Perkembangan Patrick Williams di Chicago Bulls: Tantangan Menunggu
Penampilan yang Menurun
PHILADELPHIA — Di akhir musim Chicago Bulls ini, Patrick Williams perlahan mulai kehilangan sorotan. Pemain depan ini jarang bermain. Ketika ia mendapatkan kesempatan di lapangan, Williams kadang menunjukkan kemampuan yang ia miliki saat dipilih Bulls sebagai pick ke-4 dalam draft enam tahun silam—seperti tembakan 3-pointer yang akurat atau gerakan cepat menuju ring untuk merebut rebound ofensif. Namun, ia sering kembali tenggelam dalam latar belakang, sulit untuk dijelaskan, dan tim sepertinya tidak dapat memberikan jawaban yang memuaskan.
Kesempatan yang Hilang
Deadline perdagangan seharusnya membawa perubahan. Bulls melepas tujuh pemain kunci mereka, memberi kesempatan bagi inti tim muda yang tersisa untuk bermain lebih banyak. Namun, di tengah situasi ini, Williams masih tidak mampu bersaing. Sejak break All-Star, ia mencatatkan 240,8 menit di lapangan. Hanya lima pemain yang mencatatkan waktu lebih sedikit dari itu: Yuki Kawamura dan Lachlan Olbrich yang bermain dua arah, serta rekan setimnya yang cedera, Jaden Ivey, Jalen Smith, dan Anfernee Simons. Dalam periode ini, Williams hanya meraih lima blok dan 25 rebound, sementara Leonard Miller—pemain baru yang sempat kesulitan bermain di Minnesota—hampir menggandakan menit bermainnya.
Menyesuaikan Diri
Bagaimana Williams menghadapi penurunan posisinya di tim? “Saya hanya berusaha belajar dari semua pengalaman ini,” ungkapnya. Ia belum berbicara dengan pelatih ataupun manajemen mengenai pengurangan jam bermainnya. Williams berfokus untuk memanfaatkan setiap menit yang ia dapatkan dan menyerap umpan balik dari tim pelatih.
Masalah yang Berulang
Pelatih Billy Donovan memberikan penjelasan sederhana: tidak ada yang berubah. Di tahun keenamnya, Williams masih berjuang dengan kelemahan yang sama sejak awal kariernya. Sebagai pemain terlama di roster Bulls, ia merupakan pemain pertama yang dipilih saat Donovan bergabung dan proyek pertama yang sepenuhnya didukung oleh pelatih. Enam tahun berlalu, Donovan masih berusaha mendorong Williams untuk lebih agresif merebut rebound, mengontrol dribble, dan berkontribusi fisik di lapangan.
“Saya merasa kesal karena ada hal-hal yang saya lihat dalam dirinya dan ingin ia lakukan lebih konsisten,” kata Donovan. “Saya tidak bisa mengatakan saya kecewa… tetapi ketika seseorang menunjukkan tanda-tanda mampu melakukan sesuatu, Anda ingin dorong ia untuk melakukannya lebih sering.”
Tantangan di Masa Depan
Tim pelatih Bulls merasa bingung dengan situasi Williams. Meskipun sebelumnya tidak ada jaminan bahwa ia akan menjadi pick top-5 setelah satu tahun bermain di Florida State, ia selalu memiliki potensi fisik dan karakter untuk menjadi pemain NBA yang solid. Rekan-rekannya sering kali kagum pada kekuatannya baik di gym maupun saat latihan. Namun, mengapa semua ini tidak terwujud dalam konsistensi di lapangan?
Musim ini merupakan yang terburuk dalam karier Williams. Ia meraih rata-rata poin terendah (6,8) dan rebound (2,8) dalam enam tahun di liga. Ia hanya mencatatkan kurang dari satu rebound ofensif per game, persentase tembakan 2-poinnya di bawah 40%, dan rasio assist-to-turnover hampir 1:1.
Arah Karier yang Stagnan
Akibatnya, perkembangan karier Williams terhenti. Ia masih memiliki tiga tahun tersisa dalam kontraknya yang berdurasi lima tahun senilai 90 juta dolar. Saat deadline perdagangan, Bulls tidak mengejar opsi untuk melepas Williams karena kurangnya minat di pasar. Mungkin situasi ini akan berubah menjelang akhir kontraknya. Sementara itu, Williams terus berjuang dan mengulangi poin-poin yang sama dalam pengembangannya.
“Saya memandangnya sebagai—setiap kali saya bermain, apa yang bisa saya pelajari dari pengalaman tersebut?” ujar Williams. “Secara jujur, kami tidak bersaing untuk kejuaraan tahun ini. Jadi ketika saya berada di lapangan, saya berusaha belajar dan mengembangkan aspek-aspek permainan.”
Menatap Masa Depan
Williams masih berpikir seperti pemain muda yang sedang memulai kariernya. Ia berharap pelajaran yang didapat di tahun-tahun awal di Chicago akan berharga saat ia memasuki tahun ke-10 atau ke-15 kariernya. “Saya ingin nanti bisa melihat kembali, ‘oh, saya belajar itu saat berada di Chicago,’” ujarnya.
Pandangannya ini wajar, mengingat usianya yang baru 24 tahun. Namun, karier di NBA tidak panjang. Dengan kurangnya usaha untuk merebut menit bermain di tim Bulls yang kesulitan, Williams hanya menambah stagnasi dalam kariernya dan situasi tim secara keseluruhan.
(BA/GN)
sumber : www.chicagotribune.com
Leave a comment