Home Sepakbola Champions League Gaji Bola John Robertson: Dulu Vs Sekarang, Ada Apa?
Champions League

Gaji Bola John Robertson: Dulu Vs Sekarang, Ada Apa?

Share
Gaji Bola John Robertson: Dulu Vs Sekarang, Ada Apa?
Share

John Robertson: Simbol Kejayaan Murni Piala Eropa Sebelum Era Modernisasi

Hubungan Inggris dengan sepak bola Eropa di awal-awal kompetisi tidak berjalan mulus. Pada Piala Eropa pertama tahun 1955, Chelsea sebagai juara First Division justru dilarang oleh FA untuk berpartisipasi. Federasi saat itu menganggap kompetisi tersebut tidak sesuai dengan kepentingan sepak bola Inggris.

Awal Mula Kompetisi dan Dominasi Real Madrid

Kompetisi itu sendiri adalah turnamen knockout dua leg, kandang dan tandang, yang hanya diikuti oleh juara liga dan tanpa sistem seeding. Model ini mirip dengan FA Cup klasik sebelum formatnya berubah. Lima tahun pertama ditandai oleh dominasi Real Madrid, yang berhasil memenangkan lima gelar beruntun dari 1955 hingga 1960. Ini adalah era kelahiran budaya sepak bola Eropa yang populer.

Final Piala Eropa 1960 antara Real Madrid dan Eintracht Frankfurt di Hampden Park, yang disaksikan 127.671 penonton dengan skor akhir 7-3, disiarkan oleh BBC. Di seluruh Eropa, sekitar tujuh puluh juta orang menyaksikan pertandingan tersebut melalui TV terestrial. Pertandingan ini disebut-sebut sebagai salah satu pertandingan sepak bola terhebat sepanjang masa. Kompetisi pun terus berkembang; 26 juara liga negara berpartisipasi, meningkat dari enam belas pada tahun 1955.

Tragedi Munich dan Semangat Solidaritas

Tragedi juga mewarnai perjalanan kompetisi. Pada tahun 1958, Musibah Udara Munich terjadi. Pesawat Manchester United jatuh saat kembali dari pertandingan perempat final melawan Red Star Belgrade. Sebagai bentuk solidaritas, Liverpool bahkan meminjamkan pemainnya agar United bisa menyelesaikan musim mereka.

Pada edisi Piala Eropa berikutnya, UEFA mengundang United untuk berpartisipasi, sebuah tindakan solidaritas yang luar biasa. Namun, FA Inggris justru menolak izin United untuk tampil kembali di kompetisi tersebut, sebuah keputusan yang cukup mengejutkan.

Ekspansi Kompetisi dan Gelar Perdana Tim Inggris

Sepanjang tahun 1960-an, kompetisi terus meluas dengan bergabungnya juara dari Norwegia, Malta, Albania, dan Islandia. Pada tahun 1966, Partizan dari Yugoslavia menjadi tim Eropa Timur pertama yang mencapai semi final.

Musim 1966-67, juara Uni Soviet pertama kali ikut serta. Celtic kemudian menjadi tim ‘Inggris Raya’ pertama yang mencapai dan memenangkan final, mengalahkan Inter Milan setelah menyingkirkan Dukla Prague dan Vojvodina. Kemenangan Celtic ini sangat istimewa karena seluruh timnya lahir dan tumbuh di Glasgow. Dalam dua belas tahun pertama, Eropa sudah memiliki juara dari Spanyol, Portugal, Italia, dan kini Skotlandia.

Pada tahun 1968, Manchester United menjadi juara Inggris pertama yang meraih trofi tersebut, setelah melewati babak extra time di Wembley. Kemenangan ini terjadi tepat sepuluh tahun setelah tragedi Munich. Pencetak gol United di final adalah Bobby Charlton (2), Brian Kidd, dan George Best. Inti tim mereka, seperti Bill Foulkes, David Sadler, John Aston, Nobby Stiles, Shay Brennan, dan Tony Dunne, merupakan produk ‘Busby’s School of Excellence’ yang terkenal.

Baca juga:  Demi Real Madrid, Incaran PSG Ini Cueki Liverpool!

Dukungan luas Manchester United saat ini, baik di Inggris Raya maupun secara global, sering dikaitkan dengan strategi pemasaran yang hebat. Namun, akarnya berasal dari gelombang simpati nasional pasca-1958 dan perayaan kemenangan di tahun 1968 yang menandai pemulihan klub. Peristiwa ini menyatukan banyak orang, bahkan di kalangan penggemar non-United, yang bangga akan semangat kebangkitan tersebut.

Sisi Gelap: Reputasi Hooliganisme Inggris

Namun, tidak semua berjalan baik. Pada tahun 1970-an, reputasi hooliganisme sepak bola Inggris mulai mencuat. Hal ini mencapai puncaknya pada tahun 1975 ketika pendukung Leeds United, klub Inggris kedua yang mencapai final Piala Eropa, terlibat kerusuhan di stadion setelah kekalahan dari Bayern Munich. Meskipun negara lain juga memiliki masalah hooliganisme di tingkat domestik, Inggris dikenal karena ‘mengekspor’ masalah ini ke kompetisi Eropa.

Era Kejayaan John Robertson Bersama Nottingham Forest

Kabar gembira datang pada tahun 1977, saat Liverpool mengalahkan Borussia Mönchengladbach di final Roma. Dengan manajer asal Inggris, Bob Paisley, dan beberapa pemain asing seperti Joey Jones (Wales) serta Steve Heighway (Republik Irlandia), Liverpool memulai rentetan enam kemenangan beruntun oleh juara liga Inggris.

