Kehebatan Rebound Offensif Knicks Bersama Mitchell Robinson
Pelatih Knicks, Mike Brown, mengajukan sebuah pertanyaan yang menarik selama konferensi pers setelah pertandingan. Ia bertanya kepada para awak media tentang siapa yang pernah melihat seorang pemain bermain selama 16 menit dan berhasil meraih sembilan rebound ofensif.
Setelah beberapa detik keheningan, seorang reporter mengangkat tangan. “Siapa?” tanya Brown dengan nada terkejut.
“Mitch,” jawab reporter tersebut, merujuk pada Mitchell Robinson.
Jawaban tersebut menggugah tawa di ruangan konferensi pers, tetapi memang benar: Robinson adalah salah satu pengumpul rebound ofensif terbaik di NBA, terutama saat ia fit. Tanpa kehadirannya, ambisi Knicks untuk meraih juara tampak lebih sulit. Robinson bukan hanya sekadar pelindung terbaik di dalam cat, tetapi ia juga memberi peluang tambahan bagi tim yang memiliki potensi menyerang tinggi. Saat ini, ia mencatatkan rata-rata 6.3 rebound ofensif per pertandingan, menjadikannya pemimpin di liga.
Dominasinya Walau Minim Penampilan
Meskipun Robinson baru tampil dalam tiga pertandingan musim ini, Knicks memimpin NBA dengan rata-rata 15.3 rebound ofensif per pertandingan. Yang menarik, mereka memiliki empat pemain non-besar (Mikal Bridges, Josh Hart, OG Anunoby, dan Miles McBride) yang rata-rata mencapai lebih dari satu rebound ofensif per pertandingan. Hanya Indiana Pacers yang dapat membanggakan statistik serupa.
Mendapatkan kesempatan kedua telah menjadi senjata utama bagi serangan Knicks yang masih mencari ritmenya. Meskipun mereka berada di peringkat bawah dalam persentase tembakan, Knicks menduduki posisi ketujuh dalam poin dari rebound kedua, dengan rata-rata 17.6 poin.
Pentingnya Serangan Rebound
Menurut Bridges, fokus untuk memanfaatkan rebound dari sudut-sudut lapangan menjadi salah satu penekanan dalam sistem Brown. Ini terbukti saat Towns berjuang mempertahankan bola setelah tembakan yang meleset, dan Bridges tidak hanya berdiri di sudut tetapi ikut terlibat. Ini memungkinkan Knicks mencetak dua poin dari peluang tersebut.
Brown menekankan pentingnya kerja keras dalam menyerang rebound dari “zona crash.” Timnya terus memantau statistik ini dan memberikan umpan balik kepada pemain setelah pertandingan. “Kamu harus tetap mengawasi setiap pemain. Setiap serangan, itu harus cepat. Dalam liga ini, banyak sekali tim dan pemain berbakat. Mereka yang hebat adalah yang paling konsisten,” ujar Brown.
Mereka juga meningkatkan jumlah tembakan tiga angka, yang menciptakan lebih banyak rebound panjang. Meskipun terjadinya tembakan meleset, para pemain tetap disiplin dalam menyerang bola.
Pemain yang Menonjol di Zona Rebound
Pemain kecil seperti McBride juga terlibat dalam perebutan bola di area ofensif. Sementara Anunoby, sebagai pemain sayap, mencatatkan lima rebound ofensif dalam kemenangan besar melawan Minnesota Timberwolves.
Selama delapan pertandingan awal, Anunoby menempati posisi kedua setelah Towns dan Robinson dalam poin dari rebound kedua, dengan rata-rata 3.1 poin. Ia tidak hanya menjadi penerima umpan bagus dari rekan-rekannya di bawah ring, tetapi juga mampu menciptakan peluang kedua untuk dirinya sendiri.
Kesimpulan
Saat Knicks terus mencari bentuk permainan terbaik mereka, disiplin dalam menghancurkan rebound ofensif telah membantu mereka melewati masa-masa sulit. Ini merupakan usaha kolektif yang sering kali menetralkan periode tembakan yang kurang baik.
Dengan pendekatan yang tepat, Knicks berpotensi menjadi salah satu tim dengan serangan terbaik di liga. Jika kualitas tembakan dapat meningkat dan prinsip-prinsip di papan kaca tetap terjaga, tim ini bisa mencetak banyak poin. Hingga saat itu, Knicks terus mencari cara untuk memasukkan bola ke keranjang, meskipun terkadang harus mencobanya dua kali.
“Mendapatkan 21 rebound ofensif dengan persentase tembakan 54%,” kata Brown setelah kemenangan 23 poin melawan Minnesota. “Itu luar biasa.”
(BA/GN)
sumber : www.nytimes.com
Leave a comment