Kepemimpinan dalam Olahraga: Pelajaran Berharga dari Dunia Bisnis
Joe Boylan memiliki pengalaman selama sepuluh tahun di NBA bekerja dengan beberapa tim besar seperti Minnesota Timberwolves, New Orleans Pelicans, Memphis Grizzlies, Golden State Warriors, dan Boston Celtics. Ia juga merupakan salah satu pendiri Cognition Coach.
Nilai dari Ucapan Selamat Ulang Tahun
Sheldon Yellen, CEO BELFOR Holdings yang bernilai miliaran dollar, dikenal karena mengirimkan ucapan selamat ulang tahun kepada setiap karyawan secara pribadi. Dengan menggunakan pena dan kertas, ia menuliskan pesan emosional yang selalu diakhiri dengan: “Dengan rasa hormat, cinta, dan rasa syukur.”
Ia mengatakan, “Anda bisa mengangkat orang lain atau menjatuhkannya.” Setelah 15 tahun berkecimpung di dunia coaching NBA, kalimat itu sangat menggugah. Selama tur kepemimpinan, saya bertemu banyak pemimpin bisnis yang memberikan wawasan berharga, dan saya menyadari banyak ide di ruang rapat NBA juga diterapkan dalam konteks bisnis.
Pentingnya Memiliki Empati
Yellen menganggap penting untuk “merekrut hati.” Dalam proses perekrutan, ia lebih memilih untuk bertemu langsung dengan calon manajer daripada hanya melihat kualifikasi. Dia percaya bahwa kita bisa melatih keterampilan, tetapi tidak bisa mengajarkan empati.
Hal tersebut membuat saya teringat beberapa pemain yang dapat meningkatkan dinamika tim lewat hubungan sosial. Mereka adalah pemain yang selalu memperhatikan rekan tim yang mengalami kesulitan atau ingat nama anak pelatih. Menyaksikan Jrue Holiday atau Mike Conley saat sarapan, mereka mampu berhubungan dengan tantangan parenting serta berbagi momen menyenangkan dengan rekan-rekan yang lebih muda.
Kepemimpinan yang Berbasis Komunikasi
Dan Varner, presiden Goodwill Industries of Greater Detroit, selalu mengevaluasi timnya dengan dua pertanyaan kunci: “Bagaimana cara saya kepada Anda?” dan “Apakah Anda membutuhkan hal yang berbeda dari saya?” Cara ini efektif untuk mencegah masalah berkembang.
John Sznewajs, mantan CFO Masco Corporation, memiliki pandangan berbeda tentang perekrutan. Ia tidak terburu-buru merekrut orang baru dan meyakini bahwa menempatkan orang yang tepat adalah keputusan terpenting bagi seorang pemimpin. “Carilah orang yang memiliki kecerdasan emosional dan integritas,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya mendengarkan setiap anggota tim. Keheningan dalam rapat bisa jadi tanda ketidaksetujuan atau kebingungan. “Ajak setiap orang untuk berbicara, pastikan mereka merasa didengar,” tambah Sznewajs.
Sederhanakan untuk Sukses
Jerry Volas, mantan CEO TopBuild, menjelaskan, “Anda tidak dapat mengeksekusi kebingungan.” Ia selalu mengedepankan kesederhanaan dalam strategi bisnis. Volas konsisten memilih untuk menyederhanakan fokusnya, hanya mengerjakan dua atau tiga hal yang vital, sehingga seluruh tim dapat berfokus dan mencapai hasil yang diinginkan.
Volas percaya bahwa ketika merekrut, ia mencari rasa ingin tahu dan kemauan untuk bekerja keras. “Tidak perlu jadi jenius, cukup memiliki semangat untuk memahami,” jelasnya. Pertanyaan terakhir yang ia ajukan sangat berarti: “Bagaimana Anda memperlakukan orang ketika tidak ada yang melihat?”
Beradaptasi untuk Bertahan
Randy Fenton, mantan CEO Inrecon, memulai pembicarannya dengan mantranya: “Tekan, ubah, dan atur ulang.” Menurutnya, bergerak maju adalah satu-satunya pilihan. “Jadilah pejuang, bukan pengkhawatir,” ujarnya, menekankan keseimbangan antara kesadaran diri dan percaya diri.
Contoh nyata dari prinsip ini bisa dilihat pada Naz Reid, yang terus berusaha meski awalnya bukanlah shooter yang efektif. Setelah empat musim, ia berhasil meningkatkan kemampuannya, membuktikan bahwa ketekunan dan pola pikir yang positif sangat penting.
Pengalaman-pengalaman ini telah mengubah cara saya dalam membimbing tim. Yang terpenting bagi pemain adalah merasa diperhatikan. Sesi analisis film yang terlalu panjang perlu disederhanakan agar lebih efektif. Seperti yang pernah dikatakan Jerry West, “Anda tidak perlu mengikuti apa yang dilakukan orang lain. Tetaplah pada prinsip-prinsip sederhana yang bekerja.”
Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini, baik di lapangan maupun di kantor, saya percaya bahwa kejelasan, peduli, dan rasa ingin tahu adalah kunci untuk kesuksesan jangka panjang.
(BA/GN)
sumber : www.nytimes.com
Leave a comment