Tangis Haru Antoine Kombouare Saksikan Paris Saint-Germain Raih Trofi Liga Champions Perdana
Paris Saint-Germain (PSG) akhirnya berhasil menuntaskan dahaga panjang akan gelar Liga Champions. Pada 31 Mei lalu, raksasa Prancis itu mengukir sejarah dengan memenangkan trofi prestisius tersebut untuk kali pertama, setelah menghancurkan Inter Milan dengan skor telak 5-0 di partai final. Momen bersejarah ini tak hanya disambut suka cita oleh para pemain dan penggemar, namun juga memicu luapan emosi dari sosok yang tak asing bagi klub, Antoine Kombouare, yang kala itu bertugas sebagai komentator pertandingan.
Perjalanan Panjang Menuju Puncak Eropa
PSG telah memimpikan gelar Liga Champions selama bertahun-tahun. Beberapa kali mereka nyaris meraihnya, seperti saat mencapai final pada tahun 2020 dan semifinal di musim 2024. Namun, dibutuhkan hingga musim lalu bagi PSG untuk akhirnya berdiri di puncak Eropa, melalui kampanye Liga Champions yang luar biasa. Mereka sukses menyingkirkan tim-tim kuat seperti Liverpool yang merupakan pemimpin fase grup, Aston Villa, dan Arsenal, sebelum menunjukkan dominasinya atas Inter Milan di final dengan kemenangan meyakinkan 5-0.
Momen Emosional Sang Mantan
Antoine Kombouare, yang pernah menjadi pemain dan pelatih klub ibu kota itu, tidak bisa menahan perasaannya di akhir pertandingan. Saat menjadi komentator untuk M6, Kombouare merefleksikan emosinya di penghujung laga.
“Saya menangis di stadion, dan saya mengakuinya,” ujarnya. “Ketika saya melihat anak-anak itu berlarian ke mana-mana untuk berpelukan satu sama lain. Saya ikut senang untuk Marquinhos, yang pernah merasakan kepedihan remontada. Dan saya bisa turun ke lapangan setelahnya.”
Pujian dan Kebanggaan yang Mendalam
Kombouare juga menceritakan interaksinya setelah pertandingan dengan pelatih Luis Enrique dan Presiden PSG, Nasser Al-Khelaifi.
“Saya menyelipkan beberapa kata kepada Luis Enrique dan Nasser. Kami semua adalah orang Paris. Nasser berbisik kepada saya dengan ramah: Terima kasih, pelatih, ini bersama Anda, Anda adalah bagian dari keluarga. Kata-kata sederhana, tetapi menghangatkan hati,” kata mantan pelatih PSG itu dalam sebuah wawancara dengan Le Parisien.
Meski mendapat akses ke lapangan, Kombouare memilih untuk tidak menyentuh trofi Liga Champions.
“Apakah saya menyentuh trofi? Tidak, tidak itu. Saya ingin tetap berada di belakang. Saya tidak berani. Itu bukan kemenangan saya. Itu harus diserahkan kepada para pemenang,” tambah Kombouare.
Ia merasa sangat istimewa bisa menjadi bagian dari momen tersebut, terutama sebagai pundit di kemenangan perdana PSG di Liga Champions.
“Tapi saya merasa istimewa berada di sana. Saya mengalami semua itu dari dalam. Itu adalah yang pertama bagi saya sebagai pundit dan yang pertama tidak akan pernah Anda lupakan. Berbicara tentang yang pertama, para penggemar Marseille mengatakan: Selamanya yang pertama. Tetapi bagi kami, ini benar-benar: Selamanya yang terbaik. Menang 5-0 di final Liga Champions, belum ada yang pernah melakukan itu sebelumnya. Tidak ada. Dan saya ada di sana.”
Kemenangan telak 5-0 di final Liga Champions memang menjadi bukti dominasi PSG dan memberikan penutup manis bagi penantian panjang mereka. Gelar ini tidak hanya mengukuhkan posisi PSG di kancah sepak bola Eropa, tetapi juga menorehkan rekor baru yang sulit dipecahkan, sekaligus menjadi kebanggaan tak terkira bagi setiap insan yang pernah menjadi bagian dari klub, termasuk Antoine Kombouare.
(LC/GN)
sumber : sports.yahoo.com
Leave a comment