NCAA Tegaskan Pemain yang Tanda Tangan Kontrak NBA Tak Dapat Berlaga di NCAA
Presiden NCAA, Charlie Baker, menyatakan pada Selasa bahwa organisasi tersebut tidak akan memberikan kelayakan bagi pemain yang telah menandatangani kontrak NBA. Pernyataan tegas ini memberikan kejelasan di tengah pertanyaan mengenai siapa saja yang diizinkan bermain di kompetisi bola basket perguruan tinggi.
Perubahan Aturan Kelayakan
Aturan kelayakan dalam bola basket perguruan tinggi mengalami perubahan sejak Natal lalu, ketika Baylor berhasil mendaftarkan pemain depan berusia 21 tahun, James Nnaji, yang merupakan pilihan ke-31 dalam NBA Draft 2023. Situasi ini membuka peluang bagi pemain yang telah terdraft untuk berpartisipasi dalam kompetisi perguruan tinggi untuk pertama kalinya.
Belakangan, tim-tim perguruan tinggi menunjukkan minat terhadap guard Chicago Bulls, Trentyn Flowers, seiring berkembangnya situasi terkait kelayakan pemain. Baker menegaskan bahwa pemain NBA yang sedang dalam kontrak dua arah juga tidak akan memenuhi syarat untuk bermain dalam kompetisi ini.
NCAA tidak akan memberikan kelayakan kepada atlet mahasiswa yang telah menandatangani kontrak NBA (termasuk kontrak dua arah). Seiring merekrutnya individu dengan pengalaman liga internasional, NCAA menerapkan aturan ini untuk…
— Charlie Baker (@CharlieBakerMA) 30 Desember 2025
Situasi James Nnaji
James Nnaji, yang berasal dari Nigeria dan sebelumnya bermain di Turki, kini mendapatkan empat tahun kelayakan di Baylor. Justifikasi NCAA untuk memberikan kelayakan kepada Nnaji adalah karena dia belum pernah menandatangani kontrak NBA. Meskipun haknya telah dipegang oleh tim NBA sejak draft 2023, dia telah menghabiskan sebagian besar karier profesionalnya dalam kontrak di Barcelona.
Aturan dan Kelayakan
Baker mengacu pada sebuah peraturan NCAA yang menyatakan bahwa seorang pemain dapat berkompetisi secara profesional dan tetap mempertahankan kelayakan kuliah selama tidak menerima lebih dari biaya yang dianggap perlu untuk berpartisipasi dalam tim tersebut.
“Dengan semakin banyaknya sekolah yang merekrut individu berpengalaman dari liga internasional, NCAA berusaha untuk memastikan bahwa calon atlet mahasiswa dengan pengalaman di liga bola basket Amerika tidak kalah bersaing dibandingkan rekan-rekan internasional mereka,” ujarnya.
Aturan telah lama memperbolehkan sekolah untuk mendaftarkan dan memainkan individu tanpa pengalaman kuliah sebelumnya di tengah tahun ajaran.
Dampak Terhadap Kompetisi
Ini bukan satu-satunya tambahan menonjol di pertengahan musim ini, meskipun situasinya memang paling unik. Di level tinggi, terdapat sekitar selusin pemain yang berkompetisi di G League atau liga luar negeri yang telah bergabung dengan tim perguruan tinggi. Beberapa tambahan yang patut dicatat termasuk mantan guard G League London Johnson (Louisville) dan forward Serbia Nikola Dzepina (Washington).
Pergeseran ini menantang kebijakan kelayakan NCAA yang telah lama ada. Dengan beberapa keputusan pengadilan di tahun-tahun terakhir, NCAA kehilangan banyak kekuatan dalam pengawasan kelayakan pemain, termasuk keputusan yang memberikan tambahan tahun bagi pemain yang telah menghabiskan satu musim di junior college.
Panggilan untuk menciptakan badan pengawas untuk membantu bola basket perguruan tinggi melalui fase perubahan ini semakin mengemuka. Sejumlah pelatih, termasuk Tom Izzo (Michigan State) dan John Calipari (Arkansas), mengkritik NCAA serta rekan-rekan mereka di pelatih.
“Jika ini yang kita hadapi, malu bagi NCAA,” kata Izzo. Pertanyaannya sekarang adalah apakah Baker dan NCAA dapat mempertahankan garis tegas yang mereka buat dan memberikan pedoman yang dicari oleh para pelatih.
“Walaupun NCAA telah berhasil dalam sebagian besar gugatan terkait kelayakan, keputusan yang mengikat NCAA secara nasional untuk tidak menegakkan aturan yang telah ada selama beberapa dekade tanpa melalui uji coba adalah hal yang sangat mengguncang,” tutup Baker.
(BA/GN)
sumber : www.nytimes.com
Leave a comment