Tantangan Mental Roger Federer: Berbagi Ruang Ganti dengan Sampras dan Agassi Adalah Hal Tersulit dalam Kariernya
Legenda tenis dunia, Roger Federer, baru-baru ini memberikan gambaran langka mengenai fase “terberat” dalam kariernya. Momen tersebut datang di awal perjalanannya di dunia profesional, ketika ia harus berbagi ruang ganti dengan para ikon seperti Pete Sampras dan Andre Agassi.
Dalam sebuah wawancara dengan Tages-Anzeiger setelah pengumuman dirinya masuk dalam International Tennis Hall of Fame, pemenang 20 gelar Grand Slam ini mengungkapkan periode sulit yang harus ia hadapi sebelum akhirnya mendominasi puncak tenis.
Federer: “Bukan Cuma Senang-Senang”
Federer mengaku bahwa pada awalnya ia sangat bersemangat bisa berada satu ruangan dengan para pemain terbaik di era tersebut. Namun, kegigihan dan daya saing mereka yang ekstrem tak jarang membuatnya kewalahan.
“Hal tersulit bagi saya adalah transisi dari junior ke profesional. Awalnya super keren. Tiba-tiba saya berada di ruang ganti bersama Pete Sampras, Andre Agassi, Tim Henman, Yevgeny Kafelnikov, Carlos Moya, dan lainnya. Dan saya berpikir: Ini yang terbaik! Tapi kemudian semuanya menjadi sangat serius,” kata Federer.
“Seorang pemain melilitkan grip raketnya dengan ekspresi muram, dan Anda berpikir: Ya Tuhan, dia intens sekali. Pemain lain berjalan melewati Anda tanpa melirik sama sekali. Dan Anda berpikir: Dia ingin menang dengan segala cara! Namun: Apakah ini benar-benar sepenting itu? Fase itu sulit bagi saya. Ketika Anda sering bepergian, sering kalah, dan emosi Anda campur aduk seperti saya saat itu, Anda berpikir: Saya tidak membaca cetakan kecil dalam kontrak tenis ini. Ini bukan cuma senang-senang. Keseriusan ini membebani saya. Tahun-tahun dari usia 18 hingga 20 atau 21 sangat sulit bagi saya.”
Federer menambahkan, ia beruntung memiliki sistem pendukung yang kuat di sekelilingnya, termasuk Mirka, yang saat itu masih menjadi kekasihnya dan kini menjadi istrinya. Hal ini membantunya tetap tangguh secara mental.
“Tidak lagi (sulit). Saya punya perspektif yang baik saat itu, dan saya memiliki Mirka serta tim saya di sekitar saya. Kami selalu bersenang-senang. Ketika keadaan mulai terlalu serius, kami justru lebih banyak bercanda dari biasanya. Dan kemudian semuanya baik-baik saja lagi,” tambah Federer.
Pembentukan Sang Juara
Dalam dunia olahraga, sering dikatakan bahwa kesulitan membentuk juara. Tampaknya hal yang sama berlaku untuk Federer, yang kemudian meraih banyak gelar mayor dan menjadi pemain nomor satu dunia selama 310 minggu sepanjang kariernya. Ia memutuskan pensiun dari dunia tenis pada tahun 2022. Pengalamannya beradaptasi dengan atmosfer persaingan yang intens di awal karier jelas menjadi fondasi kuat bagi dominasinya di masa depan.
(OL/GN)
sumber : www.firstpost.com
Leave a comment