Agensi Pemain Mengancam Langkah Premier League Terkait Aturan Gaji Baru
Tiga agensi pemain terkemuka di sepak bola Inggris — CAA Base, CAA Stellar, dan Key Sports Management — telah mengancam Premier League dengan tindakan hukum jika liga melanjutkan rencana untuk menerapkan batasan gaji baru yang kontroversial. Hal ini diungkapkan oleh Matt Lawton dari London TIMES. Agensi-agensi ini mewakili ratusan pemain dan telah meminta firma hukum terkemuka di London untuk mengirim surat kepada departemen hukum Premier League.
Mereka mengeluhkan bahwa Asosiasi Agen Sepak Bola tidak dilibatkan dalam pembahasan ini dan mengklaim bahwa batasan gaji, yang dikenal dengan istilah “anchoring”, dapat melanggar undang-undang persaingan. Dalam pertemuan pemegang saham yang dijadwalkan, klub-klub Premier League diharapkan memberikan suara mengenai proposal baru yang mencakup aturan rasio biaya skuad dan “anchoring. Aturan ini berpotensi membatasi pengeluaran klub hingga lima kali lipat dari jumlah yang diterima klub di posisi paling dasar dalam hal hadiah dan pendapatan siaran.
Seorang sumber internal menyatakan bahwa ketiga agensi tersebut termasuk di antara sepuluh perusahaan manajemen terkemuka yang telah diajak berdiskusi dalam setahun terakhir. Akan tetapi, pihak liga menganggap bahwa agensi-agensi tersebut belum menunjukkan keterlibatan yang signifikan. Tidak ada tantangan hukum ketika UEFA memperkenalkan aturan rasio biaya skuad untuk klub-klub yang berlaga di Eropa.
Aturan Batasan: Menuju Suara Penting
Matt Slater dari THE ATHLETIC melaporkan bahwa ketiga agensi tersebut juga tidak menyetujui aturan rasio biaya skuad (SCR) yang membatasi pengeluaran klub maksimum 85% dari pendapatan terkait sepak bola untuk gaji skuad, biaya transfer yang teramortisasi, dan komisijn agen. Meskipun batasan SCR Premier League lebih longgar dibandingkan dengan UEFA, yang menetapkan batasan di angka 70%, liga ingin menggabungkan ambang spesifik klub dengan batasan liga yang ditetapkan lima kali lipat dari pendapatan klub yang berada di posisi terbawah.
Manchester City dan Manchester United termasuk dalam setidaknya enam klub yang berencana untuk menolak proposal ini dalam pertemuan pemegang saham, yang dapat menggagalkan usulan tersebut karena perubahan aturan membutuhkan dukungan dari dua pertiga klub. Bahkan, kekhawatiran lain bagi liga adalah sejumlah klub yang sedikit lebih sedikit juga menolak SCR, yang menunjukkan kemungkinan bahwa tidak ada perubahan yang disepakati dan aturan PSR tetap berlaku meski tidak populer.
Pemilihan Ketua dan Masa Depan Liga
Di London, Sam Wallace melaporkan bahwa ketua Premier League, Alison Brittain, sedang mencalonkan diri untuk periode tiga tahun lagi, di tengah potensi masa sulit bagi liga. 20 klub mungkin akan mencermati pemilihan Brittain dengan kemungkinan menolak proposal baru mengenai kontrol finansial yang mendasari kompetisi.
Aturan baru SCR dan prinsip “anchoring” yang dirancang untuk memastikan klub-klub dengan pengeluaran tertinggi tetap berada dalam jangkauan klub terendah, mungkin tidak akan dilanjutkan untuk di suara. Dukungan terhadap Brittain, meskipun ada, sangat bergantung pada hasil dari kasus hukum besar yang dihadapi Premier League melawan Manchester City. Jika hasilnya buruk bagi liga, posisi Brittain bisa terancam.
Dengan situasi yang berkembang cepat ini, Premier League akan menghadapi tantangan besar dalam menerapkan kontrol finansial yang dapat mempengaruhi stabilitas kompetisi ke depan. Masih harus dilihat bagaimana reaksi klub-kub lain dan perkembangan hukum yang tengah berlangsung.
(PL/GN)
sumber : www.sportsbusinessjournal.com
Leave a comment