Home Olahraga Lainnya Kisah Thane Baker: Dari Arena Olimpiade, Kini Jadi Buku Wajib Baca!
Olahraga Lainnya

Kisah Thane Baker: Dari Arena Olimpiade, Kini Jadi Buku Wajib Baca!

Share
Kisah Thane Baker: Dari Arena Olimpiade, Kini Jadi Buku Wajib Baca!
Share

Thane Baker: Perjalanan Luar Biasa dari Kansas Pedalaman Menuju Panggung Olimpiade

Kisah seorang anak laki-laki dari kota kecil di Kansas yang bermimpi menjadi pelari Olimpiade telah menginspirasi banyak orang. Perjalanan luar biasa ini diabadikan dalam sebuah buku berjudul “Running in Borrowed Shoes,” yang ditulis oleh putrinya sendiri, Catherine Baker Nicholson. Sosok di balik cerita epik ini adalah Thane Baker, pria yang melambangkan kegigihan dan semangat juang tanpa batas.

Inspirasi Awal dan Nasihat Berharga

Semua berawal ketika Thane, yang kala itu berusia tujuh tahun, bersama keluarganya menghadiri perayaan Glenn Cunningham Day di Elkhart, kota kelahirannya di sudut barat daya Kansas. Glenn Cunningham adalah pahlawan lokal yang dikenal sebagai pelari satu mil tercepat di dunia pada masanya.

Rasa penasaran Thane muda muncul, menanyakan apa sebenarnya kemeriahan yang terjadi. Orang tuanya menjelaskan bahwa Cunningham telah meraih medali di Olimpiade. Tanpa ragu, si kecil Thane menyatakan keinginannya untuk berlari di Olimpiade juga. Impian masa kecil untuk menjadi pahlawan atau bintang olahraga memang lumrah, namun orang tua Thane memberikan nasihat serius yang membekas.

“Jika itu yang benar-benar kamu inginkan, kamu harus bekerja lebih keras dari yang pernah kamu bayangkan. Kamu akan mengorbankan banyak hal demi terus bergerak menuju tujuanmu,” ujar sang ayah.

Ibunya pun tak kalah mendukung. Setiap kali peluit makan siang berbunyi, Thane diminta untuk berlari pulang dari sekolah. Sang ibu akan menghitung waktunya, dan dari situlah, perjalanan lari seumur hidup Thane Baker dimulai.

Ketika Impian Hampir Sirna

Namun, takdir seringkali menghadirkan rintangan tak terduga. Di bab kedua bukunya, putrinya menulis tentang bagaimana impian itu hampir hancur. Thane muda mendapatkan pekerjaan di bengkel mobil ayahnya. Suatu hari, saat menggunakan palu, sebagian cakar palu patah, melayang, dan menusuk lututnya. Dokter di Elkhart menyadari kompleksitas cedera tersebut dan mengirim Thane ke rumah sakit di Hays.

Baca juga:  BWF Rilis Kalender Lengkap Badminton 2026: Full Aksi!

Ahli bedah di Hays mengevaluasi situasinya dan memutuskan untuk tidak memotong otot dan ligamen untuk mengangkat logam. Ia mengatakan kepada Thane bahwa ia akan pulih sepenuhnya, tetapi tidak boleh lagi berpartisipasi dalam atletik. Thane Baker pun merasa sangat terpukul dan hancur.

Bangkit Kembali Menuju Lintasan

Seiring waktu, Baker pulih sepenuhnya – bahkan sampai dokter memberinya izin untuk kembali berolahraga. Setelah lulus dari Elkhart, ia melanjutkan pendidikan ke Kansas State College di Manhattan.

Di akhir semester musim gugur, ia membaca artikel di koran kampus yang menyebutkan bahwa Ward Haylett, pelatih atletik K-State, akan mengadakan pertemuan informatif bagi siapa saja yang tertarik bergabung dengan timnya.

Baker menghadiri pertemuan tersebut di Nichols Gym. Haylett mendorongnya untuk mencoba. Akhirnya, Haylett memberi Baker beasiswa sebesar $67.50 per semester dan memberinya pekerjaan mengepel binatu untuk membantu biaya hidup.

Dominasi di Lintasan Kampus dan Ujian Olimpiade

Karier Baker di kampus sangat fenomenal. Ia berhasil memenangkan 10 gelar Big Eight dan tiga medali emas berturut-turut di lari 100 dan 220 yard, ditambah satu gelar NCAA. Pada Olympic tryouts di Los Angeles pada tahun 1952, ia berhasil lolos kualifikasi di nomor lari 200 meter.

Tim dijadwalkan terbang dari Los Angeles ke New York menggunakan pesawat baling-baling TWA terbaru. Namun, saat dalam perjalanan, salah satu mesin terbakar. Pilot harus melakukan manuver menukik dari ketinggian 20.000 kaki ke 2.000 kaki, yang berhasil memadamkan api. Para penumpang yang ketakutan akhirnya melanjutkan penerbangan ke New York dan kemudian ke Helsinki untuk Olimpiade.

Pelatih Haylett meminjamkan Baker sepasang sepatu lari. Dengan sepatu pinjaman itulah, Thane Baker meraih medali perak di nomor lari 200 meter. Empat tahun kemudian, di Olimpiade 1956, ia memenangkan tiga medali lagi: perunggu di nomor 200 meter, perak di 100 meter, dan medali emas bersama tim estafet 4×100 meter Amerika Serikat yang memecahkan rekor dunia.

Baca juga:  BWF POTY: Malaysia Panen Nominasi Terbanyak!

Puncak Kejayaan di Panggung Dunia

Ini adalah catatan yang luar biasa bagi seseorang dari komunitas pedesaan Elkhart, dengan populasi hanya 1.726 orang. Sebuah bukti nyata bahwa impian bisa terwujud dari mana saja.

Thane Baker kemudian bergabung dengan Angkatan Udara dan bekerja di bisnis perminyakan. Ia dan istrinya, Kathy, menikah selama 66 tahun hingga Kathy meninggal dunia. Komitmennya terhadap atletik dan K-State telah memberikan dampak besar. Saat artikel ini ditulis, ia telah berusia 94 tahun.

Kisah Thane Baker menjadi pengingat bahwa dengan kerja keras, pengorbanan, dan ketekunan, “The Dream Comes True”—impian dapat menjadi kenyataan.

(OL/GN)
sumber : themercury.com

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Masvidal Bakal Gebrak UFC, Siap Tantang McGregor?

Masvidal siap gebrakan UFC! Rumor kencang menyebut ia incar tantangan McGregor. Akankah...

Mendadak! Kuzmin Tantang Battbootti di ONE Fight Night 39!

Mendadak! Kuzmin secara mengejutkan menantang Battbootti. Duel seru siap ramaikan ONE Fight...

Resmi! Chiesa vs. Harris di UFC Fight Night 271.

Resmi! Chiesa vs. Harris siap beradu di UFC Fight Night 271. Jangan...

Kayla Harrison Mundur dari UFC 324, Pasca Operasi Leher Penuh Haru.

Kayla Harrison mundur dari UFC 324 pasca operasi leher. Keputusan penuh haru...