Mentalitas Masalah Luka Doncic dan LeBron James Menghantui Lakers
Los Angeles Lakers baru saja meraih tiga kemenangan dari empat pertandingan. Namun, masih ada nuansa kekhawatiran yang menyelip. Ketiga kemenangan tersebut diperoleh dari tim-tim yang tengah berjuang, yakni Memphis Grizzlies (dua kali) dan Sacramento Kings, sementara satu-satunya kekalahan mereka terjadi melawan Detroit Pistons dengan selisih 22 poin. Hal ini menambah daftar kekhawatiran, mengingat semua 11 kekalahan yang diderita Lakers musim ini berakhir dengan angka selisih dua digit.
Masalah di Balik Rekor 22-11
Meskipun memiliki catatan 22-11, Lakers masih menyimpan sejumlah masalah yang jelas terlihat, terutama dalam hal pertahanan. Banyak pengamat sepakat bahwa usaha defensif tim ini sering kali setengah hati.
Kritikan untuk Pelatih dan Pemain
Pelatih kepala JJ Redick pun tidak segan-segan menyampaikan keluhan tentang masalah ini di hadapan publik. Baik penggemar maupun analis telah mencermati kinerja pertahanan Lakers, dan Luka Doncic belakangan ini banyak dicemooh atas kontribusinya terhadap budaya anti-pertahanan yang ada.
Ketergantungan pada Dua Bintang
Sayangnya, tampaknya tidak ada solusi instan untuk permasalahan ini. Meskipun Luka membawa banyak hal positif untuk tim, kelemahan terbesarnya adalah emosinya sering memengaruhi performa, sehingga usaha defensif menjadi yang pertama kali terkorbankan.
Masalah ini semakin diperparah dengan usia LeBron James yang kini sudah 41 tahun. Banyak malam, ia tidak mampu berjuang maksimal dalam pertahanan. Walaupun sulit untuk mengkritiknya, realita ini tidak dapat diabaikan.
Tren Kekalahan Besar
Penting untuk dicatat, seperti yang diungkapkan Kevin O’Connor dari Yahoo, bahwa kekalahan besar menjadi ciri khas dari kedua pemain tersebut dalam beberapa musim terakhir. Pada musim 2023-24, Dallas Mavericks yang diperkuat Luka mengalami 32 kekalahan, 21 di antaranya berakhir dengan angka selisih dua digit. Pada tahun lalu, Lakers yang baru mendapatkan Luka, menghasilkan 13 kekalahan, delapan diantaranya juga berakhir dengan skor terpaut dua digit.
Selama dua setengah tahun terakhir, 61 persen dari kekalahan Luka terjadi dengan selisih dua digit. Anehnya, untuk Lakers, statistik ini menunjukkan bahwa LeBron James berada di posisi teratas dalam hal kekalahan besar, dengan 73 persen dari kekalahannya dilaporkan berakhir dengan selisih dua digit.
Refleksi Mentalitas Pemain
Walaupun sebuah kekalahan tetap saja kekalahan, terlepas dari seberapa besar selisihnya, aneh bahwa pemain sekelas Luka dan LeBron cenderung kalah dengan skor besar. Ini dapat mengisyaratkan mentalitas yang mereka miliki di fase karir mereka saat ini. Uniknya, meski Luka berusia 26 tahun dan LeBron 41 tahun, keduanya tampak memiliki sifat yang sama, yaitu cenderung menyerah di malam-malam tertentu ketika situasi tidak berjalan baik.
Ketika kekalahan terasa pasti, mereka cenderung tidak lagi berjuang.
Meskipun demikian, baik Luka maupun LeBron seharusnya tidak terlalu disalahkan karena kebiasaan ini. Keduanya telah berkontribusi besar untuk kemenangan Lakers, dan itu yang terpenting. Namun, sikap menyerah ini bisa berdampak negatif terhadap rekan setim mereka, yang tidak memiliki bakat legendaris yang memungkinkan pemain seperti Doncic atau James untuk memiliki kebiasaan berbahaya ini tanpa efek yang terlalu merugikan.
Pentingnya Mentalitas Positif dalam Tim
Lakers menunjukkan keputusan bijak dengan mendatangkan Marcus Smart, yang mentalitasnya berlawanan dengan sikap negatif Luka dan LeBron. Jika rumored mendatangkan Dillon Brooks menjadi kenyataan, itu akan menjadi tambahan yang cerdas karena alasan yang sama.
Saat ini, Lakers harus berharap bahwa talenta mereka dapat mengatasi mentalitas tim saat memasuki postseason. Namun, sejarah menunjukkan bahwa hal ini sering kali tidak terjadi.
(BA/GN)
sumber : lakeshowlife.com
Leave a comment