Trekking sering terlihat sederhana dari luar. Hanya berjalan kaki, membawa tas, lalu menikmati alam. Namun siapa pun yang pernah menjalaninya tahu bahwa trekking adalah aktivitas fisik yang menuntut tubuh bekerja dalam waktu lama, sering kali di medan yang tidak ramah.
Banyak masalah di jalur trekking bukan muncul karena cuaca atau rute, tetapi karena tubuh yang belum siap. Kaki cepat lelah, napas pendek, lutut terasa nyeri, atau energi habis sebelum perjalanan selesai. Semua ini bisa dikurangi jika persiapan fisik dilakukan dengan benar.
Persiapan fisik sebelum trekking bukan tentang menjadi atlet, melainkan membuat tubuh cukup siap untuk bertahan dan beradaptasi.
Memahami Tuntutan Fisik Trekking
Sebelum mulai berlatih, penting memahami apa yang sebenarnya diminta oleh trekking dari tubuh.
Trekking menuntut:
- stamina untuk berjalan berjam jam
- kekuatan kaki untuk tanjakan dan turunan
- stabilitas tubuh untuk jalur tidak rata
- daya tahan punggung untuk membawa beban
- mental yang cukup tenang saat lelah
Berbeda dengan olahraga satu jenis gerakan, trekking memaksa tubuh beradaptasi terus menerus. Inilah alasan persiapan fisik harus menyentuh beberapa aspek, bukan satu saja.
1. Bangun Stamina dengan Latihan Kardio Bertahap
Stamina adalah fondasi utama trekking. Tanpa stamina, sekuat apa pun otot kaki, tubuh tetap akan kehabisan tenaga di tengah perjalanan.

Latihan kardio yang cocok sebelum trekking tidak harus ekstrem. Yang penting adalah konsistensi dan durasi.
Beberapa pilihan latihan yang efektif:
- jalan cepat
- jogging santai
- bersepeda ringan hingga sedang
- berenang dengan tempo stabil
Mulailah dari durasi yang nyaman, misalnya 20 sampai 30 menit. Fokus pada napas yang teratur dan ritme yang bisa dipertahankan. Secara bertahap, durasi bisa ditambah seiring tubuh beradaptasi.
Tujuan latihan ini bukan kecepatan, tetapi kemampuan tubuh bekerja lama tanpa kehabisan napas.
2. Perkuat Otot Kaki Secara Fungsional
Otot kaki adalah mesin utama trekking. Namun yang dibutuhkan bukan hanya kuat, tetapi juga tahan.
Latihan kekuatan kaki sebelum trekking sebaiknya meniru gerakan yang akan sering dilakukan di jalur.
Latihan yang relevan antara lain:
- squat ringan
- lunges
- step up ke bangku atau tangga
- naik turun tangga secara berulang
Latihan ini membantu memperkuat paha, betis, dan pinggul, sekaligus melatih koordinasi. Gunakan beban tubuh sendiri terlebih dahulu. Jika sudah terbiasa, beban bisa ditambah perlahan.
Yang penting, gerakan dilakukan dengan kontrol, bukan terburu buru.
3. Latih Keseimbangan dan Stabilitas Tubuh
Jalur trekking jarang rata. Batu, akar, tanah licin, dan tanjakan membuat keseimbangan menjadi faktor krusial.
Melatih keseimbangan membantu mencegah tergelincir dan mengurangi risiko cedera.
Latihan sederhana yang bisa dilakukan:
- berdiri satu kaki selama beberapa detik
- jalan di permukaan tidak rata
- latihan core seperti plank ringan
- squat dengan tempo pelan
Keseimbangan yang baik membuat tubuh lebih siap bereaksi saat pijakan tidak ideal.
4. Siapkan Punggung dan Core untuk Membawa Beban
Dalam trekking, ransel menjadi bagian dari tubuh. Beban di punggung memengaruhi postur, keseimbangan, dan stamina.

Tanpa core yang kuat, punggung akan cepat lelah dan nyeri.
Latihan yang membantu:
- plank
- dead bug
- bird dog
- latihan punggung ringan
Core yang stabil membantu distribusi beban lebih merata, sehingga energi tidak cepat habis hanya untuk menjaga postur.
5. Biasakan Tubuh Berjalan dengan Beban
Kesalahan umum adalah berlatih tanpa beban, lalu langsung membawa ransel berat saat trekking.
Tubuh perlu adaptasi terhadap beban.
Cobalah:
- jalan kaki dengan tas ringan
- tambahkan beban secara bertahap
- gunakan sepatu trekking yang akan dipakai
Latihan ini membantu kaki, punggung, dan bahu terbiasa dengan sensasi membawa beban dalam durasi panjang.
6. Latih Pernapasan dan Ritme Jalan
Banyak orang kehabisan tenaga bukan karena kaki lemah, tetapi karena napas tidak terkontrol.
Latih pernapasan dengan:
- berjalan sambil menjaga ritme napas
- mengatur langkah agar sejalan dengan napas
- melatih napas dalam saat tanjakan
Pernapasan yang efisien membuat energi lebih hemat dan mencegah kelelahan dini.
7. Jangan Abaikan Fleksibilitas dan Pemulihan
Otot yang kaku lebih mudah cedera. Peregangan membantu menjaga rentang gerak dan mempercepat pemulihan.
Lakukan stretching ringan setelah latihan:
- paha
- betis
- pinggul
- punggung
Tidur cukup dan hari istirahat juga bagian dari persiapan fisik. Tubuh berkembang saat pulih, bukan saat dipaksa terus menerus.
Kapan Harus Mulai Persiapan Fisik
Idealnya, persiapan fisik dimulai beberapa minggu sebelum trekking, tergantung tingkat kesulitan rute.
Untuk trekking ringan, dua sampai tiga minggu latihan konsisten sudah sangat membantu. Untuk trekking lebih berat, persiapan satu sampai dua bulan memberi hasil yang jauh lebih aman.
Yang terpenting bukan durasinya, tetapi keteraturan.
Persiapan Fisik Bukan Soal Hebat, Tapi Siap
Trekking yang aman dan menyenangkan bukan ditentukan oleh seberapa cepat atau seberapa kuat seseorang, tetapi seberapa siap tubuhnya.
Persiapan fisik yang baik membuat langkah lebih ringan, napas lebih tenang, dan pikiran lebih fokus menikmati perjalanan. Dengan tubuh yang siap, tantangan di jalur tidak terasa menakutkan, tetapi justru menjadi bagian dari pengalaman.
Trekking bukan soal menaklukkan alam, tetapi berjalan berdampingan dengannya.
Leave a comment