Sejarah dan Evolusi Aturan yang Pernah Membentuk Permainan
Sepak bola telah berevolusi selama lebih dari 160 tahun. Dari pertandingan yang hanya dimainkan oleh pelajar Inggris hingga olahraga global yang memakai teknologi canggih, perubahan paling dramatis justru terjadi pada aturan permainan. Banyak aturan lama kini dianggap konyol, tidak masuk akal, atau bahkan berbahaya, tetapi pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan sepak bola.
Beberapa aturan lahir karena kondisi sosial, sebagian muncul dari kebutuhan menghentikan kekacauan, dan sisanya karena eksperimen yang tidak berjalan baik. Ketika dilihat dari kacamata modern, aturan aturan ini terlihat seperti lelucon, tetapi tanpa mereka, evolusi sepak bola tidak akan sampai ke bentuknya sekarang.
Berikut tujuh aturan lama yang benar benar pernah diterapkan dalam pertandingan resmi.
1. Kapten Menentukan Bola dan Arah Bermain dengan Lempar Koin Tunggal
Aturan sebelum 1900 yang memberi keuntungan besar hanya karena keberuntungan
Pada masa awal sepak bola, teknologi belum ada, standar bola belum jelas, dan lapangan sangat dipengaruhi kondisi alam. Dalam keadaan itu, sebuah lemparan koin menentukan dua hal sekaligus: siapa melakukan kick off dan ke arah mana tim menyerang.
Hasil lempar koin bisa menentukan:
• apakah tim menyerang ke sisi lapangan yang terkena angin kuat
• apakah mereka mendapatkan matahari tepat di depan wajah
• apakah mereka memakai bola lebih bagus atau bola cadangan yang lebih berat
Bola pada masa itu sangat tidak konsisten. Kulitnya mudah menyerap air sehingga bobotnya berubah. Ada bola yang bentuknya hampir tidak bulat, dan kapten sering memperdebatkan bola mana yang dipakai.
Satu lemparan koin bisa menjadi perbedaan antara kemenangan dan kekalahan.
Lapangan juga tidak rata. Tanah miring dan rumput liar menjadikan satu sisi sering lebih menguntungkan. Kapten yang kalah tos sering memprotes karena merasa pertandingan sudah tidak adil sejak awal.
FIFA akhirnya memisahkan dua keputusan itu. Kick off ditentukan dengan koin, sedangkan bola dan lapangan distandarkan melalui Laws of the Game.
2. Wasit Tidak Boleh Masuk Lapangan
Pertandingan berjalan tanpa pengawas langsung, sehingga protes dan kekacauan menjadi hal biasa
Pada era 1800-an, sepak bola dipimpin oleh dua umpires, masing masing mewakili tiap tim. Mereka berdiri di tepi lapangan, bukan di dalamnya. Wasit, yang disebut referee, bertugas di luar lapangan sebagai pengadil final jika kedua umpires tidak sepakat.
Artinya:
• wasit hanya terlibat jika ada protes
• pemain bebas melakukan pelanggaran jika tidak dilihat umpires
• pertandingan sering berakhir ricuh karena tidak ada pemimpin tunggal
• keputusan sering bias karena umpire adalah wakil dari masing masing tim
Banyak catatan pertandingan menyebut terjadinya adu jotos karena tidak ada yang menghentikan permainan dengan tegas.
Pada 1891, IFAB memperbarui aturan. Wasit akhirnya diizinkan masuk lapangan, memegang kendali penuh, dan meniup peluit untuk menghentikan permainan. Ini menjadi titik lahirnya peran wasit modern.
Tanpa perubahan ini, sepak bola mungkin masih terlihat seperti adu emosi bukan olahraga terstruktur.
3. Tidak Ada Kartu Kuning dan Merah
Peringatan verbal yang sering diabaikan dan menyebabkan kekacauan internasional
Sebelum Piala Dunia 1970, tidak ada kartu untuk menandai peringatan atau pengusiran pemain. Wasit hanya memberi peringatan secara verbal. Masalah muncul ketika pemain berpura pura tidak mendengar atau pura pura tidak mengerti bahasa wasit.
Situasi paling kacau terjadi pada Piala Dunia 1966 ketika wasit asal Jerman memberi peringatan lisan kepada gelandang Inggris, tetapi tidak mencatatnya. Ia memperingatkannya dua kali lagi di babak kedua, dan tetap tidak mengeluarkannya. Penonton marah, media bingung, dan sistem peringatan dianggap tidak efektif.
Ide kartu datang dari kenangan wasit Ken Aston tentang lampu lalu lintas. Kuning berarti hati hati. Merah berarti berhenti.
Pada Piala Dunia 1970, kartu kuning dan merah resmi diperkenalkan. Sistem visual ini menciptakan standar internasional yang jelas dan mencegah salah paham antar bahasa.
