Kisah antara Marc Marquez dan tim Honda Racing Corporation (HRC) tak bisa dipisahkan dari peran fundamental dua sosok penting: Alberto Puig dan Santi Hernandez. Bersama mereka, Marquez mengukir enam gelar juara dunia MotoGP dan menulis sejarah yang tak terhapuskan, hingga insiden cedera parah di Jerez pada tahun 2020. Setelah masa-masa sulit itu, juara dunia asal Cervera ini memutuskan pindah ke Ducati, dan di sana ia berhasil meraih gelar kesembilan dalam kariernya. Namun, ikatan dengan pabrikan sayap emas itu tetap kuat, dan tak ada yang bisa menghapuskannya.
Momen Haru Alberto Puig
Takdir seolah menempatkan Marc Marquez untuk mengukuhkan diri sebagai juara dunia bersama Ducati saat gelaran GP Jepang, yang notabene adalah rumah bagi Honda. Momen itu begitu emosional, bahkan bagi mantan rekan-rekannya di HRC.
“Itu sangat emosional, sejujurnya. Karena kami butuh podium, dan Jepang adalah tempat terbaik untuk meraihnya. Marc juga ingin memenangkan Kejuaraan Dunia secepat mungkin, dan dia berhasil melakukannya di Jepang. Jadi, kami berbagi podium,” kata Alberto Puig.
Foto pelukan antara Alberto Puig dan Marquez sudah cukup menjelaskan segalanya. “Dengan Marc, tak perlu banyak bicara. Dia tahu kami semua bahagia atas kesuksesannya karena kami semua merasakan penderitaan dan keputusasaannya. Karena pada akhirnya, itu adalah keputusasaan yang mutlak. Dengan satu pelukan, Anda memahami segalanya – Anda tahu apa yang dipikirkan orang lain, dan mereka tahu apa yang Anda pikirkan. Semua orang yang ada di sana tahu apa yang telah terjadi, apa yang ada di baliknya. Itu adalah salah satu hal yang bahkan tidak bisa Anda rencanakan.”
Emosi Tulus Santi Hernandez
Juara dunia MotoGP itu mengalami kebangkitan sejati, baik secara pribadi maupun profesional. Tepuk tangan bukan hanya datang dari tim Ducati-nya, tetapi juga dari teman-teman lama dan para teknisi. Di antara mereka adalah sahabatnya, Santi Hernandez, kepala kru Marquez selama bertahun-tahun di RC-V.
“Sepertinya sudah tertulis dalam naskah,” ujar teknisi asal Spanyol yang kini bekerja dengan Joan Mir itu. “Itu adalah sesuatu yang sangat istimewa. Sangat emosional. Karena pada akhirnya Anda menikmati hasil Anda sendiri, podium Anda, tetapi pada saat yang sama Anda mengalaminya secara langsung, melihat teman Anda kembali menjadi Juara Dunia setelah semua yang terjadi.”
Bagi Santi Hernandez, pengalaman ini bahkan lebih mengharukan secara pribadi, mengingat ia menyaksikan langsung momen-momen sulit yang dialami Marc Marquez. “Ketika dia mengatakan dia merasa damai, saya pikir itu karena dia akhirnya menyembuhkan luka yang dia torehkan pada dirinya sendiri… Marc—sekarang kita mungkin tidak sepenuhnya menyadarinya—tapi saya pikir ketika dia pensiun dan tahun-tahun berlalu, dia akan menjadi seseorang yang banyak orang akan memandang dengan kekaguman.”
Dampak dan Warisan
Kemenangan gelar kesembilan Marc Marquez dengan Ducati di tanah Jepang bukan hanya menjadi babak baru yang cemerlang dalam kariernya, tetapi juga menjadi bukti ketahanan dan semangat juang yang luar biasa. Reaksi emosional dari mantan rekan-rekan setimnya di Honda, seperti Alberto Puig dan Santi Hernandez, menunjukkan bahwa meskipun ia telah berpindah tim, jejak persahabatan dan rasa hormat yang mendalam tetap melekat. Kisah ini menegaskan bahwa dalam dunia balap yang kompetitif, ikatan pribadi yang terjalin erat seringkali melampaui loyalitas tim, membentuk warisan yang akan selalu dikenang dalam sejarah MotoGP.
(SA/GN)
sumber : www.corsedimoto.com
Leave a comment