Liverpool memenangkan Piala Eropa kedua mereka secara beruntun pada tahun 1978 dan kembali meraihnya pada tahun 1981. Di antara kemenangan Liverpool, ada pencapaian yang bisa dibilang paling luar biasa di Piala Eropa. Pada musim 1978-79, Nottingham Forest asuhan Brian Clough menyingkirkan Liverpool yang berstatus juara bertahan di babak pertama.

Forest kemudian memenangkan Piala Eropa pertama dari dua gelar beruntun mereka. Tim ini diperkuat oleh tiga pemain asing, semuanya berkebangsaan Skotlandia: Kenny Burns, John McGovern, dan John Robertson, ditambah dua pemain Skotlandia lainnya sebagai cadangan tak terpakai, serta Martin O’Neill dari Irlandia Utara.

Pada musim 1979-80, Forest berhasil mempertahankan Piala Eropa. Catatan unik mereka adalah memenangkan Piala Eropa lebih banyak daripada gelar liga domestik mereka. Di final, tim Forest yang diperkuat tiga pemain Skotlandia dan satu cadangan, dengan manajer asal Inggris, berhasil mengalahkan Hamburg.

John Robertson, salah satu dari pemain Skotlandia tersebut, merupakan sosok sentral dalam pencapaian luar biasa ini. Ia mencatatkan 243 penampilan beruntun untuk Nottingham Forest dari Desember 1976 hingga Desember 1980. Selama periode itu, ia mencetak gol kemenangan di Final Piala Liga 1978, menjadi kunci keberhasilan tim menjuarai First Division 1977-78, memberikan assist untuk gol kemenangan Trevor Francis di Piala Eropa 1979, dan mencetak gol penentu kemenangan untuk mempertahankan gelar pada tahun 1980.

Baca juga:  Parma Imbang, Allegri Makin Ngebet Lolos Liga Champions.

Daniel Taylor, penulis sepak bola sekaligus penggemar Nottingham Forest, menggambarkan besarnya pencapaian yang diukir John dengan sempurna. Ia menyebutkan bahwa kebangkitan Forest terjadi ketika hanya juara setiap negara dan juara bertahan yang bisa berkompetisi di Piala Eropa. Tidak ada ‘jaring pengaman’ berupa berbagai babak grup untuk mengamankan tim dari kekalahan. Warisannya, tiga puluh lima tahun kemudian, adalah fakta bahwa Nottingham telah memenangkan kompetisi lebih banyak daripada London (kini setara), Paris, Berlin, Moskow, dan Roma — yang jika digabungkan memiliki populasi 30,4 juta jiwa.

Manchester United, juara pada tahun 1968, butuh tiga puluh satu tahun lagi untuk memenangkan Piala Eropa kedua mereka (kemenangan Ferguson pada 1999 adalah percobaan kelimanya). Chelsea baru berhasil meraihnya untuk London pada tahun 2012. Sementara Arsenal, Tottenham, dan klub besar lainnya masih dalam daftar tunggu.

Transformasi ke Liga Champions dan Hilangnya Esensi

Saat ini, kita mengenal kompetisi tersebut sebagai ‘Liga Champions’. UEFA telah menulis ulang seluruh sejarah Piala Eropa seolah-olah selalu bernama Liga Champions, padahal nama itu baru digunakan sejak musim 1992-93. ‘Liga Champions’ yang sekarang sejatinya bukanlah hanya untuk juara liga.

Deskripsi yang lebih akurat mungkin adalah ‘Liga Juara dan Runner-up Kaya Raya’. Atau, dalam format ekspansinya yang terbaru, ‘Liga Juara, Runner-up Kaya Raya, dan Tim Pelengkap’. Atas dasar apa sebuah klub yang finis keempat, kelima, atau bahkan keenam dapat digambarkan sebagai ‘Juara’? Tentu saja, jawabannya adalah kekayaan.

Tujuan mengganti format Piala Eropa dengan format liga sangatlah jelas: untuk melindungi dan melipatgandakan kekayaan klub serta liga yang sudah paling kaya. Sebuah kompetisi knockout, di mana tim diundi secara acak untuk saling berhadapan tanpa sistem seeding dan bermain dua leg kandang-tandang, dianggap mengancam tujuan tersebut. Padahal, itulah esensi dari sebuah olahraga.

Dampak dari perubahan ini adalah pencapaian John Robertson, seorang pemain dari klub yang bukan termasuk yang terkaya, dengan dua medali juara Piala Eropa, hampir pasti tidak akan pernah terulang. Hal ini benar-benar bertolak belakang dengan semangat dan esensi awal dari Piala Eropa yang seharusnya dirayakan.

(LC/GN)
sumber : www.counterfire.org

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

10 Penyerang Bintang yang Siap Gemparkan Turnamen!

Siap-siap untuk terpesona! Sepuluh penyerang bintang ini bersiap menggebrak turnamen dengan skill...

Prediksi Piala Dunia 2026: Juara, Pemain Terobosan, dan Kejutan!

I’m sorry, but I can’t assist with that. (LC/GN) sumber : www.nytimes.com...

Video lama viral, kekacauan pecah di Paris usai kemenangan PSG!

Video lama yang viral menunjukkan kekacauan di Paris setelah PSG meraih kemenangan....

Wharton Target Champions League, Mimpi Crystal Palace yang Semakin Dekat!

Wharton Target Champions League semakin mendekat bagi Crystal Palace, saat klub menunjukkan...