai latar budaya dan aspek kriminal dari pirasi, serta kemungkinan yang akan terjadi jika situasi ini memburuk.
Dokumenter ini mengungkap bahwa sembilan persen dari populasi dewasa di Inggris mengakses olahraga, terutama sepak bola, melalui streaming ilegal dalam enam bulan terakhir — setara dengan 4,7 juta orang, sementara jumlah yang sama juga tidak yakin atau enggan memberi tahu.
- Dengarkan episode khusus podcast The Athletic FC secara gratis di Apple, Spotify, Amazon Music, dan di mana pun Anda mendapatkan podcast.
Inovasi Menjawab Tantangan Pirasi
Gareth Sutcliffe dari Enders Analysis menyatakan bahwa jika ada layanan yang lebih baik dan inovatif, konsumen akan cenderung beralih, bahkan jika itu termasuk ke pirasi. Situasi ini, menurutnya, telah “menjadi sangat akut” dan terus “berkembang ke arah negatif selama beberapa tahun terakhir.”
Jadi, apa solusinya? Sutcliffe menegaskan bahwa inovasi adalah jawaban yang tepat untuk menghadapi pirasi, karena orang-orang tidak hanya ingin akses, tetapi juga mungkin menginginkan sesuatu yang berbeda.
Pertimbangan Direct-to-Consumer
Pendidikan mengenai potensi platform ‘Premflix’ yang langsung dari Premier League menjadi salah satu topik hangat dalam podcast ini. Beberapa penggemar, ketika ditanya di luar Stadion Emirates, tempat Arsenal bermain, mengatakan mereka bersedia membayar antara £15 hingga £60 (sekitar Rp 300.000 hingga Rp 1.150.000) per bulan untuk menonton pertandingan, termasuk yang tidak ditayangkan di Inggris karena larangan jam 15.00 pada hari Sabtu.
“Saya rasa tidak ada harga untuk itu,” kata salah satu penggemar. “Jika tersedia, orang akan membayar.”
Pendapat lain pun mirip. “Itu akan menjadi ide yang brilian — itulah yang dibutuhkan,” ungkap penggemar lain.
Tantangan dalam Implementasi
Namun, situasinya tidak semudah itu. Jika Premier League memulai layanan ini hanya untuk Inggris, mereka harus menggantikan pemasukan £1,6 miliar yang berasal dari kesepakatan siaran dengan Sky dan TNT. Misalnya, lima juta orang yang membayar £26 masing-masing atau sepuluh juta orang dengan £13 bisa menutupi biaya tersebut, tetapi pendekatan direct-to-consumer juga akan datang dengan banyak biaya tambahan.
Kebijakan di Balik Layar
Richard Masters, CEO Premier League, mengungkapkan bahwa mereka “sedang melangkah menuju opsi tersebut,” tetapi belum yakin kapan “momen dicatat” itu akan terjadi. Liga ini telah mengambil kendali dalam penjualan hak media setelah mengakhiri kerja sama dengan IMG di akhir musim ini. Proses pengambilan keputusan tidaklah mudah, dan perubahan signifikan tidak akan terjadi sampai siklus hak siar berikutnya dimulai pada 2029.
Risiko dan Beban Keuangan
Rick Parry, mantan CEO Premier League, menekankan bahwa Premier League sulit untuk bereksperimen karena risikonya besar. Liga ini harus bekerja dengan keamanan dari pendapatan TV. Pada 2023-24, utang bruto di Premier League mencapai £4,7 miliar, meskipun klub menerima £2,8 miliar dari pendapatan TV domestik, yang mencakup 44 persen dari total pendapatan klub.
Pernyataan dari Premier League menekankan pentingnya melindungi hak siar mereka melalui strategi anti-pirasi yang kolaboratif agar tetap berkontribusi pada komunitas yang lebih luas.
Pandangan Masa Depan
Roger Mitchell, mantan CEO Liga Premier Skotlandia, menyoroti adanya sikap acuh tak acuh dalam industri mengenai pirasi. Dia percaya bahwa lebih dari sekadar menghitung kerugian, penting untuk mengeksplorasi apakah produk yang ada akan dibayar oleh konsumen yang lebih muda.
Jika pendapatan dari hak siar berkurang karena pirasi, bagaimana Liga Premier bisa menyesuaikan diri? Pendapatan pemain dapat menjadi penyangga untuk menyesuaikan kenaikan dan penurunan dalam pendapatan media.
Potensi Disrupsi dari Saudi Arabia
Pengaruh Arabia Saudi dalam landscape hak media juga dapat menjadi pengganggu. Investasi negara Teluk ini dalam layanan streaming DAZN memungkinkan mereka untuk menawarkan acara seperti Piala Dunia Klub secara gratis. Bisakah ini menjadi masa depan di mana suatu negara atau merek internasional membayar biaya agar konsumen tidak perlu?
Sutcliffe menyatakan, “Anda bisa memiliki konten yang dipromosikan secara tinggi yang dibiayai oleh sponsor premium dan tersedia secara gratis untuk semua.”
Kami ingin mendengar pendapat Anda tentang streaming ilegal. Silakan ikuti survei anonim yang kami sediakan dan hasilnya akan kami publikasikan dalam waktu dekat.
(PL/GN)
sumber : www.nytimes.com
Leave a comment