Stephen Curry: Pelopor Bidang Penembakan di NBA
Stephen Curry sering dibandingkan dengan legenda NBA seperti Michael Jordan dan Kareem Abdul-Jabbar terkait dampaknya di liga. Saat mereka bermain, setiap gerakan khas menjadi perhatian khusus. Jordan dikenal dengan fadeaway jumper yang sulit diblok, sementara Kareem membuat Skyhook menjadi terkenal. Di era modern, Curry memperkenalkan tembakan tiga poin yang memungkinkan siapa saja untuk melakukan tembakan dari jarak jauh tanpa memandang posisi.
Steph Curry Si Pelopor Tembakan
Tidak ada pemain yang mengubah permainan basket seperti Curry. Dari awal karirnya di Davidson hingga sukses bersama Golden State Warriors, Curry menunjukkan rentang tembakan yang luar biasa dan rilis bola yang sangat cepat, yang membuat strategi pertahanan tradisional hampir tidak efektif. Para defender bisa sangat dekat, tetapi bola sudah meluncur ke ring.
Curry tidak hanya unggul dalam tembakan jarak jauh; ia telah menormalisasi praktik tersebut. Tembakan dari luar garis tiga poin yang dalam tidak hanya diterima, tetapi diwajibkan. Pendekatan efisien dan berani dari Curry memaksa tim dan pelatih di seluruh liga untuk memikirkan ulang strategi ofensif, yang selamanya mengubah cara basket dimainkan.
Analisis Bertemu Kebebasan
Dalam episode terbaru dari “Mind the Game” dengan Steve Nash dan LeBron James, Curry mengungkapkan momen penting yang membentuk pendekatannya.
Mantapnya GM Warriors, Bob Myers, yang mendorongnya untuk mencoba hingga 15 tembakan tiga poin per pertandingan, menjadi hal yang nyaris tidak mungkin pada masa itu. Curry awalnya ragu, mengingat sulitnya menciptakan 12 peluang tembakan yang berkualitas. Namun, respon Myers sederhana: angka-angka membenarkannya.
Pemikiran ini beriringan dengan ledakan analisis NBA, di mana spacing, efisiensi, dan nilai tembakan menjadi sangat penting. Warriors tidak hanya membebaskan Curry untuk lebih banyak melakukan tembakan; mereka membangun strategi offense khusus untuk memfasilitasi tembakan tersebut.
Peran Sistem Motion Offense Steve Kerr
Volume tembakan saja tidak cukup. Curry mengakui bahwa sistem motion offense Steve Kerr menjadi kunci dalam mengubah potensi menjadi dominasi. Gerakan pemain yang konstan, pengalihan bola, dan layar off-ball menciptakan peluang tembakan berkualitas tinggi.
Curry menyatakan bahwa tidak semua tembakan tiga poin setara: tembakan catch-and-shoot setelah rangkaian beberapa operan memiliki tingkat keberhasilan yang lebih tinggi dibandingkan tembakan serupa yang diambil lebih awal dalam sebuah penguasaan bola. Menguasai konteks tembakan memungkinkan Curry untuk menggabungkan volume yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan efisiensi yang elit.
Pengaruh yang Membentuk Revolusi Tembakan Tiga Poin
Menurut Terrence Jordan dari The Sports Rush, Curry mengambil inspirasi dari Steve Nash dan Reggie Miller, terutama dalam gerakan off-ball dan kesadaran spasial. Menggabungkan sifat-sifat ini dengan keterampilan uniknya, Curry menjadi mimpi buruk bagi para defender, baik saat menguasai bola maupun tidak.
Mencetak Rekor dan Mengubah Permainan
Hasilnya sangat mengesankan. Pada musim 2013–14, Curry mencoba 646 tembakan tiga poin dan meraih penghargaan MVP pertamanya. Musim berikutnya, ia meningkatkan angka tersebut menjadi 886, tetapi persentase tembakannya malah meningkat, melawan kebijaksanaan konvensional.
Puncak pencapaiannya terjadi saat Curry menjadi MVP unanimus pertama dalam sejarah NBA. Keahliannya tidak hanya memenangkan pertandingan, tetapi juga selamanya mengubah cara permainan basket dimainkan di semua level.
Menarik untuk membayangkan bagaimana Babyface Assassin ini menulis ulang aturan permainan modern. Penguasaannya atas tembakan tiga poin telah mendorong setiap pemain NBA untuk mengambil tembakan dan bergerak lebih aktif dalam pertandingan saat ini.
(BA/GN)
sumber : www.sportsworldnews.com
Leave a comment