Lachlan Giles Pensiun usai ‘Dansanya’ dengan Legenda di ONE Fight Night 38, Titipkan Pesan Penting untuk Grappler Muda
Bintang Jiu-Jitsu asal Australia, Lachlan Giles, resmi mengumumkan pengunduran dirinya dari dunia kompetitif setelah penampilan terakhirnya yang emosional di ring ONE Championship. Giles meninggalkan warisan teknik dan pesan penting yang terbentuk dari puluhan tahun studinya, mendesak para grappler muda untuk berlatih lebih cerdas demi karier yang panjang.
Momen Perpisahan yang Penuh Makna
Lachlan Giles (39) kembali dari masa pensiunnya di ONE Fight Night 38 akhir pekan lalu demi satu kesempatan langka: menghadapi Marcelo Garcia. Pertarungan impian ini telah lama dinantikan oleh para penggemar di seluruh dunia. “Dia luar biasa. Dia adalah idola saya,” ujar Giles tentang Garcia.
Duel ini diwujudkan oleh Tom DeBlass, Vice President grappling ONE, yang menghubungi Giles pada bulan September untuk menjadikan pertarungan yang telah lama ditunggu-tunggu ini menjadi kenyataan. DeBlass, yang bertugas sebagai komentator di acara tersebut di Bangkok, bahkan bergegas ke belakang panggung untuk menyapa Giles, berjabat tangan, dan berfoto bersama sebelum wawancara dimulai.
Garcia, yang kini berusia 43 tahun, juga membuat comeback luar biasa pada Januari di ONE 170 di Bangkok, meraih kemenangan melalui submission setelah berhasil pulih dari kanker perut. Giles menekankan bahwa kemenangannya pada hari Sabtu itu bukanlah melawan Marcelo Garcia yang sama seperti yang dulu ia pelajari secara obsesif.
“Kami berdua tentu sudah melewati masa puncak penampilan kami,” kata Giles. “Ada bagian dari ini yang saya tidak senang hanya karena saya sangat menyukai Marcelo.”
‘Lachy Lock’ dan Warisan Sang Profesor
Giles sendiri adalah seorang legenda di dunia grappling. Serial instruksionalnya, termasuk “Leg Lock Anthology,” menjadi tontonan wajib setelah pencapaian medali perunggunya di ADCC 2019 pada usia 34 tahun, dan pengaruhnya masih terasa di seluruh matras grappling dunia.
Kemenangan pada hari Sabtu menambah babak baru dalam warisannya. Setelah berhasil mencegah Garcia meraih kontrol pinggul yang paling ia takuti, Giles akhirnya menemukan celah dan mengunci submission yang awalnya salah diidentifikasi sebagai knee bar dalam siaran. Lebih tepatnya, itu adalah leg lock, namun dengan sentuhan uniknya sendiri.
“Itu sebenarnya submission saya sendiri,” jelasnya. “‘The Lachy Lock’. Benar. Ya, kita sebut saja begitu.”
Pesan Bijak untuk Grappler Muda
Meskipun meraih kemenangan mengejutkan, Giles menegaskan bahwa perjalanan kompetitifnya berakhir di sini. Keputusannya ini juga didorong oleh pengamatan mendalam selama puluhan tahun berkecimpung di jiu-jitsu. Dia menyarankan para grappler muda untuk lebih fokus pada pendekatan yang berkelanjutan.
“Terlalu banyak orang berlatih keras lalu memiliki karier yang singkat,” kata grappler Australia berusia 39 tahun itu. “Saya berasumsi jika Anda berlatih sekarang, Anda juga ingin berlatih 20 tahun ke depan. Anda harus berlatih lebih ringan, fokus pada sisi teknis dan metodisnya, dan pada akhirnya Anda akan menjadi sangat bagus dengan cara seperti itu.”
Mengakhiri Perjalanan Kompetitif dengan Hormat
Kecemasan yang pernah mendorongnya untuk berkompetisi juga menjadi alasan untuk mengonfirmasi keputusannya. “Biasanya sebelum turnamen, saya berpikir, mengapa saya melakukan ini? Saya bisa saja duduk di sofa,” katanya. “Ini menyenangkan, tetapi juga membuat gugup.”
Giles memuji penyelenggaraan ONE Championship. “Ini adalah acara yang terorganisir dan berjalan fantastis, serta sangat profesional,” ungkapnya.
Saat ia pamit dari dunia kompetitif, Giles menyampaikan pesan terakhirnya yang sederhana — dan mengarahkannya kepada pria yang paling ia kagumi.
“Jadilah seperti Marcelo,” ujarnya.
Dengan berakhirnya karier kompetitif Lachlan Giles, dunia grappling kehilangan salah satu pemikir dan praktisi paling inovatifnya. Namun, warisan teknik dan pesannya tentang pelatihan cerdas diharapkan akan terus membimbing generasi grappler mendatang, memastikan fondasi yang kuat untuk perkembangan olahraga ini.
(OL/GN)
sumber : www.bangkokpost.com
Leave a comment