Masa Depan Tinju Fiji di Persimpangan Jalan: Konflik IBA dan Jalur Olimpiade
Partisipasi petinju Mikaele Ravalaca dalam kejuaraan International Boxing Association (IBA) kembali memicu perdebatan sengit sekaligus membuka peluang baru dalam kancah tinju Fiji. Peristiwa ini menyoroti kompleksitas tata kelola dan prospek masa depan olahraga adu jotos di negara kepulauan tersebut.
Dua Badan Tinju Beroperasi di Fiji?
Menurut pelatih Ravalaca, Osea Nanovu, Fiji kini kembali terdaftar di IBA. Perkembangan ini mengindikasikan bahwa Fiji akan memiliki dua badan tinju yang beroperasi secara bersamaan: World Boxing Organization (WBO) dan IBA.
Afiliasi panjang Fiji dengan IBA, yang sudah terjalin sejak tahun 1950-an, sebenarnya berakhir pada tahun 2023. Hal ini menyusul keputusan Komite Olimpiade Internasional (IOC) yang mengeluarkan IBA dari gerakan Olimpiade pada Juni 2023. Pencabutan status ini disebabkan oleh sejumlah masalah terkait tata kelola, transparansi keuangan, dan integritas penjurian.
Dengan IBA yang tidak lagi mengawasi tinju Olimpiade atau kualifikasi, Fiji Amateur Boxing Association (FABA) kemudian beralih ke jalur yang diakui Komite Olimpiade Internasional (IOC) untuk memastikan para petinju lokal bisa berkompetisi di ajang seperti Pacific Games dan Olimpiade. Disebutkan bahwa FABA berafiliasi dengan World Boxing Organization (WBO) untuk tujuan tersebut.
Peluang Baru atau Pelanggaran Aturan?
Nanovu meyakini bahwa pendaftaran ulang Fiji ke IBA menawarkan peluang baru bagi para petinju lokal. Ia menjelaskan bahwa kompetisi amatir IBA memungkinkan petinju amatir maupun profesional untuk bersaing. Aturan inilah yang memungkinkan Ravalaca, seorang petinju profesional, untuk bertarung di Kejuaraan Dunia IBA di Dubai.
“Tinju amatir IBA memungkinkan petinju profesional untuk bertarung dalam program mereka. Itulah mengapa Mika (Ravalaca), sebagai seorang profesional, diizinkan untuk bertarung di program mereka (Kejuaraan Dunia IBA),” kata Nanovu.
Selain itu, Nanovu juga mengklaim bahwa IBA menawarkan hadiah uang yang lebih besar, dengan lebih dari $8 juta (sekitar Rp129 miliar) tersedia di Kejuaraan Dunia tahun ini.
Namun, pelatih tinju amatir nasional, Cam Todd, dengan tegas membantah klaim Nanovu tersebut. Todd menegaskan bahwa FABA adalah satu-satunya badan tinju amatir yang diakui oleh IOC dan FASANOC (Komite Olimpiade Nasional Fiji) di Fiji.
Todd menuduh IBA telah melewati peraturan dengan mengundang Ravalaca tanpa persetujuan dari FABA.
“Dia (Ravalaca) pergi atas kemauannya sendiri, saya pikir dia dibantu oleh Seru Whippy yang juga bukan bagian dari FABA, serta Osea Nanovu yang sebenarnya adalah pelatih yang diskors di bawah tinju amatir Fiji,” ungkap Todd.
FABA sendiri telah mengeluarkan peringatan bahwa siapa pun yang terlibat dengan IBA berisiko dicopot dari keanggotaan FABA. Situasi ini menandai babak yang kompleks dalam tinju Fiji, di mana tata kelola dan prospek masa depan olahraga ini berada di persimpangan jalan yang krusial.
(OL/GN)
sumber : www.fijitimes.com.fj
Leave a comment