Serena Williams Ungkap Bagaimana Sang Ayah “Hancurkan” Mimpi Olahraga Lainnya
Serena Williams, petenis putri yang secara luas dianggap sebagai salah satu yang terhebat sepanjang masa, baru-baru ini berbagi kisah mengejutkan. Ia mengungkapkan bahwa sang ayah pernah “menghancurkan” mimpinya untuk berkarier di cabang olahraga yang sama sekali berbeda.
Jejak Legendaris di Lapangan Tenis
Sebelum pensiun pada tahun 2022, Serena Williams telah menorehkan jejak yang tak terhapuskan dalam dunia tenis. Petenis berusia 44 tahun asal Compton, California, ini berhasil meraih 23 gelar Grand Slam tunggal, serta tambahan 14 gelar Grand Slam ganda putri bersama kakak perempuannya, Venus.
Karier gemilangnya berlangsung hampir empat dekade. Serena pertama kali memegang raket pada usia empat tahun dan menjadi profesional pada tahun 1995. Kesuksesan luar biasa ini tak lepas dari peran sentral sang ayah, Richard Williams.
Peran Krusial Richard Williams
Richard Williams tidak hanya mengajari anak-anaknya di rumah (homeschooling), tetapi juga berperan sebagai salah satu pelatih resmi kedua putrinya. Ia bahkan pernah menarik mereka dari akademi Rick Macci untuk melatih mereka sendiri. Metode Richard yang cermat terbukti sangat penting dalam membentuk Venus dan Serena menjadi atlet kelas dunia, membuat mereka hanya memiliki sedikit penyesalan dalam jangka panjang.
Mimpi yang Berbeda: Menjadi Peselam
Meski sukses besar di tenis, Serena mengungkap bahwa impian masa kecilnya adalah menjadi seorang pesenam, seandainya ia tidak berhasil di tenis. Kisah ini ia bagikan saat berbicara dengan bintang atletik Gabby Thomas dalam episode terbaru podcast “Stockton Street”, yang ia pandu bersama Venus.
“Saya sangat ingin menjadi pesenam,” kata Serena. “Suatu hari ayah saya bertanya, ‘Apa yang akan kamu lakukan jika tidak berhasil di tenis?’ Saya akan menjawab, ‘Saya ingin menjadi pesenam’.”
“Suatu hari ayah saya mengajak saya bicara dan dia berkata, ‘Kamu tidak bisa mengatakan itu lagi.’ Saya juga saat itu berusia sekitar 10 tahun. Ketika saya mengatakan bahwa saya sangat terpukul, hati saya tenggelam, dan saya merasa, ‘Ayah telah menghancurkan mimpiku menjadi pesenam!'”
Perspektif Venus dan Realita
Venus Williams kemudian ikut menimpali, memberikan konteks dari sudut pandangnya.
“Dia (Serena) sudah terlalu tinggi, dan kamu harus memulai sangat muda (untuk senam). Kesempatan itu sudah lewat, meskipun ke arah yang benar. Langsung menuju Flushing (Meadows, lokasi US Open) di tikungan,” tambah Venus.
Ucapan Venus menyoroti realitas fisik yang mungkin menghalangi Serena di dunia senam, tetapi juga menegaskan bahwa nasib telah membimbingnya ke jalur yang tepat.
Berlabuh di Tenis dan Raih Sejarah
Pada akhirnya, Serena mendedikasikan hidupnya sepenuhnya untuk tenis. Ia memenangkan gelar Grand Slam tunggal pertamanya di US Open pada tahun 1999 saat baru berusia 17 tahun. Sepanjang kariernya, ia mencetak segudang rekor dan pensiun dengan penampilan terakhirnya di US Open.
Meskipun mimpi masa kecilnya “dihancurkan” oleh sang ayah, keputusan itu secara tidak langsung telah mengarahkan Serena Williams untuk menjadi salah satu ikon terbesar dalam sejarah olahraga tenis, meninggalkan warisan yang akan dikenang selamanya.
(OL/GN)
sumber : www.express.co.uk
Leave a comment