Demetrious Johnson Kritik Keputusan UFC soal Perebutan Gelar Featherweight: Ada Apa dengan Logika Matchmaker?
Legenda UFC dan juara ONE Championship, Demetrious Johnson, secara terang-terangan menyuarakan kebingungannya atas keputusan UFC terkait perebutan gelar juara kelas featherweight. Kritiknya berpusat pada penetapan pertarungan ulang antara juara bertahan Alexander Volkanovski dan Diego Lopes.
Pada UFC 305 yang akan berlangsung pada Sabtu, 17 Agustus 2024 waktu setempat di Perth, Australia, atau Minggu pagi, 18 Agustus 2024 WIB, Alexander Volkanovski dijadwalkan akan mempertahankan gelarnya melawan Diego Lopes. Pertarungan ini akan disiarkan secara langsung melalui platform resmi Mola TV di Indonesia. Rematch yang mengejutkan ini telah menuai banyak kritik dari komunitas MMA, mengingat Lopes baru bertarung sekali (dengan kemenangan KO atas Jean Silva) sebelum langsung diberikan kesempatan kedua melawan Volkanovski, yang sebelumnya mengalahkannya dalam perebutan gelar kosong.
Kritik Tajam Demetrious Johnson
Melalui acaranya, MightyCast, Johnson mengkritik booking pertarungan tersebut. Ia mempertanyakan mengapa Lopes mendapatkan kesempatan itu ketimbang Lerone Murphy yang belum terkalahkan.
"Saya ingin menegaskan dan menekankan ini: pemikiran saya yang bertanya mengapa Diego mendapatkannya daripada Lerone Murphy bukanlah bentuk kritik buruk atau saya marah, ini adalah saya mempertanyakan proses pemikiran di balik para matchmaker," kata Johnson.
“Ini adalah saya mempertanyakan legitimasi olahraga bela diri campuran. Biasanya, ketika seorang atlet sedang dalam rentetan kemenangan, memiliki rentetan kemenangan tertinggi di divisi, dia seharusnya menjadi penantang No. 1, kan? Apakah Jean Silva adalah penantang No. 1? Apakah itu posisi penantang No. 1 ketika Diego Lopes dan Jean Silva bertarung? Saya tidak yakin. Jean Silva juga sedang dalam rentetan kemenangan, jadi jika dia mengalahkan Diego Lopes, apakah itu akan memberinya pertarungan gelar?”
Johnson berpendapat bahwa di MMA modern, atlet sering mendapatkan kesempatan perebutan gelar setelah hanya memenangkan satu pertarungan. Ia merujuk pada Lopes yang sebelumnya kalah dari Volkanovski dalam pertarungan yang dianggap dimenangkan Volkanovski dengan dominan (skor 4-1). Lopes kemudian mengalahkan Jean Silva dalam pertarungan yang sengit, namun Johnson menilai satu kemenangan itu belum cukup untuk langsung memberikannya title shot lagi.
Popularitas atau Legitimasi?
Lopes memang telah meraih popularitas pesat sejak debutnya di UFC pada Mei 2023, di mana ia menerima pertarungan short-notice melawan Movsar Evloev yang tak terkalahkan dan kalah dalam keputusan yang kompetitif. Ia kemudian mencatatkan lima kemenangan beruntun untuk mendapatkan kesempatan gelar pertamanya. Meskipun gagal melawan Volkanovski, Lopes telah membangun reputasi pertarungan yang menarik dan memiliki basis penggemar yang besar di Meksiko, tempat ia tinggal dan berlatih.
Johnson memahami mengapa Lopes mungkin menjadi favorit promotor, tetapi ia berharap UFC mau lebih transparan.
"Apakah itu karena [Lopes] sangat populer?" tanya Johnson. "Apakah itu karena dia menjual banyak tiket? Saya tidak tahu. Tetapi apakah kita melakukan ini untuk popularitas atau karena seseorang lebih baik? Di sinilah saya ingin mempertanyakan legitimasi hal yang kita sebut olahraga ini. Dan itulah mengapa saya selalu mengatakan, ini bukan olahraga. Ini adalah pilih-pilih dan saya akan mendorong atlet ini karena dia memiliki pasar yang ingin saya masuki."
Ia menambahkan, promotor seharusnya mengkomunikasikan hal ini kepada publik agar para penggemar memahami dasar keputusan yang dibuat.
Misteri Lerone Murphy
Pengabaian Lerone Murphy terasa sangat membingungkan mengingat performa impresif veteran Inggris tersebut. Agustus lalu, Murphy mencetak kemenangan KO pada ronde pertama yang luar biasa atas mantan bintang Bellator, Aaron Pico, memperpanjang rentetan kemenangannya menjadi sembilan dan memperbaiki rekornya menjadi 17-0-1 sebagai seorang profesional.
Tidak jelas mengapa Murphy dilewati, dan Johnson ingin tahu apakah rekor tak terkalahkan Murphy tidak dipertimbangkan – atau lebih buruk lagi, tidak diperhatikan.
"Saya pikir sebagai penggemar olahraga atau nilai hiburan atau organisasi, itu sedikit mengganggu saya," kata Johnson kepada Murphy, yang menjadi tamu di acaranya. "Tetapi terkadang saya duduk di sini dan berpikir, haruskah kita bisa memahami apa yang mereka lakukan? Ketika Anda melihat seseorang dengan rekor Anda dan apa yang telah Anda lakukan dalam karier Anda di UFC, itu hampir seperti tidak memberikan substansi apa pun. Itu hampir seperti, OK, apakah itu berarti apa-apa? Apakah rentetan kemenangan itu berarti apa-apa?"
Pertanyaan Johnson menyoroti dilema yang dihadapi UFC: apakah keputusan matchmaking didasarkan pada prestasi murni atau faktor-faktor komersial seperti popularitas dan potensi pasar. Bagi banyak penggemar dan atlet seperti Murphy, kurangnya transparansi ini dapat merusak persepsi keadilan dan legitimasi dalam olahraga yang mereka cintai.
(OL/GN)
sumber : www.mmafighting.com
Leave a comment