Inter Milan vs Barcelona: Kisah Tujuh Gol Penuh Drama di Semifinal Liga Champions
Tujuh gol, drama yang tak henti, dan gol penyama kedudukan di menit akhir waktu normal yang memaksa pertandingan berlanjut ke babak tambahan. San Siro menjadi saksi bisu sebuah kisah epik, di mana kemenangan 4-3 Inter Milan atas Barcelona pada leg kedua semifinal Liga Champions dipenuhi emosi, kekacauan, dan kehebatan yang tak terlupakan.
Menyebut laga ini sebagai ‘Pertandingan Terbaik Tahun Ini’ mungkin terasa kurang. Ini adalah sebuah kisah epik, malam yang ditakdirkan untuk hidup dalam memori kolektif sepak bola Eropa; salah satu pertandingan yang akan selalu Anda tonton berulang kali dan akan diceritakan dari generasi ke generasi.
Untuk memahami sepenuhnya pertandingan leg kedua ini, kita perlu kembali sejenak ke leg pertama yang dimainkan seminggu sebelumnya, karena malam-malam seperti ini tidak terjadi begitu saja.
Konteks Leg Pertama: Drama di Montjuic
Di Stadion Olimpiade Lluis Companys, Barcelona, leg pertama berakhir dengan skor imbang 3-3, namun meninggalkan perasaan seperti novel yang belum selesai. Inter sempat unggul cepat lewat sontekan brilian Marcus Thuram dan tendangan voli keras Denzel Dumfries, dua gol yang seolah-olah akan menentukan jalannya semifinal.
Namun Barcelona merespons dengan talenta murni: Lamine Yamal menerangi stadion dengan salah satu gol mustahilnya – tembakan kaki kiri yang menentang hukum fisika – sebelum Ferran Torres menyamakan kedudukan.
Di babak kedua, Inter kembali unggul lewat Dumfries, tetapi kemudian upaya Raphinha membentur punggung Yann Sommer sebelum melewati garis gawang. Apakah itu akhir dari drama? Belum! Siapa yang bisa melupakan gol Henrikh Mkhitaryan yang dianulir oleh VAR hanya karena perbedaan milimeter?
Thriller di San Siro: Gol, Drama, dan Magis Sepak Bola
Dengan segala emosi yang menggantung di udara, pada tanggal 6 Mei, San Siro menjadi panggung bagi salah satu malam tak terlupakan dan magis yang telah menjadikan olahraga ini legendaris. Inter memulai dengan kuat, sama seperti di leg pertama: Lautaro Martinez membuka skor, dan Hakan Calhanoglu menggandakan keunggulan dari titik penalti.
Skenario tampaknya berulang, dengan Barcelona menolak menyerah dan sekali lagi menemukan jawaban dalam keberanian serta keajaiban Lamine Yamal. Eric Garcia dan Dani Olmo sama-sama mencetak gol melalui sundulan untuk menyamakan kedudukan. Hanya Sommer yang mencegah keajaiban Rocafonda itu mengunci kemenangan lebih awal, menolak namanya tercatat di papan skor.
Namun, dengan sisa tiga menit, bahkan kiper asal Swiss itu tidak bisa menghentikan upaya Raphinha yang berhasil melengkapi kebangkitan Barcelona: skor 3-2 untuk Barca. Meazza yang terkejut dan terdiam menyaksikan mimpi Nerazzurri seolah hancur berkeping-keping. Namun, tepat pada momen itulah pertandingan ini memasuki status legendaris. Saat itulah kisah ini menjadi epik.
Gol Penyama Acerbi yang Krusial
Waktu tambahan babak kedua… peluang terakhir. Inter memenangkan bola kembali melalui Dumfries. Barcelona mengklaim adanya pelanggaran terhadap Gerard Martin, namun di kompetisi Eropa, pelanggaran seperti itu jarang dihiraukan. Bola kemudian dimainkan rendah ke dalam kotak penalti, dan bukan Martinez, Thuram, atau Mehdi Taremi yang menyambutnya, melainkan Francesco Acerbi – bek tengah Nerazzurri yang tangguh, bergerak layaknya seorang striker sejati.
Sebuah lari tajam, penyelesaian yang keras dan tepat yang melesat di bawah mistar gawang. Wojciech Szczęsny tak berdaya, Barca terpukul.
Klimaks di Babak Tambahan: Raungan Frattesi
Itu bukan sekadar gol hebat; itu adalah gol yang akan dikenang sepanjang masa. San Siro meledak, dan momentum emosional menyapu segalanya, bahkan Barcelona, yang tertinggal di antara rasa tidak percaya dan kelelahan.
Maka, pertandingan berlanjut ke babak tambahan, di mana kisah epik ini menuntut – tidak, mendesak – satu babak terakhir. Dan Davide Frattesi-lah yang menuliskannya, mengubah skor menjadi 4-3 dan mengirim Inter ke final, memberikan sepak bola sebuah gambar ikonik lainnya: ia memanjat ke arah para penggemarnya, berteriak ke langit, suaranya hilang ditelan malam.
Ini adalah gambaran dari pertandingan dan keseluruhan dua leg yang memiliki segalanya: keahlian, kesalahan, kehebatan, keputusasaan, dan kegembiraan. Inter Milan versus Barcelona bukan hanya leg kedua semifinal Liga Champions, melainkan sebuah novel sempurna, yang ditulis dan diceritakan dengan cara yang paling menyakitkan bagi Blaugrana, namun paling indah bagi Nerazzurri.
(LC/GN)
sumber : www.flashscore.com
Leave a comment