Home Gaya Hidup Cara Mengatur Nafas Saat Berlari untuk Pemula
Gaya Hidup

Cara Mengatur Nafas Saat Berlari untuk Pemula

Share
cara mengatur nafas saat berlari garisfinish.com
Share

Nafas yang Stabil adalah Kunci Lari yang Nyaman

Banyak pemula merasa berlari itu melelahkan bukan karena kakinya tidak kuat, tetapi karena nafasnya cepat habis. Baru beberapa menit berlari, dada mulai sesak, ritme tubuh kacau, dan akhirnya terpaksa berhenti. Padahal lari bukan hanya soal kaki, tetapi bagaimana paru-paru, diafragma, dan ritme tubuh bekerja bersama.

Pelari yang terlihat santai sebenarnya bukan karena stamina mereka jauh lebih hebat, tetapi karena mereka menguasai teknik pernapasan. Nafas yang teratur membuat tubuh menyimpan energi lebih lama, detak jantung tetap stabil, dan lari terasa seperti aktivitas yang mengalir, bukan pertarungan melawan nafas sendiri.

Mengatur nafas adalah fondasi pertama sebelum belajar kecepatan atau jarak.


Berlari Dengan Nafas Terburu-buru: Kesalahan Umum Pemula

Saat mulai berlari, banyak pemula langsung meningkatkan kecepatan terlalu cepat. Tubuh belum sempat menyesuaikan ritme pernapasan, akhirnya nafas menjadi pendek dan cepat.

Tubuh Belum Siap Dengan Ritme Tinggi

Ketika kecepatan naik tiba-tiba:
• otot butuh lebih banyak oksigen
• jantung berdetak lebih cepat
• paru-paru bekerja lebih keras

Jika tubuh belum terbiasa, sensasi “ngos-ngosan” muncul dalam hitungan detik.

Pernapasan Dada Membuat Nafas Cepat Habis

Pemula sering hanya memakai dada untuk bernapas. Ini menyebabkan oksigen masuk lebih sedikit karena paru-paru tidak membuka secara penuh.

Pernapasan dada membuat nafas:
• dangkal
• pendek
• cepat habis

Teknik yang benar adalah bernapas dengan diafragma.


Gunakan Teknik Pernapasan Diafragma (Abdominal Breathing)

Jika kamu pernah melihat atlet lari atau pemain sepak bola berlari jarak jauh, mereka tidak pernah terlihat “mengangkat bahu” saat bernapas. Karena mereka menggunakan diafragma.

Apa Itu Pernapasan Diafragma?

Pernapasan yang melibatkan otot perut, bukan dada. Saat udara masuk, perut mengembang ke luar. Saat udara keluar, perut kembali masuk.

Hasilnya:
• oksigen lebih banyak masuk
• tubuh lebih rileks
• ritme nafas lebih panjang
• detak jantung lebih stabil

Cara Latihan Sederhana

Latihan 1 (sebelum lari):

  1. duduk atau berdiri santai
  2. letakkan satu tangan di dada, satu di perut
  3. tarik nafas perlahan
  4. pastikan perut yang terangkat, bukan dada
  5. buang nafas perlahan

Lakukan 10–12 kali sebelum mulai berlari.

Latihan 2 (saat lari):
• bayangkan udara masuk menuju perut
• buat ritme nafas panjang, bukan cepat

Baca juga:  Cara Melatih Kekuatan Core ala Atlet Sepak Bola

Setelah terbiasa, lari terasa jauh lebih ringan.


Temukan Ritme Pernapasan yang Sesuai dengan Kecepatan Lari

Tubuh bekerja paling baik jika nafas dan langkah memiliki ritme yang sinkron. Ini membuat tubuh hemat energi dan menghindari ketegangan pada dada.

Teknik 3-3

Teknik paling mudah untuk pemula:
• 3 langkah → tarik nafas
• 3 langkah → buang nafas

Ritmenya terasa seperti “masuk… masuk… masuk… keluar… keluar… keluar…”

Teknik ini:
• membuat nafas lebih stabil
• mencegah pernapasan terburu-buru
• membantu tubuh menemukan flow

Jika ritme 3-3 terlalu berat:
• gunakan pola 2-2 untuk lari lebih cepat
• atau pola 4-4 untuk jogging santai

Sesuaikan Ritme dengan Tubuh

Tidak ada aturan baku. Jika dada mulai sesak:
• perlambat langkah
• kembali ke ritme nafas panjang
• biarkan tubuh menemukan stabilitas

2025 On Youth Camp

Tujuannya bukan berlari cepat, tapi berlari nyaman.


Gunakan Hidung dan Mulut Secara Bersamaan

Pemula sering bingung: lebih baik bernapas lewat hidung atau mulut? Untuk berlari, jawabannya adalah: keduanya.

Hidung Mengatur Aliran Udara

Hidung menyaring udara dan menghangatkannya agar nyaman untuk paru-paru.

Mulut Membantu Mengeluarkan Udara Lebih Cepat

Menghembuskan udara lewat mulut membuat tekanan dada berkurang dan aliran udara lebih mudah keluar.