Sulit membayangkan sepak bola modern tanpa kartu. Namun hampir satu abad lamanya, sepak bola berjalan tanpa alat visual peringatan.
4. Gol Penalti Boleh Ditembak dari Mana Saja dalam Radius 12 Yard
Tidak ada titik putih dan kiper bebas berdiri di mana pun
Ketika penalti pertama kali diperkenalkan pada 1891, konsepnya masih sangat berbeda dari versi modern. Tidak ada titik putih. Penendang boleh menempatkan bola dari posisi mana pun asalkan dalam jarak 12 yard dari garis gawang. Kiper diperbolehkan berdiri di mana saja sepanjang garis.
Hasilnya sangat aneh:
• penendang memilih sudut ekstrem agar sudut tembak lebih mudah
• kiper bergerak jauh ke samping untuk memancing arah tendangan
• sudut penalti bisa sangat menyulitkan kiper
• tidak ada standar sehingga setiap laga tampil berbeda
Bahkan ada kasus penendang menempatkan bola di garis paling kanan, lalu menembak dengan keras ke sisi kiri, membuat penalti nyaris tak terbendung.
Tahun 1902, titik penalti resmi ditetapkan. Aturan kiper untuk berdiri di garis juga diperketat. Evolusi inilah yang melahirkan format penalti modern.
5. Penjaga Gawang Boleh Menangkap Backpass

Taktik membuang waktu menjadi tidak terbendung dan membuat sepak bola lamban
Hingga tahun 1992, kiper boleh menangkap bola yang dikirim oleh rekan setimnya. Aturan ini awalnya dibuat agar kiper lebih mudah melakukan kontrol permainan. Namun pelatih segera menemukan celah untuk mengeksploitasinya.
Banyak tim yang unggul memanfaatkan aturan ini dengan ekstrem:
• pemain belakang terus mengoper ke kiper
• kiper menangkap bola, memeluknya selama enam detik
• meletakkan bola, lalu mengoper ke bek
• bek mengoper lagi ke kiper untuk ditangkap ulang
Perilaku ini membuat pertandingan berjalan sangat lambat. Pada Piala Eropa 1992, beberapa laga dianggap membosankan karena tim memanfaatkan backpass untuk membunuh tempo.
IFAB akhirnya menghapus aturan tersebut. Kiper sudah tidak boleh menangkap backpass kaki sejak 1992. Perubahan ini melahirkan sepak bola modern yang cepat, penuh pressing, dan berisiko tinggi.
6. Tidak Ada Offside atau Aturan Offside yang Mirip Rugby
Sebelum 1925, hampir mustahil mencetak gol
Awalnya, aturan offside sepak bola mirip rugby. Seorang pemain dianggap offside jika berada di depan bola ketika menerima umpan. Akibatnya, tidak ada pemain yang boleh menunggu bola di area lawan. Penyerang harus selalu berada di belakang bola.
Hasilnya:
• sangat sedikit gol yang tercipta
• pertahanan selalu unggul jumlah
• permainan lebih mirip lari beregu daripada menyerang terstruktur
Pada 1925, aturan diubah. Pemain tidak dianggap offside jika ada dua lawan di depannya. Gol langsung meningkat drastis. Pertandingan menjadi lebih menyerang.
Pada 1990, aturan modern lahir: penyerang tidak offside jika sejajar. Keputusan ini merevolusi sepak bola. Ruang antar lini terbuka lebih luas, dan gaya menyerang berkembang besar.
Tanpa evolusi offside, sepak bola mungkin menjadi permainan bertahan yang membosankan.
7. Perpindahan Posisi Bebas Tanpa Struktur Formasi
Semua pemain bebas menjadi apa saja, bahkan kiper bisa ikut menyerang kapan pun
Sebelum taktik berkembang, formasi tidak dianggap sebagai sistem yang harus dipertahankan. Pemain bebas bertukar posisi berkali kali dalam satu babak. Penyerang bisa menjadi bek dalam dua menit berikutnya. Gelandang bisa berdiri di area sayap tanpa alasan taktis.
Karena tidak ada larangan, strategi liar terjadi:
• pemain menumpuk di satu sisi lapangan untuk menciptakan kelebihan jumlah
• beberapa tim menyerang dengan tujuh hingga delapan pemain sekaligus
• penjaga gawang sering ikut maju karena tidak ada risiko struktur bertahan runtuh
Perubahan terjadi pada 1960-an ketika pelatih seperti Helenio Herrera, Gustav Sebes, dan Rinus Michels mulai memperkenalkan struktur formasi serta zona pertahanan.
Sejak itu sepak bola menjadi jauh lebih terorganisir dan efisien.
Leave a comment