Krisis di Ring Afrika Selatan: Petinju Tanpa Asuransi Jiwa, Dana Kesejahteraan Menipis
Petinju profesional berlisensi di Afrika Selatan masih belum memiliki cakupan asuransi jiwa komprehensif, sebuah janji yang belum terpenuhi selama 18 tahun. Situasi ini muncul setelah CEO Boxing SA, Tsholofelo Lejaka, pada tahun 2008 mengumumkan bahwa ia sedang berupaya mencapai rencana tersebut untuk membantu para petarung di masa sulit.
Pada saat itu, Lejaka menjelaskan tantangan utama adalah masalah keterjangkauan. Hampir semua pilihan asuransi yang diterima Boxing SA saat itu nilainya sekitar 10 kali lipat dari biaya yang dibayarkan petinju untuk memperbarui lisensi tahunan mereka. Penghasilan petinju dianggap tidak memungkinkan mereka membayar asuransi jiwa komprehensif.
Berdasarkan Undang-Undang Boxing SA tahun 2001, badan ini memiliki wewenang untuk menjaga kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan umum para petinju profesional.
Dana Kesejahteraan Petinju Tergerus Misterius
Boxing SA juga memiliki dana kesejahteraan yang didirikan 40 tahun lalu. Dana ini seharusnya digunakan untuk membayar rehabilitasi petinju yang mengalami cedera selama pertandingan resmi atau membantu mantan petarung yang berada dalam kesulitan. Sejak awal pembentukannya, 1,5% dari setiap pendapatan petinju profesional lokal secara otomatis dipotong oleh dana Boxing SA setiap kali mereka bertanding.
Namun, Menteri Olahraga Gayton McKenzie menemukan adanya pengurangan signifikan dalam dana tersebut, yang memicu penyelidikan. Dana tersebut tercatat R11,6 juta pada tahun 2022, namun turun menjadi R6,25 juta pada tahun 2023.
Berbicara pada konvensi nasional Boxing SA di East London Februari lalu, McKenzie menyatakan, “Saya terkejut menemukan bahwa dana tersebut telah hilang — jutaan di dana itu telah lenyap.” Ia menuntut “penyelidikan penuh,” namun hingga hampir setahun kemudian, belum ada laporan yang dirilis mengenai penyelidikan tersebut.
Krisis Sponsor dan Kepercayaan Korporat
Boxing SA belum memiliki sponsor utama sejak kepergian mantan CEO Thabo Moseki dan mantan ketua Mthobi “Choirmaster” Tyamzashe. Para pengamat mengatakan hal ini disebabkan oleh kombinasi administrasi yang buruk, ketidakstabilan finansial, masalah reputasi, dan kurangnya kepercayaan dari sektor korporat.
Moseki dan Tyamzashe sebelumnya berhasil mendapatkan sponsor signifikan dari perusahaan-perusahaan besar seperti Vodacom (R27 juta), SuperSport (R8 juta), dan Distell (R4,3 juta). Namun, kemitraan ini berakhir ketika mereka meninggalkan organisasi.
Sumber-sumber di dunia olahraga menyebutkan beberapa alasan utama di balik minimnya sponsor sejak saat itu:
- Instabilitas finansial dan administratif: Boxing SA menghadapi serangkaian tantangan ekonomi, termasuk audit yang tidak memenuhi syarat selama bertahun-tahun, ketergantungan pada hibah pemerintah, dan tingginya pergantian CEO serta anggota dewan, yang mengikis kepercayaan korporat.
- Masalah reputasi: Olahraga ini diguncang oleh perselisihan internal di jajaran pimpinan, gugatan hukum terhadap menteri olahraga terkait penunjukan anggota dewan, dan masalah promotor yang tidak selalu memenuhi kewajiban mereka. Semua ini menciptakan citra negatif yang menghalangi calon sponsor.
- Kurangnya kepercayaan dari sektor korporat: Promotor dan pengamat industri mencatat bahwa sektor korporat enggan berinvestasi karena ketidakstabilan yang berkelanjutan dan kurangnya pengembalian investasi yang jelas.
- Ketergantungan pada pendanaan pemerintah: Sebagian besar pendapatan BSA secara tradisional berasal dari hibah pemerintah dan Komisi Lotere Nasional. Namun, dana ini dianggap tidak mencukupi dan juga menjadi objek pengawasan ketat terkait pengeluarannya.
- Tantangan penyiaran: Kesepakatan penyiaran yang tidak konsisten atau tidak memadai telah membatasi visibilitas olahraga, yang merupakan faktor penting bagi sponsor yang mencari eksposur.
Arah yang jelas seperti yang diberikan oleh Moseki dan Tyamzashe sangat dibutuhkan untuk mendapatkan kembali kepercayaan dunia bisnis dan menarik investasi baru.
Lejaka, yang kembali menjabat sebagai CEO tahun lalu, telah menjadikan upaya untuk mendapatkan sponsor baru dan mengatasi stabilitas keuangan sebagai fokus utama mandatnya. Krisis ini menghadirkan tantangan besar bagi masa depan tinju profesional di Afrika Selatan, yang sangat bergantung pada stabilitas finansial dan kesejahteraan para atletnya.
(OL/GN)
sumber : www.sowetan.co.za
Leave a comment