Kombinasinya:
• hirup lewat hidung
• keluarkan lewat mulut

Ini ritme yang paling mudah diikuti pemula.


Jaga Postur Tubuh Agar Nafas Tidak Terhambat

Banyak pemula tanpa sadar membungkuk saat berlari. Ketika bahu turun dan dada menutup, paru-paru kesulitan mengembang. Inilah penyebab nafas cepat habis.

Postur Berlari yang Membantu Nafas Lebih Stabil

• dada terbuka
• bahu rileks, tidak terangkat
• pandangan ke depan
• langkah tidak terlalu panjang
• punggung tidak membungkuk

Semakin rileks postur tubuh, semakin panjang ritme pernapasan.

Lepaskan Ketegangan di Bahu dan Rahang

Tubuh yang kaku menghabiskan oksigen lebih cepat. Sesekali cek bahu:
• apakah tegang?
• apakah terangkat tanpa sadar?

Turunkan bahu, rilekskan rahang, dan rasakan nafas menjadi lebih lega.


Pahami Pola Lari Bertahap: Jangan Langsung Cepat

Teknik pernapasan tidak akan efektif jika lari terlalu cepat sejak awal. Tubuh butuh waktu untuk “menyetel” pernapasan.

Baca juga:  Kebiasaan Sehat yang Banyak Dilakukan Atlet Profesional

Gunakan Teknik Negative Split

Atur ritme seperti ini:

  1. menit 1–3 → kecepatan sangat ringan
  2. menit 4–7 → kecepatan jogging santai
  3. menit 7 ke atas → tingkatkan sedikit

Dengan teknik ini:
• nafas tidak shock
• paru-paru punya waktu adaptasi
• tubuh menemukan ritme secara alami

Ini strategi yang digunakan banyak pelari jarak jauh.


Jangan Biarkan Badan Kekurangan Hidrasi

Air adalah bagian terbesar dari sistem pernapasan. Kurang minum membuat nafas cepat terengah.

Minum Sebelum Lari, Bukan Saat Sudah Terlalu Lelah

Aturan simpel:
• 200–300 ml air 15 menit sebelum lari
• teguk kecil setelah selesai
• tidak perlu minum sambil berlari kecuali jarak jauh

Hidrasi yang baik membuat ritme nafas lebih stabil.


Lakukan “Recovery Breathing” Saat Kelelahan

Tak semua sesi lari berjalan mulus. Kadang nafas hilang ritmeinyaa. Saat itu terjadi, jangan panik. Gunakan teknik pemulihan nafas.

Teknik 4-6 Breathing

• tarik nafas 4 detik
• hembuskan perlahan 6 detik

Lakukan sambil memperlambat lari menjadi jalan cepat.

Setelah 30–40 detik, nafas biasanya kembali stabil lalu kamu bisa lanjut berlari.

Teknik Shoulder Relax Drop

Ambil nafas panjang → buang → turunkan bahu dan goyangkan sedikit.
Ini melepaskan ketegangan yang membuat dada sesak.


Latihan Pernapasan di Luar Aktivitas Lari

Mengatur nafas adalah keterampilan. Bisa dilatih kapan saja, bukan hanya saat berlari.

Latihan 5–10 Menit Setiap Hari

• duduk rileks
• tarik nafas 3–4 detik
• tahan 1 detik
• hembus 5–6 detik

Latihan kecil ini memperbesar kapasitas paru-paru.

Latihan Tiup Balon

Ini bukan bercanda. Banyak atlet pakai ini untuk memperkuat diafragma.
Tiup balon perlahan-lahan sampai penuh, ulangi 3 kali.

Diafragma yang kuat = pernapasan lari yang stabil.


Saat Nafas Sudah Mulai Teratur, Lari Jadi Lebih Menyenangkan

Saat pernapasan sudah sinkron dengan langkah, berlari tidak lagi terasa berat. Tubuh seperti menemukan “flow” alami—langkah stabil, nafas tenang, pikiran fokus.

Dan yang paling penting: teknik ini bisa dipelajari siapa pun.

Berlari bukan soal kuat atau lemah. Berlari adalah soal ritme, kontrol, dan kemampuan mengatur nafas. Ketika tiga hal ini dikuasai, jarak yang dulu terasa mustahil akan terasa lebih mudah.

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

7 Olahraga yang Aman untuk Pengidap Penyakit Jantung

Penyakit jantung bukan alasan untuk berhenti bergerak. Dengan pilihan olahraga yang tepat,...

Cara Melatih Stamina Tanpa Overtraining

Stamina bisa ditingkatkan tanpa membuat tubuh kelelahan berkepanjangan. Artikel ini membahas cara...

Persiapan Fisik Sebelum Trekking

Trekking bukan sekadar berjalan jauh di alam. Tanpa persiapan fisik yang tepat,...

Perbedaan Hiking dan Trekking

Hiking dan trekking sama sama dilakukan dengan berjalan kaki di alam, tetapi...