Pandangan Tajam Carlo Ancelotti: Liga Champions Terlalu Dominan, Minim Ketegangan
Carlo Ancelotti, pelatih kawakan yang telah lima kali menjuarai Liga Champions, secara terang-terangan menyuarakan apa yang mungkin kita semua diam-diam rasakan: kompetisi elite Eropa itu kini semakin membosankan dan kehilangan daya tariknya.
Ancelotti, yang saat ini menjabat sebagai pelatih tim nasional Brasil setelah meninggalkan Real Madrid pada musim panas lalu, sebelumnya sukses meraih gelar Liga Champions bersama Real Madrid dan AC Milan sepanjang karier kepelatihannya yang gemilang. Kini, melihat kompetisi dari perspektif orang luar, Ancelotti dengan tepat mengidentifikasi mengapa Liga Champions kehilangan sebagian pesonanya.
“Dilihat dari belahan dunia lain, Liga Champions memiliki favorit yang itu-itu saja: Real Madrid, PSG, Manchester City, dan Bayern Munich,” ujar Ancelotti kepada TuttoSport. “Kami sering melihat pertandingan dengan margin gol yang tinggi, dan hasil seperti itu membuat kami kehilangan minat. Fase pertama ini sudah diperluas untuk membuatnya lebih menarik, namun ternyata tidak sesuai harapan.”
Konteks Perubahan Format dan Dominasi Finansial
Perluasan kompetisi menjadi 36 peserta dan pengenalan Sistem Swiss, di mana tim memainkan delapan pertandingan fase grup alih-alih enam, justru dianggap telah mengurangi ketegangan Liga Champions. Meskipun format 32 tim sebelumnya sempat dikritik, kritik tersebut sebagian besar lebih karena ketimpangan finansial antara klub terkaya Eropa dan sisanya, bukan pada struktur kompetisi itu sendiri.
Kini, kita dihadapkan pada situasi yang aneh di mana Inggris memiliki enam tim di fase grup kompetisi, dan tidak satu pun dari mereka harus melalui babak play-off kualifikasi. Dalam beberapa hari terakhir saja, keenam klub Inggris ini berhasil memenangkan lima pertandingan dan satu hasil imbang di antara mereka, mencetak 16 gol dan hanya kebobolan tiga gol.
Ini adalah kali kedua di musim 2025-26 di mana klub-klub Premier League hampir menyapu bersih kemenangan. Dominasi finansial mereka begitu kuat, sehingga bertanding melawan klub-klub non-elite Eropa terasa lebih mudah dibandingkan menghadapi tim seperti Craven Cottage di liga domestik mereka.
Musim ini mungkin bisa dianggap sebagai kejadian aneh, dengan Tottenham memenangkan Liga Europa meskipun hanya finis di posisi ke-17 Premier League. Namun, keputusan pengecut UEFA, segera setelah proposal Liga Super, untuk memperkenalkan dua slot kualifikasi tambahan bagi liga-liga ‘berkinerja terbaik’ di Eropa, telah memperparah keadaan.
Dengan perhitungan koefisien seperti saat ini, keputusan ini hampir selalu menguntungkan Inggris, Spanyol, Jerman, dan Italia—empat liga yang memang sudah memiliki empat slot otomatis. Kini, sembilan belas dari 36 tim di fase liga berasal dari empat negara tersebut.
Mengorbankan Daya Saing dan Variasi
Pertandingan-pertandingan seperti Newcastle melawan Athletic Bilbao atau Tottenham melawan Villarreal menjadi terasa paling tidak perlu, sebuah hasil dari keserakahan dan politik daripada penghargaan olahraga yang sesungguhnya. Pada dasarnya, laga-laga tersebut lebih pantas menjadi perempat final Liga Europa. Kehadiran mereka di Liga Champions justru mengorbankan para juara dari liga-liga kecil seperti Austria, Kroasia, Polandia, Skotlandia, Serbia, dan Swiss.
Padahal, tim-tim seperti Pafos, Qarabag, Kairat, dan Bodo/Glimt dari pinggiran Eropa justru sempat memberikan warna dan kehormatan tersendiri bagi kompetisi.
UEFA sebelumnya pernah mengurangi ukuran Liga Champions, memangkas fase grup kedua pada musim 2003-04 setelah adanya kekhawatiran tentang kelelahan pemain dan menurunnya minat penggemar. Kini, lebih dari 20 tahun kemudian, format yang membengkak kembali dengan dendam. Fase liga kini menjadi semacam parade bagi tim elite kaya, menunda setiap ketegangan dalam kompetisi hingga akhir Februari.
Pada titik terbaiknya, sepak bola Eropa adalah pengalaman yang memperkaya pikiran dengan mempertemukan tim-tim asing di tempat-tempat yang asing. Namun, pengulangan yang monoton antara London, Paris, Munich, dan Madrid tidak banyak membantu mempertahankan minat jangka panjang dalam kompetisi ini.
Idealnya, kompetisi akan kembali ke 32 tim, mengurangi jumlah peserta dari liga-liga besar untuk mendorong variasi, dan mendorong elemen ketegangan untuk menjadikan setiap pertandingan sebuah peristiwa yang berarti. Sayangnya, nasi sudah menjadi bubur. Namun, diagnosis Ancelotti tentang kompetisi yang membosankan dan dirusak oleh dominasi favorit adalah pandangan yang sangat tepat.
(LC/GN)
sumber : www.planetfootball.com
Leave a comment