Duel Gelar F1: Tekanan Berat di Pundak Norris, Verstappen Justru Santai?
Tekanan untuk meraih gelar juara dunia Formula 1 tahun ini niscaya lebih besar menghantam Lando Norris dibanding rival-rivalnya. Sepanjang musim ini, McLaren telah menunjukkan diri sebagai tim dengan potensi besar untuk merebut gelar pembalap, dan Norris saat ini memimpin perburuan tersebut.
Tekanan di Kubu Norris dan McLaren
Ini adalah kesempatan emas pertama Norris untuk merengkuh mahkota juara, sekaligus menjadi peluang gelar pembalap pertama bagi McLaren sejak Lewis Hamilton berjaya pada tahun 2008.
Memang, Hamilton secara matematis masih berpeluang pada tahun 2010, namun dengan defisit 24 poin dan hanya 25 poin tersisa, ia praktis sudah keluar dari persaingan.
Sejak itu, McLaren telah menjalani restrukturisasi fundamental. Meskipun prinsipal tim Andrea Stella memiliki pengalaman dalam perebutan gelar, pernah bekerja dengan nama-nama besar seperti Michael Schumacher, Kimi Raikkonen, dan Fernando Alonso, sebagian besar kru tim justru belum pernah merasakan atmosfer pertarungan gelar di level tertinggi.
Tingkat pengalaman mereka yang relatif minim terkadang terlihat jelas musim ini. Salah satunya adalah insiden di Qatar, saat McLaren menjadi satu-satunya tim yang tidak mengambil keputusan untuk pit stop di bawah Safety Car, dan akhirnya harus kehilangan kemenangan karena strategi tersebut.
Kejadian ini kemungkinan besar telah memicu evaluasi mendalam dan ‘introspeksi’ besar-besaran di markas tim dalam beberapa hari terakhir. Wajar jika sedikit kecemasan dan kegugupan menyelimuti jelang seri-seri penentu.
Ketenangan Red Bull dan Verstappen
Di sisi lain, Red Bull dan Max Verstappen sudah sangat familiar dengan situasi semacam ini. Mereka adalah juara bertahan empat kali dan dikenal sebagai ‘mesin’ pemenang yang sangat terlatih dan kejam di lintasan.
Sebagai tim dan pembalap yang sudah teruji, dan yang lebih penting, tidak menyangka akan berada dalam posisi perebutan gelar ini, beban tekanan seolah sirna dari pundak mereka.
Verstappen sendiri berulang kali menyatakan bahwa “itu (gelar juara) tidak akan mengubah hidup saya,” terlepas dari hasil akhirnya.
Usai balapan di Qatar, ia sempat berujar:
“Ini menunjukkan segalanya mungkin. Kami tidak punya apa-apa untuk kalah, jadi saya hanya akan pergi ke sana dan mencoba memaksimalkan mobil serta berharap kami bisa sedikit lebih kompetitif daripada di sini, tapi kita lihat saja nanti.”
Perbedaan mentalitas dan pengalaman ini bisa menjadi faktor krusial dalam menentukan siapa yang akan keluar sebagai juara. Pertarungan gelar ini bukan hanya tentang kecepatan mobil, tetapi juga kekuatan mental di bawah tekanan yang luar biasa.
(SA/GN)
sumber : www.bbc.com
Leave a comment