Demetrious Johnson Kritik Keputusan Gelar Kelas Bulu UFC: Popularitas di Atas Merit?
Legenda UFC, Demetrious Johnson, baru-baru ini melontarkan kritik pedas terhadap keputusan UFC yang memberikan kesempatan perebutan gelar kelas bulu kepada Diego Lopes, alih-alih Lerone Murphy. Johnson mengungkapkan rasa frustrasinya terhadap promosi tersebut dan meyakini bahwa proses pengambilan keputusan mereka kurang didasarkan pada prestasi, melainkan lebih memihak popularitas.
Pengumuman Dana White untuk UFC 325, yang mengonfirmasi bahwa Alexander Volkanovski akan mempertahankan sabuk juara kelas bulu melawan Lopes, memicu kontroversi. Pertarungan ini merupakan ulangan dari duel gelar mereka di UFC 314, di mana Volkanovski memenangkan pertarungan dengan keputusan mutlak.
Lopes kemudian menjadi main event di ajang Noche UFC tahun lalu, meraih kemenangan impresif atas Jean Silva. Namun, banyak penggemar merasa kemenangan tersebut belum cukup untuk menjamin perebutan gelar, terutama jika dibandingkan dengan penantang seperti Murphy dan Movsar Evloev yang memiliki rekor lebih solid.
Johnson adalah salah satu pengkritik dan ia tak ragu menyuarakan pendapatnya saat Murphy hadir di programnya, MIGHTYcast. Mantan juara kelas terbang itu mengatakan bahwa memberikan kesempatan perebutan gelar tanpa dasar prestasi yang jelas bisa menjadi preseden buruk.
“Apakah kita melakukan ini demi popularitas, atau karena seseorang memang lebih baik? Di situlah saya mempertanyakan legitimasi hal yang kita sebut sebagai olahraga ini,” kata Johnson.
“Ini bukan olahraga, ini adalah pilih-pilih dan saya akan mendorong atlet ini karena dia memiliki pasar yang ingin saya masuki.”
Ia menambahkan, sebagai penggemar olahraga atau hiburan yang disajikan organisasi, banyak orang yang tidak memahami pemikiran UFC.
Demetrious Johnson Tidak Kecewa pada Diego Lopes
Demetrious Johnson juga menegaskan bahwa ia tidak marah kepada Diego Lopes karena menerima kesempatan perebutan gelar kelas bulu UFC tersebut. Sebaliknya, ‘Mighty Mouse’ melampiaskan kekesalannya kepada para pembuat pertandingan (matchmakers).
Johnson berpendapat bahwa kesempatan perebutan gelar seharusnya diberikan kepada petarung yang memang telah membuktikan diri sebagai penantang teratas. Ia merasa harus ada penekanan lebih pada catatan kemenangan beruntun dan kualitas lawan. Pendekatan ini, menurutnya, akan memastikan para juara UFC menghadapi petarung terbaik di divisi mereka.
“Pemikiran saya tentang mengapa Diego mendapatkan [kesempatan gelar] di atas Lerone Murphy bukan berarti saya berbicara buruk atau saya kesal. Ini adalah saya mempertanyakan para *matchmakers* [UFC],” ujarnya dalam episode *MIGHTYcast*.
Johnson mengatakan bahwa Jean Silva adalah lawan yang sah, namun ia mempertanyakan apakah kemenangan itu seharusnya membuat Lopes berstatus sebagai penantang nomor satu.
“Apakah itu pertarungan [penantang] nomor 1 ketika [Lopes] dan [Silva] bertarung? Saya tidak yakin. Jean Silva juga sedang dalam rekor kemenangan, jadi jika dia mengalahkan Diego Lopes, apakah itu akan memberinya kesempatan perebutan gelar?” kata Johnson.
“[Lopes] sudah memiliki kesempatan untuk memperebutkan sabuk. [Dia] kalah. Skornya 4-1, saya rasa semua orang merasa nyaman mengatakan itu, saya merasa Alex Volkanovski memenangkan pertarungan itu dengan dominan.”
Ia melanjutkan, Lopes kemudian mengalahkan Silva dalam pertarungan yang sengit dan berimbang, namun itu hanya satu kemenangan dan ia langsung mendapatkan kesempatan untuk perebutan gelar lagi.
Johnson Mempertanyakan Mengapa Lerone Murphy Dilewati
Johnson juga mengungkapkan ketertarikannya untuk memahami mengapa Lerone Murphy dilewati demi Lopes. Ia mempertanyakan apakah catatan rekor Murphy yang impresif, 17-0-1, sepenuhnya dipertimbangkan.
Murphy sendiri baru saja meraih kemenangan knockout di ronde pertama yang mengesankan atas mantan bintang Bellator, Aaron Pico, di UFC 319. Ia memasuki pertarungan tersebut dengan banyak hal yang dipertaruhkan, terutama karena Pico baru melakukan debut UFC-nya.
“Ketika Anda melihat seseorang dengan rekor Anda dan apa yang telah Anda capai dalam karier Anda di UFC, rasanya seperti itu tidak berarti apa-apa,” kata Johnson.
“Apakah rekor kemenangan beruntun itu berarti sesuatu?”
Kritik tajam dari seorang legenda seperti Demetrious Johnson ini tentu saja membuka kembali perdebatan tentang sistem pemberian kesempatan perebutan gelar di UFC. Apakah memang faktor popularitas mulai lebih diutamakan dibandingkan catatan prestasi dan konsistensi, akan menjadi pertanyaan besar bagi para penggemar dan petarung di masa mendatang.
(OL/GN)
sumber : heavy.com
Leave a comment