Teknologi Offside Semi-Automatis di Premier League: Masih Ada Tantangan
Ketika Premier League memperkenalkan teknologi offside semi-otomatis, banyak yang berharap dapat mengakhiri perdebatan mengenai keputusan offside. Namun, hingga saat ini, masih ada masalah besar terkait bagaimana keputusan tersebut disampaikan kepada penggemar.
Contoh Kasus Nyata
Pada pertandingan Newcastle United melawan Manchester City, Bruno Guimaraes terlihat sedikit berada di depan Ruben Dias dalam proses gol yang dicetak Harvey Barnes. Namun, setelah teknologi diterapkan, gol tersebut sah.
Di pertandingan yang berlangsung pada hari berikutnya, Gabriel Gudmundsson juga tampak sedikit berada dalam garis offside VAR sebelum Lukas Nmecha mencetak gol pembuka untuk Leeds United melawan Aston Villa. Sekali lagi, gol tersebut diberikan.
Fungsi Teknologi yang Belum Optimal
Teknologi baru ini seharusnya dapat memperjelas keputusan. Dengan menghilangkan garis-garis manual yang digambar di layar TV dan digantikan oleh animasi yang lebih canggih, harapannya adalah ketidakpastian bisa terminimalisir. Namun, kenyataannya tidak selalu demikian.
Salah satu masalah yang kurang dikenal adalah toleransi atau margin kesalahan yang diterapkan dalam teknologi Premier League. Di liga lain, keputusan offside ditentukan dengan ketelitian milimeter. Namun, di Premier League, ada toleransi 5 cm yang setara dengan lebar garis hijau. Sebagai contoh, Gudmundsson dianggap onside karena kakinya berada di dalam batas tersebut.
Guimaraes juga berada sedikit di depan Dias namun masih tetap dalam batas toleransi yang ditetapkan.
Dampak terhadap kompetisi
Meski adanya teknologi semi-otomatis ini bertujuan untuk memberikan keadilan dalam pengambilan keputusan, tantangan dalam penyampaian informasi jelas masih menjadi isu. Kejelasan informasi tentang keputusan tersebut dapat meningkatkan pengalaman menonton bagi para penggemar di seluruh dunia.
(PL/GN)
sumber : www.bbc.com
Leave a comment