Kisah Lee Hyun-joong: Dalam Perjalanan Menuju Puncak
Lee Hyun-joong, bintang tim basket putra Korea Selatan, baru-baru ini mencatatkan dua kemenangan beruntun melawan Tiongkok dalam kualifikasi Piala Dunia FIBA. Dia mengekspresikan optimisme tinggi, menyatakan harapannya agar para penggemar lebih bahagia dengan pencapaian timnya.
Ambisi yang Tinggi
Pemenang FIBA World Cup, berpartisipasi di Olimpiade Musim Panas, dan menembus NBA menjadi target utama Lee. Seteah sukses dalam dua pertandingan terakhir, kini ia kembali ke klub Nagasaki Belka di Liga B Jepang. “Tiongkok adalah salah satu lawan yang harus kita kalahkan,” ujarnya saat berangkat dari Bandara Internasional Incheon.
Pendidikan dan Awal Karier
Lee Hyun-joong berasal dari keluarga atlet. Ibunya, Sung Jung-ah, adalah peraih medali perak Olimpiade 1984, sementara ayahnya adalah mantan pelatih tim basket. “Saya memutuskan untuk menjadi pemain basket sejak saya kelas empat SD,” ungkapnya. Sejak SMP, Lee sudah menarik perhatian berkat postur tubuhnya yang menjulang lebih dari 190 cm.
Pendidikan di Australia dan Pemilihan Universitas
Lee melanjutkan pendidikan di NBA Global Academy di Canberra, Australia, sebelum menerima tawaran dari lebih dari 20 universitas di Amerika. Ia akhirnya memilih Davidson College, alma mater Stephen Curry. Pada tahun ketiganya, Lee menjadi pemain kunci timnya, tetapi cedera ankle menjelang draft menghalangi langkahnya ke NBA.
Meski mengalami cedera, Lee tetap optimis. Ia kini bermain di Liga B Jepang setelah sebelumnya bergabung dengan G League dan liga di Australia. Di Nagasaki, ia mencetak rata-rata 18.3 poin dan 5.8 rebound dengan persentase akurasi tembakan 48.4% dalam 18 pertandingan musim ini.
Tak Kenal Menyerah
Lee menganggap penyingkirannya dari draft sebagai peluang untuk memperkuat diri. Selama masa pemulihan, ia berhasil menambah berat otot mencapai 8 kg. “Saya percaya batasan hanya diciptakan oleh diri sendiri,” tambahnya.
Latihan dan Motivasi
Lee terus berusaha menjadi pemain yang lebih baik dengan mengikuti pola diet dan metode pelatihan dari pemain NBA, termasuk Stephen Curry. “Jika Anda merasa puas dan tidak menantang diri sendiri, pertumbuhan akan berhenti,” paparnya. Dia menganggap semua pengalaman di lapangan, baik positif maupun negatif, sebagai pelajaran berharga.
Penampilan Gemilang
Dalam pertandingan terakhir melawan Tiongkok, Lee mencetak 33 poin, termasuk sembilan tembakan tiga angka. Namun, ia tetap merasa belum puas. “Saya ingin terus berkembang dalam semua aspek permainan,” ujarnya. Kecerdasan bermainnya membuatnya mampu berkontribusi di berbagai posisi, baik dalam menyerang maupun bertahan.
Harapan untuk Tim Nasional
Dengan cinta yang mendalam terhadap timnas, Lee sangat berharap Korea Selatan bisa kembali berprestasi di tingkat internasional. Pencapaian terbaik Korea di Piala Dunia FIBA adalah peringkat ke-11 pada tahun 1959 dan 1967, serta partisipasi terakhir mereka di Olimpiade pada tahun 1996. “Saya selalu mendambakan kemenangan. Kami akan berusaha keras untuk meraih kemenangan di Piala Dunia FIBA dan tidak lama lagi, saya yakin kita bisa kembali ke Olimpiade,” tutupnya.
Dengan dedikasi dan kerja kerasnya, Lee Hyun-joong berupaya membawa kebangkitan baru bagi basket Korea Selatan.
(BA/GN)
sumber : www.mk.co.kr
Leave a comment