Jose Mourinho di Benfica: Kembali ke Kandang, Akankah Sukses?
Kembalinya ‘The Special One’ ke Benfica, klub tempat ia memulai karier manajerialnya 25 tahun lalu, disambut sebagai momen penting bagi sepak bola Portugal. Ironisnya, Mourinho kini telah bertahan lebih lama di Benfica dibandingkan periode pertamanya.
Kepindahan Mourinho ke Benfica bisa dibilang merupakan sebuah penyesuaian setelah masa kurang memuaskan di Fenerbahce. Selama di Turki, hampir di setiap konferensi pers, ia menyiratkan ketidaknyamanan hingga akhirnya raksasa Turki itu memutuskan untuk berpisah dengannya.
Meski demikian, ekspektasi tetap tinggi terhadap Mourinho di Benfica. Setelah beberapa bulan menjalani tugasnya, bagaimana sebenarnya perjalanan sang pelatih di Estadio da Luz?
Awal yang Berliku bagi Mourinho
Jose Mourinho tidak bisa mengharapkan laga pembuka yang lebih baik saat timnya bertandang ke markas AVS Futebol SAD yang saat itu berada di dasar klasemen, hanya mengumpulkan empat poin dari 15 pertandingan tanpa satu pun kemenangan.
Benfica berhasil meraih kemenangan telak 3-0 berkat gol-gol dari Georgiy Sudakov, Vangelis Pavlidis, dan Franjo Ivanovic. Para penggemar pulang dengan gembira, berpikir bahwa mungkin saja mereka telah mendapatkan kembali Mourinho yang dulu mereka kenal dan cintai.
Namun, awal yang mulus itu diikuti dengan hasil-hasil yang beragam. Sebuah hasil imbang 1-1 yang mengecewakan melawan Rio Ave dan kemenangan tipis 2-1 atas Gil Vicente. Kemudian disusul kekalahan di Liga Champions saat Jose kembali ke Chelsea, yang secara keseluruhan tidak terlalu negatif, dan kemudian hasil imbang 0-0 melawan rival abadi sekaligus mantan klubnya, Porto, dalam sebuah derby.
Kekalahan 3-0 di Liga Champions dari Newcastle menjadi pukulan telak. Benfica sama sekali tidak mampu menandingi intensitas yang dibawa oleh tim Eddie Howe dan kalah dalam hampir setiap metrik permainan.
Newcastle berlari lebih jauh, menempuh jarak kolektif sekitar 110,2 kilometer, menguasai sebagian besar bola dengan 52% possession, dan menciptakan peluang di level yang tidak bisa dicapai Benfica. Mereka menciptakan lima big chances dan melepaskan 19 tembakan, sepuluh di antaranya tepat sasaran.
Kekalahan itu tampaknya menyulut api yang dibutuhkan Mourinho dan anak asuhnya. Sejak saat itu, mereka berhasil menemukan tingkat konsistensi yang diperlukan.
Benfica di Bawah Arahan Mourinho: Seperti yang Anda Harapkan
Ketika kita membayangkan tim Mourinho yang stereotipikal, tim Chelsea yang hanya kebobolan 15 gol di Premier League atau Inter Milan-nya yang berhasil meraih treble pertama dalam sejarah klub langsung terlintas di benak.
Nah, begitulah kira-kira cara bermain tim Benfica saat ini. Sejak Mourinho mengambil alih, mereka mencatatkan 12 clean sheet dari 21 pertandingan di semua kompetisi. Mereka juga hanya kebobolan 12 gol, meskipun dua tim teratas liga, Sporting (8) dan Porto (4), kebobolan lebih sedikit di liga.
Mereka memainkan formasi disiplin dan terstruktur 4-2-3-1 yang telah digunakan Mourinho di setiap klub yang ia latih, berfokus pada menjaga permainan tetap kompak dengan ‘winger’ yang bukan merupakan winger murni seperti Sudakov dan Fredrik Aursnes. Keduanya lebih suka memperlambat permainan daripada melewati bek lawan.
Meskipun demikian, Benfica tidak “memarkir bus” seperti yang mungkin banyak orang harapkan. Mereka berada di posisi kedua untuk xG (29,3), posisi kedua bersama untuk shots per 90 menit (5,9), keempat untuk big chances created (44), dan kedua untuk sentuhan di kotak penalti lawan (513). Mereka memang menyukai umpan panjang, dengan rata-rata 25,1 per 90 menit.
Pemain-Pemain yang Bersinar di Bawah Mourinho
Jawaban yang paling jelas adalah Pavlidis. Dengan 14 gol dari 15 penampilan sebagai starter di Liga Portugal, striker asal Yunani ini adalah top scorer bersama dengan rekan setimnya di Sporting, Luis Suarez (bukan Luis Suarez yang itu). Ia mencetak rata-rata satu gol setiap 95 menit. Ia memang menyukai tendangan penalti, tujuh golnya berasal dari titik putih.
Aursnes, yang bertindak sebagai pemain serbabisa (utility man), juga menjalani musim yang fantastis. Ia adalah tipe pemain yang dibutuhkan setiap klub, bersedia bermain sebagai kiper jika diminta, tetapi paling baru tampil sebagai winger kanan dalam hasil imbang 2-2 melawan Braga.
Pemain internasional Norwegia ini telah mencatatkan tiga gol dan dua assist, ditambah dengan 14 intersep, 70 recovery, 66 duel yang dimenangkan, dan 10 kali merebut possession di sepertiga akhir lapangan. Ia ada di mana-mana dan mudah untuk melihat mengapa Mourinho jelas sangat menyukainya.
Terakhir, ada Nicolas Otamendi. Masih ingat dia? Bek ini sempat menjadi sedikit “liabilitas” di Manchester City, tetapi ia menua seperti anggur terbaik di Portugal dengan 23 tekel yang berhasil, 48 recovery, 121 duel yang dimenangkan, dan 73 duel udara yang dimenangkan.
Garis Bawah
Sejauh ini, Mourinho belum jatuh ke dalam pola sabotase diri yang sering terjadi belakangan ini. Meskipun butuh sedikit waktu bagi para pemain Benfica untuk beradaptasi dengannya, dan sebaliknya, ada beberapa tanda positif yang muncul.
Mungkinkah ini akhirnya menjadi kembalinya Jose yang karismatik dan haus gelar?
(LC/GN)
sumber : www.tribalfootball.com
Leave a comment