Malala Yousafzai: “Kedamaian Itu Sangat Berharga” Lewat Film Ski Afghanistan
Malala Yousafzai, peraih Nobel Perdamaian termuda, menyoroti sebuah film dokumenter yang memperlihatkan betapa berharganya kedamaian. Film ini mengangkat kisah sebuah sekolah ski di Afghanistan dan pengalaman hidup seorang pengungsi, memberikan gambaran mendalam tentang apa arti kedamaian bagi masyarakat yang seringkali dihadapkan pada konflik.
Kisah Ski di Lembah Bamyan
Film berdurasi 76 menit ini disutradarai dan diedit oleh Ben Sturgulewski. Proses syutingnya dilakukan selama beberapa tahun, termasuk pada tahun 2019 di Bamyan, jauh sebelum Taliban kembali berkuasa di Afghanistan.
Penonton diajak menyelami kehidupan sekolah ski dan merasakan kegembiraan Afghan Ski Challenge. Di sisi lain, kehidupan Alishah sebagai pengungsi di Jerman turut diceritakan, disajikan melalui adegan-adegan indah berwarna hitam putih yang memperkaya narasi.
“Saya suka saat Alishah berbicara tentang kedamaian,” kata Yousafzai. “Sulit sekali mendefinisikan apa itu kedamaian, tapi dia merasakannya. Dan perasaan itu muncul ketika Anda menikmati momen sederhana seperti bermain ski bersama teman-teman, atau tertawa bersama… Anda menyadari bahwa Anda aman, Anda tidak mendengar ledakan bom dan tembakan setiap saat.
Ketika Anda menonton dokumenter ini, Anda akan menyadari betapa berharganya kedamaian bagi rakyat Afghanistan.”
Malala dan Suara Pengungsi
Yousafzai, yang kini berusia 27 tahun, dikenal karena advokasinya yang telah menjadi upaya global, seringkali berfokus pada pengalaman pengungsi. UNHCR, badan pengungsi PBB, memperkirakan awal tahun ini bahwa sekitar 117 juta orang telah terpaksa meninggalkan rumah mereka, dengan 43 juta di antaranya diklasifikasikan sebagai pengungsi.
Alishah adalah salah satu dari mereka. Ia meninggalkan Afghanistan pada tahun 2021 dan kini tinggal bersama keluarganya di Jerman. Dalam salah satu adegan, ia terlihat berjalan di lorong supermarket yang penuh produk Barat, menjelaskan betapa ia merasa asing dan tidak pada tempatnya.
“Tidak ada yang merampas kebebasan saya, tapi saya tidak merasa bebas,” kata Farhang dalam dokumenter tersebut. “Tidak mengenal orang, tidak mengenal daerah, bahkan tidak mengenal budaya… itu sulit bagi seorang Muslim. Orang-orang memandang Anda dengan cara yang berbeda. Latar belakang Anda hanyalah pengungsi. Saya berharap mereka tahu bahwa kami tidak pernah terlibat dengan ekstremisme di Afghanistan dan perang. Kami hanya orang normal yang menjalani kehidupan normal.”
Pesan Kemanusiaan Lewat Kisah Sederhana
Benang merah cerita yang kuat ini sangat menyentuh hati Moayed, yang meyakini bahwa pesan ini juga akan mengena pada penonton.
“Itu sangat kuat karena apa yang sebenarnya dia katakan adalah, ‘Saya sama seperti Anda’,” jelas Moayed. “Karena setiap orang di komunitas mereka memiliki pelatih yang mereka cintai. Jadi, jenis-jenis cerita kecil ini sangat berdampak untuk memanusiakan orang-orang yang terlalu lama di-dehumanisasi.”
Film ini dengan gamblang menunjukkan bagaimana olahraga, dalam hal ini ski, dapat menjadi jembatan untuk memahami kerentanan dan ketahanan manusia di tengah gejolak global. Melalui kisah Alishah, penonton diajak merenungkan makna kebebasan dan kedamaian yang seringkali dianggap remeh, namun sangat berharga bagi mereka yang pernah kehilangan segalanya.
(OL/GN)
sumber : www.olympics.com
Leave a comment