Buffon Akui Momen Genting Italia, Bayang-bayang Kegagalan Terus Menghantui
Mantan kiper legendaris Italia, Gianluigi Buffon, saat ini bertugas sebagai Kepala Delegasi tim nasional. Ia tak sungkan mengakui bahwa ini adalah “momen yang sensitif” bagi skuad Azzurri. Situasi tersebut terasa semakin berat dengan publik Italia yang, menurutnya, “melihat hantu di mana-mana” akibat kegagalan di babak play-off sebelumnya, baik pada tahun 2017 maupun 2022.
Masa Lalu dan Kegelisahan Publik
Kiprah Italia dalam beberapa dekade terakhir memang diwarnai pasang surut yang drastis. Setelah menjuarai Piala Dunia 2006, mereka sempat terpuruk dan gagal lolos ke dua edisi Piala Dunia berturut-turut, yaitu 2018 dan 2022. Kedua kegagalan itu terjadi di babak play-off, meninggalkan trauma mendalam bagi para penggemar dan internal tim.
Kekalahan dari Swedia pada 2017 dan dari Makedonia Utara pada 2022 menjadi noda hitam yang terus membayangi. Buffon sadar betul bahwa kenangan pahit ini masih segar di ingatan, membuat setiap pertandingan krusial berikutnya selalu diiringi ketegangan yang luar biasa.
Peluang dan Tantangan di Play-off Mendatang
Meski dihantui masa lalu, Italia tetap harus menghadapi kenyataan. Untuk menghadapi babak kualifikasi atau play-off penting di masa depan, mereka harus memperlakukan setiap pertandingan selayaknya laga biasa. Italia memiliki keuntungan sebagai tim unggulan dan akan memainkan semi-final di kandang sendiri, kemungkinan besar di Bergamo.
Namun, daftar calon lawan yang bisa mereka hadapi tak kalah menakutkan. Italia berpotensi bertemu Swedia, Irlandia Utara, atau Makedonia Utara di babak semi-final—tim-tim yang ironisnya pernah menjadi momok bagi mereka di masa lalu dalam upaya melaju ke Piala Dunia. Walaupun secara statistik atau di atas kertas Italia jauh diunggulkan atas semua calon lawan tersebut, performa di lapangan bisa sangat berbeda.
Beban Psikologis yang Menggunung
Meskipun ada keuntungan teknis dan status unggulan, optimisme terhadap tim nasional Italia saat ini terbilang minim. Beban psikologis dari kegagalan dalam satu dekade terakhir begitu besar. Tantangan terbesar yang akan dihadapi Italia, mungkin pada bulan Maret mendatang dalam fase krusial kualifikasi atau play-off, bukanlah melawan lawan di lapangan, melainkan mengatasi ketakutan mereka sendiri akan kegagalan.
Tim Azzurri dituntut untuk menemukan kembali mental juara mereka dan melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalu agar dapat melangkah maju dan mengembalikan kejayaan sepak bola Italia di kancah internasional.
(WC/GN)
sumber : www.nytimes.com
Leave a comment